Seniman Berkarya
Achriyal Aman Ega, Rekonstruksi Alat Tenun dari Kaki Bur Jenjani
Merekonstruksi alat tenun Gayo, merupakan tantangan yang ingin dijawab Achriyal Aman Ega.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah
SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Merekonstruksi alat tenun Gayo, merupakan tantangan yang harus dijawab Achriyal Aman Ega.
Ia ingin kerja rekonstruksi ini membuahkan hasil yang tidak saja memutar jarum jam sejarah, melainkan juga memberi dampak ekonomi kepada masyarakat.
“Kalau alat tenun ini berhasil dibuat ulang dan digunakan untuk menenun, maka industri tenun akan tumbuh kembali. Dampaknya tentu bukan hanya soal revitalisasi budaya, melainkan juga ekonomi,” kata Achriyal dalam satu perbincangan di sebuah kedai kopi di jantung Kota Takengon.
Aman Ega merupakan “seniman tiga serangkai” sedang sedang fokus menuntaskan penelitian tenun Gayo, bersama Zulfikar Ahmad Aman Dio dan Ana Kobat Inen Nami. Aman Ega, diserahi tugas melakukan rekonstruksi alat tenun Gayo berdasar sumber-sumber literasi dan penelitian tersebut.
“Kita berusaha menciptakan alat tenun Gayo ini sesuai dengan yang pernah ada. Mulai dari bahan kayu, model, ukuran, warna, struktur dan sebagainya. Kita ingin persis dan apa adanya,” ujar Aman Ega.
Ayah dua anak ini, dikenal luas sebagai salah seorang seniman Gayo yang terlibat di banyak peristiwa seni budaya. Rumahnya di Desa Paya Tumpi, Takengon tampak sangat artistik dengan bahan-bahan kayu yang diolah sendiri. Rumah ini sering digunakan sebagai lokasi pembuatan video klip dan lokasi foto.
Seniman-seniman muda Gayo adakalanya menjadikan rumah Aman Ega sebagai tempat berdiskusi dan mengolah kreasi.
Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, ketika belum menjabat bupati, sesekali singgah ke rumah Aman Ega sekedar rehat dan melepas lelah.
Aman Ega aslinya berasal dari kaki Bur Jenjani, sebuah gunung di Kampung Hakim Bale Bujang. Ia menghabiskan masa kecil dan masa remajanya di sana, sebelum kemudian hijrah ke Yogyakarta melanjutkan pendidikan di Akademi Pariwisata.
Pulang dengan gelar BSc, Aman Ega memilih menetap di kampung halamannya itu.
Pengetahuannya di bidang pariwisata dan pergaulannya yang luas dengan kalangan seniman-seniman kreatif di Yogyakarta, mendorongnya untuk menggeluti dunia kreatif dan merangsang generasi muda untuk maju dan berkiprah dalam bidang seni budaya Gayo.
Ia menggerakkan lahirnya Sanggar Jenjani Bale, sanggar seni yang menghimpun anak-anak muda di kampung kelahirannya, Hakim Bale Bujang itu.
Ia sendiri memimpin sanggar Jenjani selama 1985-1990. Ia juga yang menjadi penata musik di sanggar itu.
Berbagai karya kreatif lahir, dan menjadikan Jenjanji Bale salah satu sanggar sangat diperhitungkan di Aceh Tengah kala itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tennunega.jpg)