Breaking News:

Salam

Layak Diapresiasi Vonis Mati terhadap Pasutri Bos Sabu

LINE Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mengangkat berita tentang pasangan suami istri (pasutri) tersangkut kasus narkoba

hand over dokumen pribadi
Juru Bicara Pengadilan Negeri Idi, Tri Purnama SH 

HEADLINE Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mengangkat berita tentang pasangan suami istri (pasutri) tersangkut kasus narkoba jenis sabu-sabu yang dijatuhi hukuman pidana mati. Pasutri itu, Faisal Nur dan Murziyanti, divonis dalam berkas perkara terpisah di Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur, tapi diadili oleh majelis hakim yang sama. Kabar tentang vonis mati bagi pasutri itu didapat Serambi dari Hakim Juru Bicara PN Idi, Tri Purnama SH di Idi, Rabu (2/7/2020).

Menurut Tri Purnama, Faisal dijatuhi hukuman mati karena aktif mengendalikan bisnis narkoba dari balik jeruji besi. Sedangkan istrinya memiliki peran dominan sebagai perantara antara suaminya yang sedang menjalani hukuman pidana penjara dengan jejaring mafia sabu.

Faisal sedang menjalani masa tahanan di Lapas Kelas II A Pekanbaru setelah divonis 18 tahun oleh majelis hakim Dumai tahun 2016. Namun, ia ulangi lagi perbuatan tersebut dibantu oleh sang istri.

Dari segi jumlah, sabu-sabu yang mereka bisniskan lumayan banyak, yakni 16 kg. Barang haram ini diselundupkan dari Malaysia ke Aceh yang dikendalikan Faisal melalui istrinya.Kemudian, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggagalkan saat sabu-sabu tersebut dibawa naik mobil Avanza ke Palembang pada 23 Agustus 2020 malam di Gampong Jalan, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Dari tangan dua pelaku yang merupakan suruhan Faisal, petugas BNN berhasil menyita satu tas jinjing dan satu ransel berisi 16 bungkus teh Cina yang isinya sabu-sabu dengan total jumlahnya 16 kg. Dua pelaku yang tertangkap itu akhirnya buka suara bahwa mereka “bekerja” untuk Faisal Nur yang dibantu sepenuhnya oleh sang istri. Polisi Aceh Timur pun menjemput Faisal ke Pekanbaru untuk diproses kemudian diadili di PN Idi.

Demikan pula istrinya. Ending dari permainan nekat ini adalah pasutri tersebut divonis mati. Kita layak memberi apresiasi tinggi terhadap majelis hakim di PN Idi itu yang diketuai Apriyanti MH. Selain ketua majelis, Apriyanti merupakan Ketua Pengadilan Negeri Idi. Keberaniannya bersama dua hakim anggota, Khalid MH dan Zaki Anwar SH, dalam menjatuhkan vonis mati terhadap pasutri itu patut diacungi jempol. Vonis ini tentunya bukan saja dapat menimbulkan efek jera dan penyesalan mendalam bagi kedua pelaku, tetapi juga akan menjadi pesan penting bagi bandar narkoba di dalam dan luar negeri bahwa Aceh bukanlah tempat yang cocok untuk berbisnis narkoba.

Di sini ada pendekar keadilan yang tak gentar sedikit pun dalam menghukum maksimal terdakwa meski mereka masih punya sel jaringan di luar sana, yakni mafia narkoba. Hukuman ini terbilang sangat pantas karena Faisal tak punya rasa kapok dan rasa penyesalan atas tindakannya meracuni anak-anak bangsa di Sumatra melalui bisnis narkoba  yang dia otaki. Ia juga ternyata bukan tipe suami yang baik.Terbukti, bukannya mencegah agar istrinya tak tergelincir ke bisnis haram ini, tetapi justru ia libatkan. Sang istri pun dengan kesadaran penuh mau melibatkan diri dalam bisnis terlarang ini. Sedianya, sudahlah suaminya dipenjara, dia jangan lari merintis jalan ke penjara karena kasihan nasib anak-anaknya.

Tapi ia tak pedulikan itu. Malahsecara dominan menggantikan posisi suaminya sebagai bos sabu untuk tetap berbisnis dengan mafia sabu teman bisnis suaminya. Atas semua rangkaian kejahatan yang tujuannya untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan mengorbankan banyak generasi bangsa ini, maka hukuman matilah yang pantas untuk mereka. Indonesia, dan terutama Aceh, negeri yang bersyariat Islam, sungguh tak memerlukan orang-orang seperti ini. Kita ikhlaskan saja eksekusi mati atas mereka. 

Untuk itu, Pengadilan Tinggi Aceh dan Mahkamah Agung mohon kiranya tidak mengabulkan upaya banding maupun kasasi pasutri jahat ini nantinya. Kalaupun mereka dipenjara lagi, sangat kecil kemungkinan akan berubah sikapnya ke arah yang lebih baik. Buktinya, sedang dipenjara saja Faisal tidak pernah insyaf dan menyesal untuk tak lagi melanjutkan kebiasaan buruknya. Maka, biar kematian paksalah yang akan mengakhirinya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved