Kisah Hidup Prof Dessy R Emril
Rintihan Sesal untuk Papa, Tsunami dan Panggilan Jiwa untuk Aceh (4)
Penyesalan terbesar dalam hidup saya, saya tidak sempat memenuhi panggilan papa saat beliau dalam kondisi sakit sampai akhirnya meninggal
Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
Tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh wakti itu membuat keluarga Dessy di Pekanbaru memintanya pulang ke kampung.
“Hanya papa yang satu-satunya bilang ‘Dessy kamu jangan tinggalkan Aceh di saat Aceh dalam kehancuran. Aceh masih membutuhkan kamu’ Padahal kesempatan saya untuk meninggalkan Aceh saat itu begitu besar. Apalagi UNRI saat itu sudah punya Fakultas Kedokteran,” kenangnya.
Ayah, bagi Dessy adalah sosok yang memegang teguh idealisme, bukti cinta dan pengorbanan.
Hati kecilnya menginginkan Dessy pulang ke Pekanbaru dan hidup bersamanya.
“Papa bercerita kepada teman akrabnya, dia sedih sekali saya tidak tinggal bersama beliau. Katanya, ‘saya sangat menginginkan minum kopi di rumah anak saya di sini’, itu diceritakan teman dokter papa saya waktu itu,” ungkapnya.
“Tapi idealismenya mengatakan saya tidak boleh meninggalkan Aceh, saya harus mengabdi di Aceh. Jadi sebetulnya papa saya melepaskan saya ke Aceh dengan air mata. Saya tahu papa sangat sayang sama saya. Tapi beliau merelakan saya mengabdi di Aceh, padahal kalau mengikuti hati kecilnya beliau ingin saya bersamanya, merawatnya di hari tua,” ujar perempuan berparas ayu itu.
Pada Mei 2005, ayahnya mendatangi Dessy di Jakarta.
Tidak disangka itulah pertemuan terakhirnya dengan sang ayah. Tiga hari berselang kemudian, sang ayah jatuh sakit.
Dessy diminta pulang ke Pekanbaru hari itu juga.
Tapi kondisi Aceh yang kacau balau tidak memungkinkan ia pulang segera.
Akhirnya ia harus merelakan ayahnya pergi untuk selamanya dan baru tiba di Pekanbaru saat papanya akan dikebumikan.
Dessy tidak pernah menyangka papanya akan “pergi” hari itu juga.
Karena beberapa hari sebelumnya papanya baru saja menemuinya di Jakarta.
Itulah terakhir kalinya dia berjumpa dan bercerita banyak tentang pendidikan dan keluarganya di rantau.
“Itu penyesalan terbesar dalam hidup saya, saya tidak sempat memenuhi panggilan papa saat beliau dalam kondisi sakit sampai akhirnya meninggal,” ujarnya.
Matanya berkaca-kaca saat menceritakan kembali pengalaman 14 tahun silam itu.
Ayah, nenek dan kakek adalah tiga sosok yang memberi pengaruh besar bagi perjuangan Dessy menggapai cita-citanya hingga menjadi guru besar seperti sekarang.
“Juga tante saya, sampai akhirnya ia telat menikah karena ikut mengasuh saya,” ujarnya dengan nada lirih.(*)