Rabu, 8 April 2026

Luar Negeri

Palestina Perpanjang Lockdown Tepi Barat, Israel Darurat Virus Corona

Pemerintah Palestina di Ramallah, memperpanjang lockdown atau penguncian untuk mencegah virus Corona meluas.

Editor: M Nur Pakar
AFP/HAZEM BADER
Anggota keluarga seorang pria berusia 46 tahun yang meninggal dunia akibat virus Corona menangis jelang pemakamannya di Hebron, Tepi Barat, Palestina, Minggu (5/7/2020). 

SERAMBINEWS.COM, RAMALLAH - Pemerintah Palestina di Ramallah, memperpanjang lockdown atau penguncian untuk mencegah virus Corona meluas.

Di Tepi Barat, penduduk telah diperintahkan sejak Jumat (3/7/2020) untuk tetap berada di rumah.

Kecuali, bagi mereka yang perlu membeli makanan atau obat-obatan.

Pergerakan antar kota juga dibatasi dan penguncian akan berlangsung selama lima hari.

Pada Minggu (5/7/2020), Presiden Palestina Mahmoud Abbas memperpanjang keadaan darurat di wilayah itu selama 30 hari.

Dilansir AP, Minggu (5/7/2020), sebuah tindakan yang memungkinkan para pejabat untuk memberlakukan pembatasan virus Corona Palestina.

Termasuk memperluas penghentian operasi, melarang pergerakan antarkota dan mengerahkan pasukan keamanan.

Otoritas Palestina khawatir jika wabah itu tidak terkendali, hal itu akan membanjiri sistem perawatan kesehatan yang belum memadai.

Dalam dua minggu terakhir, otoritas kesehatan  telah melaporkan lebih dari 1.700 kasus virus Corona Palestina.

Khususnya di kota Hebron, Tepi Barat dan ratusan lainnya di Betlehem dan Nablus.

Tepi Barat telah melaporkan lebih dari 3.700 kasus sejak wabah dimulai dan 400 lebih telah meninggal.

Palestina Lockdown Lima Hari, Kasus Virus Corona Terus Meningkat

PBB Pecat Dua Staf Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata, Terlibat Asusila dengan Wanita Israel

Arab Saudi Catat Kematian Harian Tertinggi Virus Corona, Total Menjadi 1.916 Orang

Sekelompok Yahudi  Ultra-Orthodox Jews memakai masker saat berkumpul di depan pintu masuk kota tetangganya yang telah dilockdown di selatan pantai Kota Asdod, Israel pada 2 Juli 2020.
Sekelompok Yahudi Ultra-Orthodox Jews memakai masker saat berkumpul di depan pintu masuk kota tetangganya yang telah dilockdown di selatan pantai Kota Asdod, Israel pada 2 Juli 2020. (AFP/JACK GUEZ)

Sedangkan Israel memerintahkan ribuan orang dikarantina setelah program pengawasan telepon yang kontroversial dilanjutkan.

Sebuah pernyataan pada Minggu (5/7/) dari Kementerian Kesehatan Israel mengatakan banyak pesan telah dikirim ke Israel, setelah keterlibatan agen keamanan domestik, Shin Bet.

Harian Israel Haaretz melaporkan 30.000 orang lebih diberitahu harus dikarantina sejak Kamis (2/7/2020).

Setelah memberlakukan langkah-langkah ketat sejak gelombang pertama infeksi, Israel dan wilayah Palestina tampaknya telah menahan wabah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved