Pesona Hamparan Alam dari Puncak Siron
DALAM beberapa hari terakhir saya dan teman-teman sibuk membicarakan Bukit Siron, tempat viral di Aceh Besar yang sangat diminati muda-mudi
OLEH INTAN MAKHFIRAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Ketua Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Siron, Aceh Besar
DALAM beberapa hari terakhir saya dan teman-teman sibuk membicarakan Bukit Siron, tempat viral di Aceh Besar yang sangat diminati muda-mudi. Karena penasaran, kami pun berniat ke sana. Minggu, (23/8/2020) pukul 10.00 WIB sepuluh orang kami menuju Bukit Siron.
Tinggal di kawasan Ujung Batee, membuat perjalanan menuju Siron memakan waktu lama. Ditambah cuaca panas, cukup memenatkan. Namun, saat memasuki areal persawahan pinggir gunung, udara yang tadinya berdebu dan menyesakkan berganti dengan udara segar.
Sepeda motor (sepmor) kami terus melaju, memasuki daerah Siron, sawah-sawah indah tadi kini berganti dengan pemandangan pepohonan dari hutan yang lumayan rimbun. Jalanan mulai berkelok-kelok, hingga tibalah kami di perbukitan Siron. Ada banyak bukit di sini untuk didaki. Kita hanya perlu memilih bukit mana yang mengena di hati. Kami memilih salah satu bukit yang tak terlalu tinggi. Tiba di lokasi saat tengah hari, kami putuskan untuk tidak langsung mendaki, mengingat matahari sedang teriknya.
Dari tempat kami duduk, tampak bukit yang menjulang tinggi dan hamparan rerumputan yang hijau. Terlihat sangat indah dan menakjubkan, membuat hati tak sabar untuk segera mendaki. Tatkala matahari tidak lagi terik, pandakian pun kami mulai. Untuk mencapai kaki bukit kami harus melewati sungai terlebih dahulu.
Aih, sungguh segar air sungai yang menyentuh kaki. Namun, bebatuannya agak licin, membuat saya tak berani melepaskan pegangan teman. Berhasil melewati sungai, selanjutnya kami berjalan mencari jalur menuju puncak. Siap dengan sepatu, topi, air minum, dan makanan yang ditenteng para lelaki, kami pun memulai pendakian. Awalnya, kami masih bisa santai, berjalan sambil bercengkerama, sungguh seru. Awan yang tadinya menghalangi sinar matahari, perlahan pergi ditiup angin, akhirnya kami harus menahan sengatan dari sang surya.
Semakin lama, perjalanan kami makin sulit. Tadinya kami bisa berjalan santai dengan dua kaki, kini tak lagi semudah itu, karena pijakannya kian terjal. Otot tangan pun kini diperlukan, untuk berpegangan pada bebatuan dan rerumputan lalu menarik tubuh ke atas. Tak lagi berjalan, kami harus memanjat, sedikit demi seditkit, sambil mempertahankan keseimbangan agar tidak jatuh.
Jalur hanya selebar satu tubuh, sehingga tidak ada teman yang berada di samping. Mereka berada di depan dan di belakang. Napas mulai ngos-ngosan, sesekali kami berhenti, tapi tidak boleh lama karena takut pijakan akan merosot. Rerumputan yang panjang membantu pegangan saat pendakian. Berbeda dari rumput yang biasanya, rumput di sini sangat kuat sehingga mampu menahan beban tubuh kami saat menariknya.
Saat setengah pendakian, akhirnya teman yang paling depan menemukan pijakan bebatuan yang sedikit besar, sehingga bisa digunakan untuk beristirahat. Bagai tangga, bebatuan bersusun dari bawah ke atas masing-masing kami coba mencari posisi duduk yang pas. Lalu mengontrol napas yang tersengal-sengal. Seorang teman merasa pusing. Kami putuskan untuk tidak langsung melanjutkan pendakian. Sambil menunggu kondisi sang teman membaik, kami berbincang-bincang dan minum air mineral. Matahari sangat tajam menyengat wajah, bahkan topi dan masker yang saya pakai tak mampu menghalanginya.
Usai beristirahat, kami lanjutkan perjalanan, kembali memanjat batu demi batu secara perlahan, menjaga keseimbangan. Napas ngos-ngosan kian bertambah saat teman-teman yang tak bisa diam terus saja mengoceh hal-hal lucu yang membuat kami bergelak tawa. Saat rute mulai kembali curam, para lelaki stay di atas dan menarik yang perempuan agar tidak terjatuh. Perlahan, tapi pasti, dengan tekad yang kuat kami terus saja mendaki dan mendaki. Hingga sampailah kami ke puncak Bukit Siron!
Saya langsung terpana melihat pemandangan menakjubkan di atas sana. Hamparan rerumputan hijau, bukit-bukit yang bertingkat-tingkat, serta angin sejuk yang membelai wajah. Rasa panas yang tadi menghantui kami, berganti dengan hawa sejuk dari perbukitan. Semua lelah terbayar sampainya di atas. Kami beristirahat sejenak, lalu memperbaiki penampilan yang sudah porak-poranda. Barulah kami berfoto ria mengabadikan keindahan puncak Siron.
Di atas sudah ada beberapa pendaki yang tiba duluan, lalu ada pula pendaki yang tiba setelah beberapa lama kami di atas. Sungguh, sebagai remaja tentulah paling tidak sekali saja merasakan perjuangan mendaki bersama teman-teman dan merasakan sensasi bahagia saat tiba di puncak.
Melihat foto-foto orang membuat kita ingin sekali mengikutinya. Namun, untuk mendapatkan foto bagus haruslah dibayar dengan usaha yang keras. Kami gantian berfoto, mencari spot yang bagus. Beberapa ada yang memvideokan momen kami agar tak mudah terlupakan. Pemandangan elok yang memanjakan mata terlihat dari atas sini. Semua yang berada di bawah tampak sangat kecil. Ada pula pemandangan dari bukit yang bersembunyi di balik bukit lainnya. Makin lama, lokasi makin ramai. Ternyata ada banyak orang yang berminat mengunjungi lokasi ini. Bagaimana tidak, pemandangan indah yang ditawarkannya begitu menggiurkan.
Melihat ke bawah dari puncak bebukitan yang diselimuti hamparan hijau terlihat sangat indah memanjakan mata. Berada di sini kami benar-benar disuguhi panorama pegunungan yang sangat alami dan menyejukkan. Jauh dari keramaian, jauh dari lalu lalang kendaraan yang memekakkan telinga. Tempat ini telah membuat kita sulit beranjak, apalagi melupakannya.
Para pengunjung terdiri atas para muda-mudi yang datang bersama teman-temannya. Hal ini membuat tempat ini viral karena banyak yang memosting di media sosial. Hari berganti sore, awan cerah berganti awan mendung. Rintik hujan membasahi bukit Siron. Takut jalan akan makin berlumpur dan licin akhirnya kami putuskan untuk segera turun. Tantangan turun berbeda dengan tantangan saat naik. Kini tidak ada matahari yang menyengat, berganti dengan air hujan yang membuat basah kuyup. Kami turun sedikit demi sedikit secara perlahan, karena jalur mulai licin. Benar-benar licin, kami bahkan susah berdiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/intan-makhfirah-mah.jpg)