Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Membangun Keluarga Qurani  

Keluarga merupakan wahana pembinaan dan pendidikan karakter (character building) yang sesungguhnya

Tayang:
Editor: bakri
IST
Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh 

Oleh Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Keluarga merupakan wahana pembinaan dan pendidikan karakter (character building) yang sesungguhnya. Peran ini sering diabaikan oleh sebagian keluarga modern saat ini. Tentu penyebabnya beragam, semisal kesibukan bekerja dan meniti karir, dominan aktivitas di luar rumah hingga alasan kelelahan dengan aktivitas yang digeluti setiap hari.

Akhirnya, pembinaan dan pendidikan karakter hanya mengandalkan guru di sekolah saja, tanpa ikut berpartisipasi keluarga di rumah. Padahal, peran keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter mulia pada anggota keluarga. Maka keluarga harus didesain sebagai wahana pembinaan dan pendidikan karakter anak di tengah munculnya ragam patologis sosial anak, semisal bullying, vandalisme, kriminalitas dan pergaulan bebas.

Keluarga tidak boleh hanya menjadi sekadar tempat istirahat dan singgahan anggota keluarga. Akan tetapi, keluarga harus kembali ke jati dirinya (khittah) sebagai pusat wahana pembinaan dan pendidikan karakter yang telah luntur selama ini. Inilah maksud merajut makna yang telah hilang dalam teori logotherapy yang dikembangkan oleh Frankl (1938). Sebab, kini banyak keluarga yang telah hilang makna dan disorientasi dalam mengelola anggota keluarga. Acuh tak acuh, abai dan tak peduli menjadi perilaku buruk yang mewabah di tengah keluarga modern saat ini. Jika ini dibiarkan maka akan berpengaruh negatif terhadap tumbuh dan kembang anak di masa mendatang.

Lebih lanjut, Alquran merupakan pedoman dan acuan dalam membentuk keluarga yang sesungguhnya. Alquran menukil ragam model keluarga sebagai cerminan bagi keluarga modern saat ini. Semisal, model keluarga buruk cerminan keluarga Abu Lahab (Qs. Al-Lahab: 1-5), keluarga mulia cerminan keluarga Nabi Ibrahim (Qs. Ash-Shaffat: 101-113), keluarga Imran (Qs. Ali Imran: 33-34), keluarga Luqman (Qs. Luqman: 13-19) dan lain sebagainya.Itu di antara deretan kisah-kisah (al-Qashash) keluarga yang diungkap dalam Alquran sebagai cerminan keluarga masa kini. Sebab itu, sudah selayaknya setiap keluarga bercermin dengan ragam model keluarga yang digambarkan Alquran sehingga dapat membangun keluarga qurani.

Berbasis qurani

Untuk membangun keluarga qurani diperlukan desain aktivitas rutin (home-work) yang berbasis nilai-nilai qurani (quranic of values). Di antaranya: Pertama, mengaktifkan shalat berjamaah bersama keluarga. Realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua anggota keluarga konsisten melaksanakan shalat berjamaah baik di masjid atau di rumah. Kadang hanya sebagian kecil anggota keluarga saja yang konsisten shalat berjamaah, sedangkan anggota yang lain abai terhadap shalat berjamaah. Di sinilah peran ayah sebagai kepala keluarga merangkul seluruh anggota keluarga agar melaksanakan shalat berjamaah bersama keluarga di masjid atau di rumah.

Hal itu sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Alquran bahwa: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa" (Qs. Thaha: 132). Shalat berjamaah akan menumbuhkan kekompakan dan kepedulian dalam keluarga. Maka rutinitas shalat berjamaah dalam keluarga diharapkan dapat memberikan energi positif untuk kebaikan keluarga dan dapat mecegah keluarga dari perilaku keji dan mungkar (Qs. Al-Ankabut: 45). Artinya, shalat dapat meningkatkan nilai spiritualitas dan mengubah perilaku buruk anggota keluarga menjadi mulia dan beradab (aversion therapy).

