Breaking News:

16 Juni 1948 dalam Sejarah

Hari Ini 72 Tahun Lalu, Ketika Soekarno Menolak Jamuan Makan Malam Saudagar di Hotel Atjeh

Adegan jamuan makan malam itu salah satu bagian penting dari episode keikhlasan rakyat Aceh mengumpulkan dana untuk pembelian pesawat terbang.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Replika pesawat Dacota DC-3 Seulawah RI-001 di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. 

(Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemrdekaan 1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang, PT. Gramedia, 1998)

Ketika Soekarno mengakhiri kunjungannya di Aceh pada 20 Juni 1948, dana yang terkumpul untuk pembelian pesawat itu berjumlah 120.000 dollar Singapura dan 20 Kg emas.

(Buku Sejarah Perjuangan Indonesian Airways, 1979, menyebut 130.000 Straits Dollar).

Dana tersebut dihimpun dari masyarakat Aceh oleh Panitia Dana Dakota (Dakota Fund) di Aceh yang dipimpin HM Djoened Joesoef dan Said Muhammad Alhabsji.

Adalah Opsir Udara II Wiweko Soepeno yang ditugasi membeli pesawat dari hasil sumbangan rakyat Aceh tersebut.

Selang tiga bulan kemudian, pesawat berhasil didapatkan, jenis Dakota milik seorang penerbang Amerika Mr JH Maupin di Hongkong.

Pesawat dengan kode VR-HEC itu mendarat di Maguwo Padang dan kemudian diregistrasi RI-001.
Adalah Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama “Seulawah” pada pesawat tersebut.

Dana dan emas yang terkumpul cukup untuk membeli dua pesawat dakota.

Pesawat sumbangan Aceh inilah yang kelak menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.

Hari ini, 72 tahun setelah peristiwa bersejarah itu terjadi, Hotel Atjeh tak lagi berbentuk.

Generasi Aceh saat ini hanya bisa membaca sejarah itu dari buku-buku dan catatan di internet.

Tak ada lagi catatan dan bukti fisik yang tersisa, atau foto-foto yang terpampang di dinding Hotel Atjeh.

Beberapa kali, Hotel Atjeh pernah ingin dibangun kembali sebagai pengingat sejarah, tapi beberapa kali pula rencana itu gagal dengan berbagai alasan.

Tapi, sejarah tetap tidak boleh terlupakan. Di sini, para Saudagar Aceh menjadi pilar utama yang memperkuat kemerdekaan Indonesia pada masa-masa awal dahulu. (Fikar W Eda)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved