Breaking News:

15 Tahun Damai Aceh

15 Tahun Damai Aceh - Petinggi GAM Kami Rindu Aceh

"Kami rindu dengan Aceh, suatu saat kami pasti akan pulang. Namun semuanya tergantung dengan keamanan di Aceh," kata Malek Mahmud.

FP PHOTO/LEHTIKUVA / MATTI BJORKMAN
Mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Malik Mahmud (kanan, depan) dan mantan Ketua Perunding GAM (Menteri Kesehatan dan Luar Negeri) Zaini Abdullah (kanan) tiba di bandara Vantaa Helsinki, 27 Januari 2005. 

Artikel ini merupakan arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Senin 15 Agustus 2005, atau bertepatan dengan penandatanganan MoU Damai Aceh di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Artikel ini berisi ungkapan perasaan dua pemimpin GAM, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah, satu hari sebelum MoU Damai Aceh ditandatangani.

Sebagai bagian dari upaya merawat ingatan, sekaligus merawat damai di Aceh, artikel ini kami turunkan kembali pada peringatan 15 tahun Damai Aceh, 15 Agustus 2020, dalam topik “15 Tahun Damai Aceh”.

Berikut ini liputan lengkapnya.

“Petinggi GAM Kami Rindu Aceh”

HELSINKI - Perdana Meuntrou Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Maleek Mahmud, kemarin menyatakan kerinduannya untuk pulang ke Aceh.
Namun itu semuanya tergantung pada kondisi keamanan di Aceh.

"Kami rindu dengan Aceh, suatu saat kami pasti akan pulang. Namun semuanya tergantung dengan keamanan di Aceh," kata Malek Mahmud, yang dihubungi serambi secara ekslusive di Hanaasarii Hanaholmen, Helsinki, Minggu (14/8/2005) malam WIB.

Dalam kesempatan itu, Maleek Mahmud didampingi Menlu GAM, dr Zaini Abdullah dan beberapa petinggi GAM lainnya.

Hotel Hanasaarii terletak di luar kota Helsinki atau sekitar 10 kilometer dari Hotel Hilton tempat sebagian delegasi Indonesia menginap.

Menurut Malek Mahmud, masalah keamanan adalah faktor utama.

Halaman
1234
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved