Breaking News:

Berita Aceh Tenggara

Tambang Galian C Ilegal Bebas Beroperasi di Aceh Tenggara, Pemkab Rugi Miliaran Rupiah

Kabid Pendapatan BPKD Aceh Tenggara mengatakan, tambang galian C ilegal bebas beroperasi di Aceh Tenggara.

hand over dokumen pribadi
Kabid Pendapatan BPKD Aceh Tenggara, M Rizal Ketaren 

Laporan Asnawi Luwi | Aceh Tenggara 

SERAMBINEWS.COM, KUTACANE - Aktivitas tambang galian C atau stone crusher (pemecah batu) disinyalir ilegal di Aceh Tenggara, bebas beroperasi mengambil material galian C di Aceh Tenggara.

Bebasnya aktivitas exploitasi pertambangan di Agara terkesan adanya indikasi pembiaran. Buktinya, tambang galian C masih saja melakukan aktivitas exploitasi pertambangan.

Akibatnya, omset pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor exploitasi pertambangan galian C di Aceh Tenggara, Pemkab mengalami kerugian mencapai miliar rupiah.

Kabid Pendapatan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Aceh Tenggara, M Rizal Ketaren SE MSi, kepada Serambinews.com, Jumat (10/7/2020) mengatakan, tambang galian C ilegal bebas beroperasi di Aceh Tenggara.

Mereka sesuka hati mengambil material galian C di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas. Padahal, kata M Rizal Ketaren, izin operasional mereka telah mati.

Namun, aktivitas pengambilan galian C secara ilegal marak terjadi di Aceh Tenggara.

Aktivitas ini tidak bisa mereka hentikan di BPKD Aceh Tenggara, karena yang berwenang dari aparat keamanan yang berhak menertibkan aktivitas exploitasi pertambangan ilegal di Aceh Tenggara.

Ahli Epidemiologi Sebut Rapid Test Tidak Ada Guna, Malah Bisa Nambah Kasus Covid-19, Kok Bisa?

Seorang Ibu Galang Dana Untuk Operasi Payudara Anak Lelakinya yang Kian Membesar

Tak Sesehat yang Dibayangkan, 5 Sayuran Ini Dilarang Konsumsi Setiap Hari, Bahayanya Tidak Main-Main

Ke Depan, Warga Aceh Selatan Bisa Cetak KK Hingga Akta Kelahiran Sendiri di Rumah

Menurut dia, tambang galian C, AMP dan stone crusher di Aceh Tenggara sebanyak 21 pertambangan galian C.

Dari jumlah itu, 16 tambang galian C atau exploitasi pertambang yang sudah mati izin operasional dan juga tidak melunasi pajak galian C bertahun-tahun kepada Pemkab.

Namun, sangat bebas melakukan pengambilan material galian C secara ilegal di Tanoh Alas.

Akibat hal ini, menurut M Rizal Ketaren, mereka mengalami kerugian miliaran rupiah dari sektor pajak galian C, padahal pendapatan sektor pajak galian C untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Aceh Tenggara.

Menurut M Rizal Ketaren, pihaknya telah turun ke Dinas terkait di Banda Aceh, bahwa dari 21 tambang galian C atau jenis lainnya yang beroperasi di Aceh Tenggara, hanya lima tambang galian C atau AMP yang memiliki izin lengkap sesuai prosedur.

"Kalau pengusaha tambang galian C, stone rusher tidak melunasi pajak galian C, Pemkab tidak ada merekomendasikan untuk perpanjangan izin tambang galian C, stone crusher, AMPnya. Kita minta DPMTSP Aceh dan Dinas ESDM Aceh agar tidak memproses izin tambang galian C yang tidak melampirkan bukti lunas pembayaran pajak galian C," ujar M Rizal Ketaren.(*)

Istri Gerebek Suami Bermesraan dengan Wanita Lain, Pelakor Malah Nantang: Lakik Kau Cinta Sama Aku

Polda Limpahkan 5 Tersangka dan 7 Beko, Kasus Tambang Emas Ilegal di Sungai Mas

Ajaib, Awan Bentuk Lafaz Allah Hiasi Langit Pondok Gontor, Satu Santri Dinyatakan Sembuh dari Corona

Penulis: Asnawi Luwi
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved