Situs Budaya

Situs Cagar Budaya Benteng Indrapatra di Aceh Besar Kurang Dilestarikan dan Sepi Pengunjung

Kondisi benteng tersebut terkesan kurang perawatan dan kepedulian dari Pemkab Aceh Besar dan Pemerintah Aceh.

Serambinews.com
Wakil Ketua DPRK Aceh Besar dari Partai PKS, Zulfikar Aziz SE mengunjungi situs cagar budaya benteng Indrapatra. Minggu (12/7/2020). 

Laporan Asnawi Luwi | Aceh Besar 

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Wakil Ketua DPRK Aceh Besar dari Partai PKS,  Zulfikar Aziz SE  mengatakan, situs cagar budaya benteng Indrapatra di Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, kurang dilestarikan Pemerintah. Akibatnya terkesan tak terurus dan sepi pengunjung.

"Pemerintah harus mendata dan melestarikan situs cagar budaya yang ada di Aceh Besar. Ini merupakan sejarah yang harus dilestarikan dan menjadikan sebagai wisata religi, dan edukasi kepada generasi bangsa guna mengingatkan kepada mereka sejarah perjuangan pahlawan Aceh di Aceh Besar mulai dari jaman masa penjajahan dari masa ke masa,"ujar Zulfikar Aziz SE kepada Serambinews.com, Minggu (12/7/2020).

Kata Politisi PKS ini, di dalam sejarah benteng Indrapatra Benteng ini dibangun pada masa Kerajaan Lamuri pada zaman abad ke-17.

Sudah banyak aktivitas perdagangan antarnegara dan melibatkan banyak pihak luar, seperti bangsa India, Tamil, dan Siam, dan Arab pada saat itu. 

Dengan banyaknya pengunjung dari luar, dikhawatirkan pula adanya serangan-serangan dari bangsa yang ingin merebut wilayah Aceh.

Benteng ini, menurut sebuah sumber, pernah digunakan sebagai tempat pertahanan dari serangan Portugis yang menyerang ke dalam wilayah Aceh.

Menurut Zulfikar Aziz,  benteng indrapatra ini diperkirakan sudah ada jauh sebelum munculnya kesultanan Aceh Darusaalam.

Setelah munculnya kesultanan Aceh Darussalam, terutama pada masa sultan Iskandar Muda (1607-1636 Masehi), benteng ini pernah difungsikan sebagai pusat pertahanan utama untuk membendung serangan dan mengusir musuh dari arah Selat Malaka.

Namun, sekarang benteng tersebut terkesan kurang perawatan dan kepedulian dari Pemkab Aceh Besar dan Pemerintah Aceh. 

Pihaknya atas nama Wakil Ketua DPRK Aceh Besar, mengharapkan kepada Pemerintah Aceh agar segera melestarikan dan mempromosikan situs cagar budaya yang ada di Aceh Besar khususnya di Jalan Laksamana Malahayati di Gampong Ladong, Gampong Lamreh, apalagi Gampong Ladong dalam sejarah penjajahan belanda daerah yang bersejarah tempat pengintaian kapal musuh.

Di sisi lain, ditambah Zulfikar Aziz,  di Aceh Besar cukup banyak makam-makam bersejarah seperti makam para pahlawan Aceh yang gugur dalam pertempuran merebut Kemerdekaan dari Bangsa Belanda seperti di Gampong Lamreh.(*)

Usir Rasa Bosan Saat Jalani TC, Timnas U-16 Indonesia Adakan Tiga Lomba, Termasuk Hafal Alquran

Aneh! Inilah Ritual Percepat Kematian, Para Lansia Diberi Minuman Racun Agar Cepat Temui Ajal

Mobil Terjun Bebas ke Selokan, Pengemudi Langsung Pergi ke Klinik Setelah Kecelakaan

Jangan Sembarangan Beli, Saus Sambal Botolan Dengan Ciri Seperti Ini Bisa Sebabkan Kanker

Penulis: Asnawi Luwi
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved