Breaking News
Rabu, 8 April 2026

Berita Internasional

WHO Tak Jamin Keamanan Vaksin Sputnik V Buatan Rusia

WHO mengatakan, sebelum diproduksi secara massal, vaksin tersebut masih harus melewati tahap prakualifikasi.

AFP/Handout / Russian Direct Investment Fund
Vaksin virus Corona yang dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute, Moskow, Rusia pada 6 Agustus 2020. 

SERAMBINEWS.COM, SWISS - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak menjamin keamanan vaksin virus corona (Covid-19) Sputnik V yang diproduksi oleh Rusia.

WHO mengatakan, sebelum diproduksi secara massal, vaksin tersebut masih harus melewati tahap prakualifikasi.

"Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan prakualifikasi vaksin WHO. Tetapi sekali lagi prakualifikasi vaksin apapun mencakup tinjauan dan penilaian yang cermat dari semua data keamanan dan kemanjuran yang diperlukan," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, dalam jumpa pers di Swiss, seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/8/2020).

Sejumlah ilmuwan memang mempertanyakan keamanan dan data uji coba dari vaksin tersebut yang sejauh ini belum dipublikasi.

Alhamdulillah, Hasil Rapid Test Anak Bupati Aceh Singkil Negatif Covid-19

Menkes AS Harapkan Vaksin Virus Corona Disetujui Desember 2020

Langkah India Mencari Vaksin Covid-19  

Ayfer Ali, spesialis obat-obatan di Britain's Warwick Business School mengatakan, persetujuan cepat yang diberikan Rusia terhadap vaksin Sputnik V itu dapat memberikan efek buruk dari vaksin yang tidak terdeteksi sebelumnya, mengingat Rusia juga belum melakukan uji coba dalam skala besar untuk melihat apakah vaksin bekerja dengan aman atau tidak.

"Rusia pada dasarnya tengah melakukan eksperimen tingkat populasi besar," kata Ali, menyamakan persetujuan vaksin Sputnik V seperti eksperimen.

Francois Balloux, seorang ahli di University College London's Genetics Institute berpendapat, tindakan Presiden Rusia, Vladimir Putin dengan memberikan vaksin Covid-19 Sputnik V kepada putrinya adalah keputusan sembrono dan bodoh.

Ia juga mengatakan vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji coba secara tidak tepat adalah tindakan salah. Itu bisa menyebabkan bencana bagi kesehatan masyarakat.

Peneliti rekanan senior di Universitas Southampton, Michael Head, juga meragukan kemanjuran vaksin Sputnik V.

Dia menduga vaksin itu hanya diuji ke beberapa orang, dan pemerintah Rusia dinilai terlalu terburu-buru dalam menyetujui vaksin itu.

Menurut standar dunia, uji klinis tahap tiga sebuah vaksin harus melibatkan sekitar 10 ribu orang dan memakan waktu berbulan-bulan.

Jadi Pertama di Dunia, Putri Presiden Rusia Sudah Disuntik Vaksin Covid-19, Hasilnya Luar Biasa

Serangan Pesawat Nirawak Turki Tewaskan Dua Perwira Tinggi Irak

Almarhum Kadisdukcapil Pidie Meninggal Terpapar Covid, Sebagian PNS Masih Takut Masuk Kerja

Tahap itu juga dinilai menjadi satu-satunya tahapan eksperimen untuk menguji apakah vaksin itu aman dan manjur.

Sebagai perbandingan, uji tahap akhir vaksin di Amerika Serikat mewajibkan untuk diuji coba kepada 30 ribu relawan.

Meski banyak yang meragukan keampuhan dan keamanan Sputnik V, namun sejumlah negara sudah menyatakan minatnya membeli vaksin virus corona buatan Rusia itu. Israel salah satunya.

Menteri Kesehatan Israel, Yuli Edelstein mengatakan, negaranya sudah merencanakan negosiasi pembelian vaksin dengan Rusia. Sputnik V bakal dibeli jika terbukti manjur.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved