Rabu, 27 Mei 2026

Jurnalisme Warga

‘Empieng Breuh’, Kuliner Pidie yang Kian Terpinggirkan

TAK bisa dimungkiri bahwa Pidie merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang semakin banyak dieksplore sehingga makin banyak

Tayang:
Editor: bakri
IST
MUHAMMAD SYAWAL DJAMIL, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie dan Pengajar di Sekolah Sukma Bangsa, Pidie, melaporkan dari Sigli 

OLEH MUHAMMAD SYAWAL DJAMIL, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie dan Pengajar di Sekolah Sukma Bangsa, Pidie, melaporkan dari Sigli

TAK bisa dimungkiri bahwa Pidie merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang semakin banyak dieksplore sehingga makin banyak melahirkan kekaguman. Tidak hanya bagi orang yang lahir dan bermastautin (bermukim) di Pidie, tapi juga bagi orang luar Pidie.

Diakui atau tidak, wilayah bekas Kerajaan Pedir ini menyimpan banyak sekali warisan sosial atau khazanah kebudayaan, seperti di bidang olahraga tradisi ada geudeu-geudeu, di bidang pertanian ada yok creuh dan langai, serta beragam warisan sosial lainnya.

Dan yang membuat kita semakin kagum pada Pidie ialah tersedianya banyak penganan tradisional yang juga menjadi kuliner khas orang Pidie. Sebut saja apam, siapa yang tidak mengenal apam? Semenjak puncuk kepemimpinan Pidie dipegang oleh Roni Ahmad atau Abusyik, eksistensi penganan tradisional yang satu ini menjadi semakin melangit. Meskipun tak bisa ditolak juga fakta lainnya: apam sering diplesetkan oleh banyak orang dengan sesuatu yang berkonotasi negatif.

Selain apam, di Pidie juga terdapat kuliner tradisional lainnya yang juga khas, yakni empieng breuh (emping beras). Empieng breuh tidaklah sepopuler apam, tapi sampai kini ia masih diproduksi dan dijajakan di pasar-pasar tradisional.

Saya yakin, generasi Pidie sekarang, dan generasi Aceh secara umum yang lahirnya di atas tahun 2000 tidak banyak yang tahu mengenai kuliner bernama empieng breuh. Jikapun hendak dikumpulkan secara acak, misalnya sebanyak 20 orang saja, maka bisa dipastikan 80 persen lebih tidak akan ada yang mengenal empieng breuh.

Empieng breuh  terbuat dari bahan baku, yaitu beras yang kemudian diproses dengan cara ditumbuk. Untuk menikmatinya bisa dilakukan dengan cara menambahkan gula pasir yang dicampur dengan parutan kelapa atau bisa juga langsung dinikmati begitu saja. Rasanya sangat renyah, apalagi yang baru siap diproduksi.

Di berbagai warung kopi yang ada di pelosok Pidie, misalnya di kampung-kampung yang agak pedalaman, empieng breuh masih agak mudah dijumpai. Banyak pemilik warung kopi yang menjadikan empieng breuh sebagai bagian dari varian khas minuman di warungnya. Ya, empieng breuh memang sangat nikmat bila disantap dengan pisang thok, yaitu pisang yang sudah dihaluskan dengan cara ditumbuk pakai tulang daun pisang. Selain itu, empieng breuh juga tak kalah nikmatnya bila ditaburkan ke dalam kuphi boh manok.

Punya nilai sejarah

Sedih memang membayangkan eksistensi empieng breuh  yang makin ke sini kian terpinggirkan. Padahal, emping yang satu ini memiliki nilai filosofis dan sarat nilai sejarah.

Konon, saat Aceh masih dalam masa perjuangan ketika melawan kolonial Belanda yang saat itu mereka sangat bernafsu untuk menguasai hasil alam Aceh, orang-orang Aceh yang terlibat dalam pergerakan perjuangan tersebut selalu membawa bekal makanan yang salah satunya adalah empieng breuh. Sama seperti kebiasaan para pejuang Aceh membawa lauk berupa keumamah (ikan kayu) ke hutan saat bergerilya.

Empieng breuh menjadi sumber amunisi energi mereka, saat lapar dalam pergerakan dari satu daerah ke daerah lainnya. Mereka, para pejuang mengganjal perutnya dengan empieng breuh saat bersembunyi dalam hutan dari kejaran marsose Belanda.

Lalu, kenapa empieng breuh jadi pilihan? Ini karena empieng breuh yang berbahan baku beras memiliki kandungan nutrisi tinggi dan ringan untuk dibawa-bawa. Tak hanya itu, empieng breuh itu awet, bisa disimpan dalam waktu yang lama meski tanpa pengawet.

Makanya, sebagai orang Pidie dan orang Aceh tentunya, kita patut menjaga eksistensi emping  yang legendaris ini. Hanya dengan cara itulah, secara tidak langsung, kita sudah merawat ingatan akan perjuangan para pendahulu kita dalam melawan para penjajah.

Kita patut bangga sekaligus bersyukur atas kegigihan pejuang Aceh dulu. Berkat dedikasi mereka, Aceh menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dikuasai dan dijajah Belanda. Bahkan, salah satu panglima angkatan perang Belanda yang sangat terkenal dengan kepiawaiannya dalam menyusun taktik dan strategi perang, Johan Herman Rudolf Kohler, menemui ajalnya di Aceh.  Dalam satu kesaksian, menjelang napas terakhirnya, Kohler sempat berucap; “O, God, ik ben getroffen!” (Ya, Tuhan, aku tertembak.)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved