Breaking News:

Opini

Alternatif Haji Tanpa ke Tanah Suci

Situasi pandemi Covid-19 menyebabkan pemerintah Indonesia sudah memastikan bahwa keberangkatan ibadah haji tahun 2020 ditiadakan

Alternatif Haji Tanpa ke Tanah Suci
IST
M. Anzaikhan, S. Fil.I., M.Ag Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Founder Komunitas Menulis Pematik Banda Aceh

Oleh M. Anzaikhan, S. Fil.I., M.Ag Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Founder Komunitas Menulis Pematik Banda Aceh

Situasi pandemi Covid-19 menyebabkan pemerintah Indonesia sudah memastikan bahwa keberangkatan ibadah haji tahun 2020 ditiadakan. Ini tentu sebuah berita yang mengejutkan banyak pihak khususnya mereka yang sudah mengantri jatah berangkat hingga puluhan tahun lamanya. Biasanya, saat memasuki bulan haji seperti sekarang, kini sedang ramai-ramainya aktivitas di sekitar gedung Asrama Haji, termasuk yang ada di Banda Aceh. Begitu juga pihak keluarga yang ikut mengantarkan hingga membuat badan jalan utama sering macet dan tak terkendali.

Namun apa mau dikata, keadaan mendesak demikian. Selain faktor kesehatan guna menghindari paparan Covid-19, aspek legalitas juga menjadi syarat penting agar bisa masuk ke tanah suci. Meskipun Pemerintah Aceh pernah mewacanakan bahwa Aceh bisa saja pergi dengan hak istimewanya, namun dari segala kesiapan yang ada, saya rasa tidak akan terkejar untuk berangkat haji tahun ini. Ini mungkin akan menjadi sejarah, dimana ibadah haji yang sakral setiap tahunnya akan dilakukan dengan mediasi yang berbeda.

Kendatipun secara implementatif ibadah haji tidak bisa dilaksanakan tahun ini, sesungguhnya Islam memiliki beberapa amalan alternatif yang ibadahnya setara dengan ibadah haji atau umrah. Sebagai agama yang mencerahkan, Islam memang memiliki berbagai solusi sehingga penerapan ajarannya lebih adil dan tidak memberatkan pemeluknya.

Sebagai contoh, Islam memberikan malam Lailatul Qadar sebagai bentuk anugerah bagi umat Nabi Muhammad yang usianya relatif lebih singkat (sekitar 65 tahun). Berbeda dengan umat pada masa nabi sebelumnya yang terkadang berusia ratusan tahun. Meskipun secara harfiah umur umat saat ini lebih singkat, namun secara spiritual (dengan adanya malam seribu bulan), maka umat Islam bisa meningkatkan kualitas umur (tambahan 75 tahun) setiap tahunnya andai memperoleh keberkahan Lailatul Qadar.

Terkait amalan alternatif bagi mereka yang tidak mampu atau tidak bisa ke tanah suci karena dampak pandemi, beberapa di antaranya adalah; pertama, mengabdi kepada orangtua. Dalam sebuah hadis dikisahkan, seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata: "Saya ingin ikut berjihad tapi saya tidak mampu."

Rasulullah kemudian bertanya: "Apakah orangtuamu ada yang masih hidup?" dia menjawab; "ibuku (masih hidup), lalu Rasulullah bersabda: "Tunjukkan kepada Allah baktimu kepada ibumu karena jika kamu telah melakukannya maka kamu seperti orang yang berhaji, umroh dan berjihad." (HR. Ath-Thabrani). 

Kedua, shalat berjamaah bagi mereka yang tidak mampu bersedekah. Dalam hadis disebutkan; "Bahwa ada sebagian sahabat bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya datang dengan pahala besar. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa, tapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Nabi Muhammad Saw menjawab, "Allah telah menjadikan shalat isya berjamaah bagi kalian sepadan pahalanya dengan haji, dan shalat shubuh berjamaah sepadan dengan umroh." (HR. Muslim).

Meskipun secara tekstual hadis ini diperuntukkan bagi orang miskin yang tak mampu bersedekah, namun pada kondisi dibatalkannya berangkat haji seperti sekarang, maka tidak ada salahnya menggantikan itu dengan meningkatkan shalat berjamaah guna memperolah ganjaran layaknya beribadah haji dan umroh. Setiap kesulitan ada kemudahan, bisa jadi dengan dibatalkannya perjalan haji tahun ini, maka Allah dengan sifat maha pemurahnya akan membuka pintu amalan lain yang sangat disayangkan untuk dilewatkan.

Ketiga, belajar atau mengajarkan kebaikan. Ternyata ibadah yang satu ini juga setara dengan amalan haji jika dilakukan dengan niat yang benar. Rasul bersabda yang artinya; "Barangsiapa yang pergi ke masjid, ia tidak menginginkan hal itu kecuali untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji, sempurna hajinya." (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved