Seniman Berkarya
Achriyal Aman Ega, Rekonstruksi Alat Tenun dari Kaki Bur Jenjani
Merekonstruksi alat tenun Gayo, merupakan tantangan yang ingin dijawab Achriyal Aman Ega.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Aman Ega juga ikut memberi inspirasi bagi berdirinya kawasan wisata Bur Telege dan terlibat langsung menata kawasan tersebut bersama-sama dengan warga dan pemuda Hakim Bale Bujang. Bur Telege, kemudian menjelma menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.
• Warga Aceh di Amerika: Covid-19 bukan Hoaks, Tiap Hari 1.000 Orang Meninggal di AS
• Setelah Eks Pendukung Prabowo Deklarasi KAMI, Kini Eks Relawan Jokowi Maruf Deklarasi KITA
• Kim Jong Un Beri Mandat ke Adiknya Kim Yo Jong untuk Kendalikan Semua Urusan Luar Negeri Korea Utara
Ketika Komponis Gayo, AR Moese membutuhkan manajemen untuk Sanggar Perajah yang didirikan Moese, Aman Ega diminta memimpin sanggar ini selama 1990-2008.
Perjalanan Sanggar Perajah juga ikut mewarnai perkembangan aktivitas seni di kota dingin itu. Di era ini sempat berlangsung Konser Musik Gayo di Takengon, Banda Aceh dan Jakarta.
Alat musik “perau, jangka, gerantung” yang diciptakan AR Moese tampil mewarnai panggung pertunjukan.
Aman Ega, memainkan alat musik perkusi “tubuh perau” dalam pertunjukan tersebut.
Lahir di kota dingin Takengon, 28 November 1956. Menikah dengan perempuan Gayo, Nina, mendapat anugerah dua anak, putra dan putri. Kini Aman Ega telah menjadi kakek.
Kedua putra-putrinya telah juga menikah dan mendapat momongan. Itulah sebabnya, di banyak publikasi media sosial, seperti facebook, Achriyal Aman Ega mengubah namanya menjadi “Awan Ruwes,” artinya, ia adalah kakek si Ruwes, nama panggilan cucu tertuanya.
Peran Aman Ega lainnya, adalah ikut ambil bagian dalam perkembangan pembuatan vide klip untuk musik. Ketika awal perkembangan teknologi video klip muncul, Aman Ega selama tiga bulan berangkat ke Bandung, khusus belajar editor video.
“Dunia digital berkembang sangat pesat. Saya tentu harus menyesuaikan dengan keadaan,” kata Aman Ega pada saat itu, ketika ia memilih kursus editor.
Karya-karya video klipnya banyak ditemui di sejumlah tayangan lagu Gayo dan puisi. Ia juga sutradara untuk karya-karya klip musik tersebut.
Aman Ega juga tidak lepas dari kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) sejak PKA III 1988.
Ia menjadi tim kreator kontingen Aceh Tengah dan Bener Meriah. Terlibat di banyak pertunjukan teater dan sastra.
Ketika Teater Reje Linge mementaskan naskah “Tungku” di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta 2000, Aman Ega bertindak sebagai penata cahaya.
Pengetahuan dan penguasaannya tentang musik dan sastra, membuatnya acap diundang sebagai juri berbagai lomba di Tanah Gayo.
Kiprah Aman Ega terus menggeliat di dunia seni dan budaya. Terakhir ia duduk di Majelis Adat Gayo Aceh Tengah dan menjadi penata musik “Munik Ni Reje” yakni pengukuhan bupati dan wakil bupati Aceh Tengah secara adat Gayo, dan pengarah acara “Munirin Ni Reje.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tennunega.jpg)