Kedua, menghidupkan rutinitas membaca Alquran di rumah. Profetik menganjurkan agar menghiasi rumah dengan bacaan Alquran, dan melarang untuk menjadikan rumah laksana kuburan yang jauh dari suara lantunan Alquran. Di samping membaca Alquran dapat menjadi sarana menenangkan dan menenteramkan jiwa, juga menjadi medium untuk merefleksikan petunjuk Allah Swt secara kolektif bersama keluarga.

Secara teologis membaca Alquran juga dapat mengusir kejahatan (setan) dari keluarga. Ironi bila ada keluarga Muslim tapi tak pernah dihiasi dengan lantunan Alquran, bukan mustahil inilah penyebab munculnya prahara keluarga. Dimana anggota keluarga terjerumus dalam perilaku destruktif dan amoral yang disebabkan mereka jauh dari Alquran.

Ketiga, menumbuhkan literasi keluarga. Menumbuhkan literasi merupakan perintah Allah Swt dalam Alquran. Alquran menegaskan bahwa: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan" (Qs. Al-`Alaq: 1). Di samping literasi dapat membuka cakrawala berpikir, ia juga bernilai ibadah bagi anggota keluarga. Maka keluarga perlu mendesain waktu luang di tengah wabah untuk menumbuhkan literasi, baik dengan membaca buku bersama, bedah buku hingga diskusi/ dialog keilmuan dalam keluarga.

Literasi dapat mengangkat derajat anggota keluarga di sisi Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam Alquran: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Qs. Al-Mujadalah: 11). Sebab itu, jangan sampai waktu luang hanya diisi dengan hiburan semata, semisal menonton televisi dan internetan. Akan tetapi, waktu luang ini harus memberikan manfaat untuk mengembangkan kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik anggota keluarga.

Tentu menumbuhkan literasi harus diawali dari orang tua, sehingga `virus baik' ini menular ke seluruh anggota keluarga. Memang diakui bahwa budaya literasi yang rendah telah menurunkan kualitas sumber daya manusia yang unggul. Realitas empiris menunjukkan, kini akses pendidikan lebih mudah tapi sedikit budaya literasi. Maka untuk memperbaiki kenyataan ini harus dipelopori oleh keluarga.

Keempat, membangun komunikasi intensif dengan seluruh anggota keluarga. Keluarga harus menyadari bahwa kurangnya intensitas komunikasi antaranggota keluarga menjadi faktor penyebab krisis keluarga (Willis, 2015: 14). Maka dalam Alquran selalu ditegaskan pentingnya komunikasi antara orang tua dengan anak. Dimana dialog ayah dengan anak diungkap pada 14 tempat (Qs. Al-Baqarah: 130-133, Al-An'am: 74, Yusuf: 45, Luqman: 13-19, Ash-Shaffat: 102 dll), dan dialog ibu dengan anak sebanyak dua tempat (Qs. Maryam: 23-26 dan Al-Qashash: 11) dalam Alquran. Data kuantitatif pun menunjukkan bahwa 60 persen anak-anak di Indonesia tidak rindu dengan ayahnya. Maka ayah harus memanfaatkan waktu luang dan meluangkan waktu untuk lebih intensif berkomunikasi dengan anak di rumah.

Kelima, mengajak keluarga berfilantropi. Giat filantropi merupakan wujud kedermawanan kepada kaum lemah dan marginal (mustad'afin). Sikap kedermawanan ini perlu ditumbuhkan pada setiap anggota keluarga, sebab ini perilaku kemanusiaan (humanism) dan disyariatkan dalam Alquran. Bahkan, orang yang abai terhadap kaum lemah dan marginal dianggap pensuta agama (Qs. Al-Ma'un: 1-3). Maka hal ini penting diajarkan kepada setiap anggota keluarga. Profetik berpesan bahwa Allah Swt mencintai hamba-Nya yang bertakwa, kaya dan dermawan yang dilandasi dengan keikhlasan (HR. Bukhari).

Jika hal ini dilakukan secara rutin maka lahirlah keluarga qurani dimana kehidupan keluarga diisi dengan aktivitas dan nilai-nilai qurani (Qs. At-Tahrim: 6). Tentu keluarga ini akan berevolusi menjadi masyarakat qurani, sehingga terwujud pula sebuah bangsa dan negara qurani (Qs. Saba': 15). Semoga!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved