Breaking News:

Luar Negeri

AS Terancam Konflik Berdarah, Donald Trump Mobilisasi Tentara

Kerusuhan yang terjadi di negara adidaya, Amerika Serikat (AS) tampaknya makin memanas. Demontrasi anti-rasisme yang dilancarkan seusai tewasnya

Editor: M Nur Pakar
AFP/ROBERTO SCHMIDT
Polisi yang didukung tentara bersenjata lengkap menangkap seorang pengunjuk rasa yang berdemo dekat Gedung Putih, Washington, AS, Senin (1/6/2020). 

Saat Trump berpidato, penegak hukum termasuk polisi militer menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa di luar Gedung Putih.

Sehingga presiden dapat berjalan di seberang jalan ke gereja St. pada Minggu (31/5/2020)

"Kita merupakan negara yang hebat," kata Trump saat berdiri di depan jendela gereja yang ditutup.

"Dia menggunakan militer Amerika untuk melawan rakyat sendiri ," tweeted calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.

"Dia merobek-robek pengunjuk rasa damai dan menembakkan peluru karet. Untuk sebuah foto. Untuk anak-anak kita, untuk jiwa negara kita, kita harus mengalahkannya," katanya.

Uskup Episkopal Washington, Marian Budde, mengatakan dia marah pada kunjungan gereja itu, yang menurutnya Trump tidak diizinkan datang.

Ribuan orang telah berpartisipasi dalam demonstrasi nasional melawan kebrutalan dan rasisme polisi sejak pembunuhan Floyd.

Itu adalah kerusuhan paling meluas di Amerika Serikat sejak 1968, ketika kota-kota terbakar dalam pembakaran atas ikon hak-hak sipil Martin Luther King Jr.

Banyak demonstrasi damai ditandai dengan momen-momen katarsis seperti petugas memeluk demonstran yang menangis dan berbaris atau berlutut di samping mereka.

Yang lain telah melihat bentrokan penuh kemarahan antara pengunjuk rasa dan polisi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved