Berita Politik

Kuasa Hukum Novel Baswedan Heran dengan Petinggi KPK, yang Disebutnya Tak Peduli Nasib Novel

Novel mengatakan, saksi-saksi yang berada di sekitar kediamannya juga menyangsikan kedua terdakwa merupakan aktor penyerangannya.

KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/2/2018). Novel kembali ke Indonesia setelah sepuluh bulan menjalani operasi dan perawatan mata di Singapura akibat penyerangan air keras terhadap dirinya.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG) 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Kuasa Hukum Novel Baswedan, Saor Siagian mengaku heran dengan petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak menyuarakan kepeduliannya terkait nasib yang dialami oleh Novel Baswedan. Khususnya, mereka tidak menyampaikan protes terkait vonis ringan terhadap pelaku penyerangan Novel Baswedan.

"Yang kami heran bahwa KPK tidak pernah peduli," kata Saor dalam diskusi daring, Minggu (21/6/2020).

Menurutnya, KPK seharusnya menerapkan obstruction of justice untuk menjerat pihak yang merintangi penyidikan kasus korupsi yang tengah ditangani oleh Novel. Hal itu juga selaras dengan rekomendasi Komnas HAM. Obstruction of justice adalah tindakan orang yang menghalang-halangi hukum.

Rekam Jejak Fredrik Adhar, JPU yang Tangani Kasus Novel Baswedan, Punya Harta Rp 5,8 M

Sebut Tuntutan 1 Tahun Penjara Berat, Kuasa Hukum Terdakwa Minta Bebaskan Penyiram Novel Baswedan

Sindiran Kasus Novel Baswedan Viral, Bintang Emon Disebut Pakai Sabu oleh Akun yang Diduga Buzzer

"Oleh karena itu, dengan apa yang dulu disarankan dengan Komnas HAM itu KPK bisa gunakan itu obstruction of justice dan saya kira ini kesempatannya," jelasnya.

Ia menuturkan, saat ini juga sudah banyak terkait ancaman yang diterima oleh sejumlah petinggi KPK lainnya. Hingga saat ini, pelakunya masih belum tertangkap.

"Saya kira kawan-kawan, Pak Agus (mantan ketua KPK, Red) dan Pak Laode (Komisioner KPK, Red) yang juga diserang. Saya masih ingat itu bahwa polisi kan berjanji tapi schedulenya bahwa tanggal tanggal sekian akan saya tangkap dan saya informasikan siapa pelakunya," katanya.

Masih Sanksi
Novel Baswedan hingga kini masih belum menyangsikan kedua terdakwa penyiraman air keras merupakan aktor di balik penyerangannya. Bahkan saat di persidangan, pihaknya sempat mengungkapkan kecurigaan itu.
Dua terdakwa kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan adalah Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Keduanya adalah personel Satuan Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Singgung Kasus Novel Baswedan saat Live dengan Hotman Paris, UAS: Masa Bangun Pagi Beli Air Keras

Komisi Kejaksaan Awasi Tim Jaksa Kasus Novel Baswedan

Kuasa Hukum Bandingkan Sketsa Penyerang Novel Baswedan dengan yang Asli: Dari Kasatmata Itu Berbeda

"Saat proses penyidikan selesai dilimpahkan kepada proses penuntutan, saya bertanya hal yang serupa apakah benar Jaksa meyakini bahwa dua orang ini adalah pelakunya? Apa latar belakang bukti dan hal yang membuat Jaksa yakin dengan hal tersebut?," kata Novel dalam diskusi daring, Minggu (21/6). Novel mengatakan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari penegak hukum.

"Saya tidak pernah mendapatkan jawaban. bahkan (Jaksa, Red) tidak terlalu memahami perkara tersebut. Karena itu hanya pelimpahan dari Kejati kepada jaksa di Kejari Jakarta Utara," katanya.

Novel mengatakan, saksi-saksi yang berada di sekitar kediamannya juga menyangsikan kedua terdakwa merupakan aktor penyerangannya. Beberapa tetangganya diketahui kerap melihat adanya sejumlah orang yang mengintai rumah Novel sebelum aksi penyerangan.

"Saya bertanya kepada mereka apakah yakin orang itu pelakunya? Sebagian mengatakan bahwa itu bukan pelakunya dan sebagian mengatakan mereka tidak yakin itu pelakunya. Dari situ saya melihat tidak ada satu pun yang mereka punya keyakinan atau sedikit keyakinan bahwa itu pelakunya atau mirip dengan pelaku," lanjutnya.

Dia juga menyayangkan penyidik yang tidak menjadikan rekaman CCTV di sekitar kediaman rumahnya untuk mengungkap siapa pelaku penyerangannya. Padahal rekaman tersebut berharga untuk mengungkap pelakunya.

"CCTV tersebut tidak diambil. Padahal satu minggu sampai dua minggu setelah penyerangan saya, CCTV itu pernah diambil kepolisian untuk membuktikan kasus penjambretan nasabah bank yang baru melakukan penarikan uang di dekat rumah saya. Artinya CCTV tersebut posisinya bagus, resolusinya bagus dan penyidik mengetahui bahwa CCTV tersebut bisa digunakan," katanya. (igman/tribunnetwork/cep)

Editor: Said Kamaruzzaman
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved