Breaking News:

Seniman Berkarya

15 Tahun Damai Aceh, Puluhan Penyair Indonesia Tulis Puisi untuk Aceh

Menyambut 15 Tahun Perdamaian Aceh, sebanyak 65 penyair Indonesia menulis puisi untuk Aceh. Karya tersebut diterbitkan dalam satu antologi...

SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Pilo Poly, inisiator penerbitan antologi puisi untuk Aceh. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Menyambut 15 Tahun Perdamaian Aceh, sebanyak 65 penyair Indonesia menulis puisi untuk Aceh. Karya tersebut  diterbitkan dalam satu antologi  yang akan diluncurkan akhir Agustus 2020 ini.

"Ingatan kolektif kolegial terkait Aceh, rasanya perlu diperkuat dengan berbagai macam tindakan. Baik berupa opini, esai atau tulisan bersifat cerpen dan novel. Ingatan ini harus mampu merujuk berbagai kejadian di suatu tempat dalam satu waktu berbeda," kata inisiator pembuatan buku ini, Pilo Poly, Kamis (6/8/2020).

Pilo yang merupakan penyair Aceh kelahiran Pidie Jaya itu mengatakan, ide awal pembuatan antologi puisi tersebut untuk mengumpulkan sejumlah syair dalam rentang waktu sejak masa konflik, hingga perdamaian yang ditulis oleh berbagai penyair dari seluruh indonesia.

Menurut lelaki bernama lengkap Saifullah S itu, penyair adalah pencatat yang baik. Mereka menuliskan berbagai banyak persoalan di berbagai tempat dan waktu berbeda, termasuk menulis puisi tentang Aceh dan berbagai masalah yang dihadapinya baik pada saat masa lalu atau masa kini.

"Buku ini, tentu saja tidak dimaksudkan untuk mengecilkan atau pun membesarkan pihak manapun. Namun bertujuan guna memugar sejarah di suatu tempat dari beberapa waktu yang telah lalu, bahkan saat Aceh sudah masuk dalam masa damai ini," jelas dia.

RSU Datu Beru Takengon Tambah Ruang Isolasi Covid-19, Ini Jumlahnya

Ketiban Batu Meteor saat Buat Peti Mati, Viral di Media Sosial hingga Ditawar Rp 1 Miliar

Apalagi, tambah penulis buku Arakundoe itu, buku itu juga dibuat untuk menyambut 15 Tahun Perdamaian Aceh pada 15 Agustus 2020 nanti.

Sebagaimana diketahui, setelah tsunami meluluhlantakkan Aceh, beberapa bulan berikutnya, pertikaian antara RI-GAM masuk pada masa perdamaian, hingga melahirkan kesepakatan Helsinki yang ditandatangani kedua belah pihak di Helsinski, Finlandia, 15 Agustus 2005.

"Kita bahagia dengan kesepakatan damai itu. Dengan perdamaian, karena mampu menggerakkan masyarakat. Ekonomi jadi tumbuh. Masyarakat pun tidak lagi was-was untuk keluar malam, misalnya," kata Pilo, yang pernah menerima beasiswa Tempo Institute angkatan IV tahun 2017.

Diharapakan, antologi Bungai Rampai Puisi Indonesia tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat jatuh bangunnya Aceh dari masa 1989 hingga 2005 pasca penandatanganan Momerendum of Understanding (MoU) antara RI-GAM hingga melahirkan perdamaian.

Adapun penyiar yang ikut serta dari seluruh Indonesia antara lain, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, Fikar W Eda, LK Ara, Nasir Djamil, Isbedy Stiawan ZS, Rida K Liamsi, Ahmadun Yosi Herfanda, Fakhrunnas MA Jabbar, Salman Yoga, Husnu Abadi, Sulaiman Juned, Ayi Jufridar, Arafat Nur, Syarifuddin Arifin, Hasbi Burman, Herman RN, Ihan Sunrise, Putra Gara, Teuku Dadek dan lain-lain.(*)

Peringatan 75 Tahun Bom Nuklir di Hiroshima dari Little Boy jadi Origami Bangau, Ini Faktanya

Nagan Raya Mulai Terpapar Covid-19, Dinkes Kembali Pesan 3.000 Alat Rapid Test

Kapasitas Rumah Sakit Penuh, Dinkes Banda Aceh akan Cari Gedung Khusus untuk Isolasi

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved