Selasa, 19 Mei 2026

Keanekaragaman Hayati

Manfaat Pisang di Gayo, untuk “Cecah” sampai “Pengobatan” Mistik

Hamid Hakim, Muawiyah Sabdin, Alamsyah M. Gayo , Basiq Djalil, Usuluddin Malik. Moderator diskusi Yusradi Usman Al gayoni.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Para narasumber dalam penelitian keanekaragaman hayati kerjasama IPB dan Ikatan Musara Gayo Jabodetabek di Jakarta, Sabtu (29/8/2020). 

Hamid Hakim, Muawiyah Sabdin, Alamsyah M. Gayo , Basiq Djalil, Usuluddin Malik. Moderator diskusi Yusradi Usman Al gayoni. 

Laporan Fikar W.Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - “Cecah awal” atau “sambal pisang” merupakan pengganti lauk dalam tradisi masyarakat Gayo.

“Cecah awal” ini menggunakan pisang muda dari “awal pisang berat” atau sejenis “pisang ambon.”

Menu “cecah awal” ini disampaikan dalam diskusi terpumpun atau FGD, diselenggarakan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Ikatan Musara Gayo (IMG) Jabodetabek) di Jakarta, Sabtu (29/8/2020).

FGD tersebut menghadirkan narasumber lintas generasi, Ahyar Gayo, Udin Musara, Prof. M. Dien Madjid, Prof. Ismail Arianto,

Hamid Hakim, Muawiyah Sabdin, Alamsyah M. Gayo , Basiq Djalil, Usuluddin Malik. Moderator diskusi Yusradi Usman Al gayoni.

Penelitian dimaksudkan untuk mengidentifikasi pengetahuan tradisional dan bahasa Gayo dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Kawasan Ekosistem Leuser, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues.

“Pisang muda diulek bersama campuran bawang merah, kemiri gongseng, dan ditambah empan atau andaliman,” jelas Hamid Hakim, 75 tahun, dalam diskusi itu.

Rasanya kelat, pedas dan rasa mint yang bersumber dari tanaman “empan” atau andaliman.

Vaksinasi Massal Januari 2021  

Kunyit Bermanfaat untuk Tubuh, Mengobati Borok Hingga Haid Tidak tak Lancar

Di Masa Sulit, Orang Gayo Manfaatkan Pohon Aren dan Batang Pisang jadi Makanan Ganti Nasi

Di Gayo terdapat beberapa jenis pisang yang oleh orang Gayo disebut “awal pisang nur, awal pisang berat, awal pisang abu, awal pisang waq, awal pisang keken, awal pisang reje,” dan lain-lain.

Jenis “awal pisang berat” selain enak dimakan saat matang, juga bisa dimanfaatkan ketika pisang masih muda, yakni untuk “cecah awal” tadi.

Selain itu, ada jenis pisang yang sering digunakan untuk pengobatan, namanya “awal pisang nur.” Biasanya dilengkapi dengan “bertih” atau butiran gongsengan padi, ditambah pulut kuning atau ketan kuning, dan telur ayam.

Ini biasanya untuk pengobatan jenis mistik.

Ahyar Gayo menjelaskan, “awal pisang nur” yang masih muda atau belum matang, juga bisa sebagai obat maag.

Ia mengaku dirinya acap memanfaatkan “awal pisang nur” muda untuk maag yang ia derita. “Langsung makan, dengan getah-getahnya,” ujar Ahyar yang juga Ketua Ikatan Musara Gayo (IMG) Jakarta.

Kemudian ada lagi “awal pisang abu” bisa digunakan untuk pisang goreng dan daunnya bagus untuk pembungkus.

“Awal pisang keken,” bagian intinya batang bisa dijadikan makanan pengganti nasi.

Tapi buahnya tidak dimakan, sebab mengandung banyak biji.

Tapi daunnya lentur seperti tisu dan bermanfaat sebagai pembungkus nasi dan kebutuhan pembungkus lainnya.

Hamid Hakim menyebut masih ada pisang berwarna ungu, tapi ia mengaku lupa namanya.

“Warnanya agak ungu, isinya putih,” ujarnya.

Udin Musara menginformasikan adanya “awal pisang kapal” yang batangnya tidak tinggi. “tapi umurnya juga pendek,” cerita Udin Musara yang juga dikenal ceh atau penyair seni didong.

Selanjutnya ada lagi “awal pisang emas” yang warnanya kuning seperti emas.

Pisang ini terbilang istimewa juga dan sering digunakan untuk pengobatan. “Kita juga mengenal ‘awal pisang waq’ banyak ditanam di kampung Waq.

Masyarakat pesisir sering menggunakan pisang ini untuk dibawa melaut, konon sangat bagus untuk menangkal mabuk laut,” cerita udin Musara.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Ir. Arzyana Sunkar, MSc., yang juga dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, menjelaskan, eksploitasi spesies flora dan fauna memberikan dampak terhadap kelangkaan dan kepunahan spesies.

Begitu juga penyeragaman varietas tanaman/hewan budidaya juga menyebabkan erosi genetik.

"Karenanya, kami bersama IMG, mengadakan FGD ini untuk mengidentifikasi pengetahuan tradisional dan Bahasa Gayo dalam pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan Kawasan Ekosistem Leuser," ujarnya.

Ketua IMG, Ahyar Gayo menyambut kerjasama dengan IPB tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya, terutama Bahasa Gayo dan pengetahuan tentang tumbuhan yang terkait dengan kehidupan orang Gayo.

“Tentu sudah banyak yang berubah, mengingat perkembangan zaman.

Boleh jadi, banyak tanaman yang sudah hilang, karena sudah tidak dipergunakan lagi, maka dengan sendirinya, hilang pula Bahasa,” katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved