Breaking News:

Salam

Harus Cepat Selesaikan Masalah TKI di Malaysia

Migrant Care, sebuah LSM yang bergerak dalam masalah perlindungan pekerja migran Indonesia, akhir pekan lalu menyatakan

Dok Lanal TBA
Personnel Lanal Tanjung Balai Asahan, mengamankan 30 TKI Ilegal yang ditangkap di perairan Sumut 

Migrant Care, sebuah LSM yang bergerak dalam masalah perlindungan pekerja migran Indonesia, akhir pekan lalu menyatakan, sebagian dari jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia menghadapi kesulitan di tengah pandemi Covid‑19, sedangkan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur dianggap tidak memberikan bantuan maksimal untuk mereka.

Alex Ong, Perwakilan Migrant Care di Malaysia mengatakan, perekonomian di negeri jiran itu masih sulit, meski sekarang pembatasan pergerakan orang di Malaysia sudah dicabut menyusul situasi Covid‑19 yang terkendali. "Banyak pekerja migran yang masih tidak bisa bekerja. Anak‑anak, mereka yang sakit dan lansia adalah yang paling rentan. KBRI tidak begitu responsif terhadap kesusahan para warga Indonesia yang sedang menghadapi krisis," tambahnya.

Tidak diketahui persis berapa jumlah pekerja migran Indonesia yang tidak memiliki dokumen sah di Malaysia. Namun, angka yang disepakati Migrant Care dan KBRI Kuala Lumpur ada sekitar 2,5 juta‑3 juta orang. Sedangkan pekerja migran resmi sekitar 1,2 juta orang.

Menurut laporan aktivis LSM itu, saat ini "Banyak yang kehilangan pekerjaan. Bantuan makanan sudah dihentikan. Banyak perusahaan yang tutup dan tidak memenuhi kewajiban membayar gaji sebelumnya.  Banyak hotel juga tutup dan pekerja migran di industri ini ikut merasakan akibatnya." Karena kondisi yang terpantau demikian sulit, maka Alex mempertanyakan peranan KBRI Kuala Lumpur dalam membantu migran.

Namun, pejabat di KBRI Kuala Lumpur membantah tudingan “berpangku tangan”. Sang pejabat malah merinci beberapa hal yang sudah dilakukan untuk membantu warga Indonesia selama pandemi Covid‑19. "Sejauh ini peran KBRI dalam membantu warga antara lain memberi keringanan biaya rumah sakit bagi yang sakit, menampung perempuan WNI yang perlu perlindungan di shelter (penampungan). Kita juga membantu kepulangan mereka yang selesai kasus, membantu mengurus masalah terkait hak tenaga kerja, membantu mediasi dengan agen dan majikan."

Yang mengeluh saat ini bukan hanya TKI illegal, tapi TKI dan pendatang resmi dari negeri lain ke Malaysia sekarang  juga tak gampang bisa keluar masuk negeri jiran itu. Sebagai contoh, harian ini kemarin melaporkan tentang Cut Raden (69) warga Pidie yang sudah delapan bulan tertahan di Malaysia.

Awalnya, ia hendak menjemput anaknya, T Zukfikar (38) yang mengalami stroke di sana. Namun, setelah berbulan-bulan mengurus proses pemulangan anaknya, ternyata Pemerintah  Malaysia memberlakukan penguncian (lockdown) secara nasional. Selama lockdown berlaku, siapapun tidak boleh keluar dan masuk ke Malaysia. "Saya sudah jual sawah untuk mengirim uang kebutuhan biaya makan ibu di sana," kata T Razali (52) anak kandung Cut Raden.

Begitulah, pandemo Corona sudah mengakibatkan banyak orang menderita. Bukan hanya di luar negeri, di dalam negeri juga berpuluh-puluh juta orang kini sedang hidup serba susah. Namun, susah di dalam negeri kita masih banyak tempat mengadu. Tapi, susah di negeri orang, saluran aduan kita sangat terbatas, yakni KBRI atau Konsulat. Maka, jika di sini tidak tertampung, saluran curhatan lain adalah LSM, Pers, dan media sosial.

Permasalahan seputar TKI legal maupun ilegal di Malaysia menjadi riuh setelah empat bulan lebih virus Corona tak menjauh dari bumi ini. Jadilah tahun 2020 ini merupakan tahun duka bagi TKI bahkan pendatang dari negeri lain di Malaysia. Sebagai contoh kasus terakhir adalah masalah Cut Raden tadi.

Sebenarnya permasalahan TKI di Malaysia ibarat fenomena gunung es yang kalau dibiarkan lama akan menyebabkan kerugian sosial bagi kedua negara. Menurut satu laporan beberapa tahun lalu, dalam setahun KBRI Kuala Lumpur harus menampung beribu-ribu kasus TKI yang lari dari majikan dan ratusan kasus kematian TKI di Malaysia. Itu belum termasuk data di empat Konsulat Jenderal RI di Penang, Johor Bahru, Kota Kinabalu, dan Kuching yang diperkirakan hampir sama dengan data kasus di KBRI Kuala Lumpur.                   

Kita berharap pemerintah pusat kita bekerjasama dengan pemerintah-pemerintah daerah bisa segera mengatasi kesulitan saudara-saudara kita di Malaysia di tengah pendemi yang belum kita tahu kapan akan berlalu. Toh, dia-diam selama ini banyak pihak di daerah berkontribusi membantu meringankan nasib TKI di luar negeri. Dan, Aceh sangat berkepentingan menyelesaikan masalah itu, karena banyak warga Aceh yang sedang menderita di sana.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved