Selasa, 28 April 2026

Seniman Berkarya

Aman Dio dan Keasyikan Menelusuri Sejarah dan Budaya Gayo dari Era Kolonial

Ketertarikan Zulfikar Ahmad Aman Dio kepada sejarah Gayo semakin menjadi-jadi saat menemukan berbagai literatur dari era kolonial yang menyimpan...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Zulfikar Ahmad Aman Dio (kanan) 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

 

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Ketertarikan Zulfikar Ahmad Aman Dio kepada sejarah Gayo semakin menjadi-jadi saat menemukan berbagai literatur dari era kolonial  yang menyimpan banyak cerita tentang Gayo.  Selama ini,  cerita tentang Gayo tidak terangkat ke permukaan.

Ini antara lain, karena masih sedikitnya para sejarawan atau akademisi yang menaruh perhatian pada sejarah Gayo. Faktor lain,  literatur-literatur Gayo memang terbatas. Kisah Gayo lebih banyak terekam dalam bentuk sastra lisan yang dituturkan turun temurun, “kekeberen.”

“Banyak hal  tentang Gayo, baik seni, budaya, adat, sejarah dan sebagainya, yang kita belum tahu, ternyata sudah pernah ditulis dalam publikasi dan buku-buku penulis Belanda dan Jerman. Mereka datang ke Gayo dalam masa kolonial.  Saya kaget saat membaca semua itu, ternyata banyak teknologi sudah hadir di berbagai bidang di  Gayo. Tapi kemudian punah,” kata Zulfikar Ahmad Aman Dio dalam satu percakapan di sebuah kedai kopi Jalan Lebe Kader, Takengon, Aceh Tengah.

Salah satu teknologi yang pernah hadir dan mewarnai khasanah Gayo adalah teknologi tenun, logam, alat music dan lain-lain. Banyak kalangan tidak mengetahui bahwa ternyata di dataran tinggi itu, seratus tahun silam, berkambang teknologi tenun yang dikagumi oleh orang-orang Belanda yang datang ke sana. 

"Dulu di daerah ini ada alat tenun. Kain untuk pakaian dibuat sendiri. Benang, pewarnaan juga diolah sendiri. Semua ini sudah tidak ditemukan lagi sekarang,” kata Aman Dio, panggilan familiar untuk Zulfikar Ahmad. Di Gayo, seorang ayah akan dipanggil menggunakan nama anak tertua. Zulfikar Ahmad Aman Dio, artinya, Zulfikar Ahmad ayahnya si Dio. Dio adalah nama putra sulungnya. Begitul;ah tradisi di Gayo.

Pasien PDP yang Meninggal di RSUD Kota Sabang Dinyatakan Positif Covid-19

Ketua Golkar Aceh Minta Kader Perkuat Konsolidasi hingga ke Desa

Nova Iriansyah: Baru PT PIM Setor Modal untuk KEK Arun, Pertamina dan Pelindo 1 Nihil

Cerita tentang tenun Gayo ini ditemukan Aman Dio dalam  literatur berbahasa Belanda yang ditulis oleh orang Belanda. Antara lain buku karya penulis Belanda, EW Viruly, “Met De Camera A Door Nederlandsch-Indië.”

Viruly dalam buku itu, terkagum-kagum dengan cara berpakaian perempuan Gayo yang disebutnya berbeda dengan perempuan Aceh.

“Wanita Gayo menggunakan sarung, bukan celana panjang seperti di Aceh. Wanita Gayo menutup tubuhnya dengan baju dan berselimut kain panjang. Kain yang digunakan wanita Gayo adalah hasil tenunan sendiri,” kata Aman Dio.

Viruly, penulis yang berkelana di Indonesia pada tahun 1920-an itu, konon menyaksikan sendiri bagaimana wanita Gayo menenun kain di teras rumah panggung mereka.

Ditanya sejak kapan tenun Gayo ada? “Sejak zaman purba,” tukas Zulfikar Achmad merujuk temuan kerangka dan benda budaya di Ceruk Mendale yang berusia 8.000 tahun lebih.

Nova Iriansyah: Baru PT PIM Setor Modal untuk KEK Arun, Pertamina dan Pelindo 1 Nihil

Keterangan tentang lain tentang kain dan benang di Gayo ditemukan dalam buku yang ditulis C Snouck Hurgronje dan J Kreemer.

Zulfikar Ahmad menambahkan, saat itu orang Gayo melakukan pemintalan benang menggunakan alat pemintal terbuat dari kayu. Benang berasal dari tanaman kapas.

Aman Dio adalah “tiga seniman serangkai” yang sedang meneliti tenun Gayo. Dua rekannya Peteriana Kobat Inen Nami yang juga Ketua Tim dan Achriyal Aman Ega. Mereka menyebut diri sebagai ‘Tim Upuh Kio.’

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved