Sabtu, 2 Mei 2026

Luar Negeri

Palestina Perpanjang Lockdown Tepi Barat, Israel Darurat Virus Corona

Pemerintah Palestina di Ramallah, memperpanjang lockdown atau penguncian untuk mencegah virus Corona meluas.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/HAZEM BADER
Anggota keluarga seorang pria berusia 46 tahun yang meninggal dunia akibat virus Corona menangis jelang pemakamannya di Hebron, Tepi Barat, Palestina, Minggu (5/7/2020). 

SERAMBINEWS.COM, RAMALLAH - Pemerintah Palestina di Ramallah, memperpanjang lockdown atau penguncian untuk mencegah virus Corona meluas.

Di Tepi Barat, penduduk telah diperintahkan sejak Jumat (3/7/2020) untuk tetap berada di rumah.

Kecuali, bagi mereka yang perlu membeli makanan atau obat-obatan.

Pergerakan antar kota juga dibatasi dan penguncian akan berlangsung selama lima hari.

Pada Minggu (5/7/2020), Presiden Palestina Mahmoud Abbas memperpanjang keadaan darurat di wilayah itu selama 30 hari.

Dilansir AP, Minggu (5/7/2020), sebuah tindakan yang memungkinkan para pejabat untuk memberlakukan pembatasan virus Corona Palestina.

Termasuk memperluas penghentian operasi, melarang pergerakan antarkota dan mengerahkan pasukan keamanan.

Otoritas Palestina khawatir jika wabah itu tidak terkendali, hal itu akan membanjiri sistem perawatan kesehatan yang belum memadai.

Dalam dua minggu terakhir, otoritas kesehatan  telah melaporkan lebih dari 1.700 kasus virus Corona Palestina.

Khususnya di kota Hebron, Tepi Barat dan ratusan lainnya di Betlehem dan Nablus.

Tepi Barat telah melaporkan lebih dari 3.700 kasus sejak wabah dimulai dan 400 lebih telah meninggal.

Palestina Lockdown Lima Hari, Kasus Virus Corona Terus Meningkat

PBB Pecat Dua Staf Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata, Terlibat Asusila dengan Wanita Israel

Arab Saudi Catat Kematian Harian Tertinggi Virus Corona, Total Menjadi 1.916 Orang

Sekelompok Yahudi  Ultra-Orthodox Jews memakai masker saat berkumpul di depan pintu masuk kota tetangganya yang telah dilockdown di selatan pantai Kota Asdod, Israel pada 2 Juli 2020.
Sekelompok Yahudi Ultra-Orthodox Jews memakai masker saat berkumpul di depan pintu masuk kota tetangganya yang telah dilockdown di selatan pantai Kota Asdod, Israel pada 2 Juli 2020. (AFP/JACK GUEZ)

Sedangkan Israel memerintahkan ribuan orang dikarantina setelah program pengawasan telepon yang kontroversial dilanjutkan.

Sebuah pernyataan pada Minggu (5/7/) dari Kementerian Kesehatan Israel mengatakan banyak pesan telah dikirim ke Israel, setelah keterlibatan agen keamanan domestik, Shin Bet.

Harian Israel Haaretz melaporkan 30.000 orang lebih diberitahu harus dikarantina sejak Kamis (2/7/2020).

Setelah memberlakukan langkah-langkah ketat sejak gelombang pertama infeksi, Israel dan wilayah Palestina tampaknya telah menahan wabah.

Masing-masing melaporkan hanya beberapa lusin kasus baru sehari pada Mei 2020.

Tetapi pelonggaran pembatasan menyebabkan peningkatan dalam kasus-kasus baru dalam sebulan terakhir ini.

“Kami berada di puncak serangan Corona baru."

"Ini adalah wabah yang sangat kuat dan menyebar di dunia dan juga di sini, ”kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada pertemuan kabinet, Minggu (5/7/2020).

"Kami berada dalam keadaan darurat," katanya.

Dia menambahkan Israel perlu mengendalikan virus Corona ini lebih baik lagi.

Israel melaporkan 1.000 kasus baru pada Minggu (5/7/2020) atau tertinggi sejak wabah dimulai Maret.

Pemerintah Israeal membatasi pengunjung bar atau rumah ibadah, hanya 50 orang.

Warga juga diwajibkan memakai masker dan menjaga jarak sosial.

Israel pekan lalu mempekerjakan kembali badan intelijen Shin Bet untuk menggunakan teknologi pengawasan ponsel canggihnya untuk melacak warga Israel.

Khususnya yang telah melakukan kontak dengan orang-orang yang terinfeksi dan memberi tahu mereka harus karantina rumah.

Langkah itu biasanya digunakan untuk menggagalkan serangan dengan melacak pejuang Palestina.

Taktik kontroversial digunakan ketika wabah pertama kali muncul awal tahun ini.

Para pejabat membela praktik itu sebagai langkah penyelamatan jiwa.

Sebaliknya, kelompok hak sipil menyerangnya sebagai serangan terhadap hak privasi.

Analis mengatakan tindakan itu memungkinkan memaksa beberapa orang ke karantina.

Media Israel melaporkan dari ribuan pesan karantina di rumah, banyak warga mengeluh,

Mereka mengajukan banding atas permintaan karantina dan Kementerian Kesehatan kewalahan dan tidak diperlengkapi menangani tanggapan seperti itu.

Israel tampaknya telah meremehkan pandemi pada Mei 2020.

Saat itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan bangga mendesak warga untuk keluar rumah,

Mengambil kopi atau bir dan bersenang-senang.

Para kritikus menuduh di tengah kasus-kasus turun, Israel menurunkan penjagaannya, membuka kembali terlalu cepat.

Bahkan, gagal memanfaatkan waktu yang diperoleh untuk meningkatkan kemampuan penelusuran kontakn untuk menghadapi gelombang kedua.

Netanyahu, yang sebagian besar dianggap mampu menangani gelombang pertama, telah menderita dalam jajak pendapat publik dari pendekatannya kali ini.

Sejak awal wabah, pemerintah melihat 29.000 kasus lebih dan 330 kematian, serta 17.000 orang lebih telah pulih dari virus Corona Israel.

Pakistan melaporkan 93 kematian karena virus korona dalam 24 jam terakhir.

Sehingga meningkatkan kematian menjadi 4.712 orang sejak dimulainya wabahnya pada akhir Februari 2020.

Menurut pernyataan pemerintah pada Minggu (5/7/2020), sebanyak 3.191 kasus baru dilaporkan dalam 24 jam.

Dengan keseluruhan kasus menjadi 228.474 orang.

Hal itu juga menunjukkan penurunan yang stabil virus Corona dalam beberapa hari terakhir, tampaknya berasal dari penurunan pengujian.

Para pejabat mengatakan tes COVID-19 menurun karena banyak orang memilih untuk mengkarantina di rumah setelah mengalami gejala virus Corona Pakistan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved