Kupi Beungoh

Islam Kontemporer: Dari Ortodoksi ke Transformasi Sosial

Metode ini sebetulnya logis. Tapi banyak yang resisten. Karena dianggap terlalu berani. Menggeser tafsir literal ke tafsir moral.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Pengajar Sosiologi Hukum dan Pemikiran Hukum Islam, Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH 

Oleh: Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH

ISLAM selalu punya dua wajah. Satu wajahnya menatap masa lalu, menjaga apa yang diwariskan ulama klasik.

Wajah lainnya menatap masa depan, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak pernah terpikirkan seribu tahun lalu.

Dua wajah ini sering berlawanan arah. Yang satu sibuk menjaga ortodoksi. Yang lain sibuk melakukan transformasi.

Pertanyaan besar muncul: harus pilih yang mana?

Di sinilah pemikiran Islam kontemporer memainkan perannya. Tidak lagi sekadar menyalin kitab-kitab lama.

Tidak juga asal meniru konsep Barat. Tapi berusaha menyusun sintesis. Memadukan teks suci dengan konteks sosial.

Nama Fazlur Rahman penting disebut. Profesor asal Pakistan ini mungkin salah satu ikon pemikiran Islam abad ke-20.

Dia menawarkan metode yang kini disebut double movement. Gerak ganda. Sederhana saja: membaca Al-Qur’an dengan dua langkah.

Pertama, kembali ke konteks historis turunnya ayat. Kedua, menggerakkan nilai-nilai universal dari sana ke konteks kekinian.

Bahasanya gampang, tapi praktiknya rumit. Misalnya ayat tentang perbudakan. Di masa lalu, Al-Qur’an tidak langsung melarangnya. Tapi spiritnya jelas: membebaskan.

Maka gerak pertama adalah memahami mengapa perbudakan masih diakomodasi saat itu. Gerak kedua adalah membawa semangat pembebasan itu ke dunia hari ini, di mana perbudakan sudah tidak manusiawi lagi.

Metode ini sebetulnya logis. Tapi banyak yang resisten. Karena dianggap terlalu berani. Menggeser tafsir literal ke tafsir moral.

Di sinilah tarik-menarik terjadi. Antara ortodoksi yang nyaman dengan pola lama. Dan reformisme yang ingin Islam lebih hadir di tengah realitas sosial.

Kita bisa lihat polanya di Indonesia. Ada kelompok yang sibuk berdebat soal hukum musik, rokok, atau celana cingkrang. Ada pula yang justru gelisah melihat kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan. Dua-duanya mengaku sedang membela Islam.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved