Selasa, 14 April 2026

Seniman Berkarya

Pilo Poly, Sosok Penyair di Balik Bunga Rampai "Seperti Belanda", Dari Konflik Aceh ke MoU Helsinki

Cekatan, energik dan pantang menyerah. Saat menyampaikan gagasan penerbitan buku bunga rampai puisi Indonesia, “Seperti Belanda; dari Konflik Aceh...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Pilo Poly, tampail dalam acara pertemuan penyair Nusantara di Meulaboh, Aceh Barat. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Cekatan, energik dan pantang menyerah. Saat menyampaikan gagasan penerbitan buku bunga rampai puisi Indonesia, “Seperti Belanda; dari Konflik Aceh ke MoU Helsinki” Pilo Poly  dihadapkan kepada sejumlah tantangan dan penentangan.

Tapi ia tak ragu. Ia jalan terus. Sehingga buku tersebut akhirnya rampung dalam bentuk PDF dan sekarang menunggu edisi cetak.

“Alhamdulillah, ringan rasanya. Setelah buku ini selesai. Bagian yang paling sulit dari sebuah buku adalah menghimpun karya penyair dari banyak tempat, dengan memilih satu tema; Aceh,” ujar Pilo, di Jakarta, Senin (24/8/2020).

Ketika pertama sekali Pilo menyampaikan gagasan menerbitkan buku yang didedikasikan untuk peringatan 15 tahun perdamaian Aceh itu, banyak yang meragukannya.

“Siapa penerbitnya? Siapa kuratornya? Apa syaratnya?” begitu antara lain pertanyaan yang dialamatkan kepada dirinya.

Kim Jong Un Disebut Sudah Koma Berbulan-bulan, Adiknya Akan Segera Ambil Alih Kekuasaan

Aparat Gampong Telusuri Rekam Jejak Pasien Positif Covid-19 di Aceh Barat

Abdya Kembali PBM Tatap Muka, Sekolah tak Ketat Terapkan Prokes Harus Tutup Sementara

Ada beberapa yang kemudian menarik diri dan menyatakan tidak ikut mengirimkan karya, dengan aneka alasan. Tapi Pilo tidak berkecil hati. Ia jalan terus. Sebab banyak juga memberi dukungan yang membuatnya makin bersemangat.

“Wajarlah, kalau kerja saya ini disangsikan, sebab memang penerbitnya belum ada. Saya menyatakan akan membiayai secara pribadi, kalau tidak ada yang bersedia membantu. Itu tekad saya. Yang penting buku ini jadi,” cerita Pilo.

Menurut Pilo, Aceh itu ibarat buku tebal yang tak habis dibaca. “Banyak sisi dan bagian yang terus kita  pelajari terus menerus. Kita baca ulang,” katanya.

Sampai batas waktu yang ditentukan, akhirnya ada ratusan karya yang masuk ke meja kurator Salman Yoga yang berdomisili di Takengon.

Salman, sesuai jadwal, juga menuntaskan kerja kurasinya dengan sangat baik. Semangat Pilo kian membuncah-buncah, tatkala Salman Yoga bersedia jadi kurator, pengamat politik dan intelektual Aceh Fachry Ali bersedia memberi prolog, dan aktris Christine Hakim bersedia menuliskan epilog-nya.

“Mereka semua  sosok yang luar biasa. Dengan rendah hati bersedia ambil bagian dalam buku ini. Sungguh sebuah penghargaan besar, saya rasakan,” ujar Pilo.

Buku tersebut memuat 97 puisi, ditulis oleh 67 penyair Indonesia. Nama-nama yang bergabung dalam buku itu, adalah sosok yang dikenal luas sebagai penyair. Hanya sebagian berasal dari generasi baru. “Semua puisi, bertema Aceh. Penyair merefleksikannya dalam bentuk karya yang sangat beragam,” ujar Pilo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved