Breaking News:

Opini

Lancok Mengajari Dunia Tentang Kemanusiaan  

Bayangkan jika anak-anak kecil Rohingya di perahu yang malang itu adalah anak-anak kita, dan kaum perempuan yang lemah di situ adalah istri kita

Lancok Mengajari Dunia Tentang Kemanusiaan   
IST
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Oleh Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Bayangkan jika anak-anak kecil Rohingya di perahu yang malang itu adalah anak-anak kita. Dan kaum perempuan yang lemah di situ adalah istri kita, ibu kita, atau saudara-saudara kita. Sudah pasti mereka merasakan kedinginan dan kelaparan. Perahu malang yang mereka tumpangi itu berlayar tanpa tujuan. Terkatung-katung di atas samudera luas.

Kita tidak tahu mungkin seberapa banyak perahu-perahu malang semacam itu justru terhempas di tengah samudera. Yang jelas, tidak mungkin mereka dengan penuh sukarela memilih berada di perahu malang itu. Dari yang masih kecil sampai orang tua renta. Kita semua tahu bahwa mereka terusir dari tanah air mereka oleh tindakan genosida rezim militer Myanmar. Kondisi umat Islam di akhir zaman memang begitu memprihatinkan. Mereka seperti anak-anak yang tanpa ayah dan ibu.

Dan orang Aceh--seperti yang kali ini ditunjukkan warga Lancok-- memahami betul kepedihan semacam itu. Bukan saja karena alam mengajarkan kita untuk berkasih sayang, karena berbagai malapetaka pernah mendidik kita untuk saling tolong menolong, namun yang paling mendasar lagi adalah dorongan iman dan Islam di dada warga Desa Lancok, sebuah desa di Kecamatan Syamtalira Baru, Aceh Utara. Keyakinan Islam yang ditanamkan para endatu bangsa Aceh dari masa ke masa, telah mendorong sikap mereka memahami bahwa menolong sesama tidak perlu terikat oleh sekat-sekat teritorial. Kekuatan mereka adalah karena kepercayaan bahwa ada Allah Swt yang akan memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya.

Dalam video yang dibagikan BBC, ketika para wartawan menanyakan kepada warga Desa Lancok, jika diturunkan ke darat, apakah warga sanggup memberi makan imigran Rohingya ini. "Mampu, insya Allah mampu, "jawab Aples Kuari, salah satu warga Lancok.  Kalimat "Insya Alah" ini menandakan bahwa warga Lancok, dan juga masyarakat Aceh lainnya, memiliki sandaran yang sangat kuat, yaitu Allah. Artinya, mereka menghubungkan tekad mereka membantu Rohingya dengan Allah Sang Pemilik Alam Semesta.

Kalau kita menyimak orang-orang tua kita di kampung, mereka memang selalu menyandarkan segala sesuatu kepada Allah Swt, ini sebagai suatu warisan peradaban Islam yang terus dilestarikan. Mereka misalnya mengatakan "Allah yang bi rizki ke makhluk". `Hana pue yo mandum kalheuh neu ato le Allah" dan kalimat-kalimat lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Aceh senantiasa menghubungkan eksistensinya di dunia ini dengan sang Pemilik Alam Semester.

Sebelumnya warga Lancok mengatakan, "Kamo akan tagun bu meu lhe mok sapo meunyo hana dibantu le pemerintah". Jawaban ini adalah "pukulan telak" orang desa kepada para elit, para penguasa. Dunia yang semakin individualis seringkali melihat bahwa membantu orang lain akan membuat kita susah. Ini adalah pandangan yang berlawanan dengan ajaran Islam. Rasulullah Saw memberikan garansi bahwa siapa yang membantu meringankan kesulitan saudaranya di dunia, maka Allah Swt akan membantu menyelesaikan kesulitannya di dunia dan di akhirat.

Tekad warga Lancok ini disebabkan pada awalnya terdengar kabar bahwa keputusan pemerintah dimana imigran Rohingya ini tidak akan dibawa ke darat. Perahu itu pada awalnya akan didorong kembali ke laut menjauh dari perairan Indonesia.

Mendengar sikap pemerintah seperti ini, warga Lancok tidak tinggal diam. Di video yang dibagikan BBC, ibu-ibu histeris mendesak imigran Rohingya ditarik ke darat. Seolah, yang di perahu itu adalah sanak family mereka yang sudah lama berpisah. Lalu warga pun bergerak ke laut menarik perahu malang tersebut.

Aksi warga Lancok membantu Rohingya ini betul-betul menjadi buah bibir masyarakat dunia. Dunia yang tak sanggup menghentikan berbagai kezaliman yang terus berlangsung di Myanmar dan berbagai belahan dunia lainnya, serentak memuji Aceh. Banyak media menulis kemuliaan orang Aceh ini. Elliot Fox menulis di Twitter, "Aceh Today: Humanity" (Aceh Hari ini: Kemanusiaan), dalam postingan foto pelukan hangat warga Aceh kepada salah satu lansia Rohingya yang difoto Chaedeer Mahyeddin dari AFP. Di tingkat nasional tidak ketinggalan sejumlah elit memuji aksi kemanusiaan orang Aceh.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved