Makam Ulama
Tim Peneliti Universitas Samudra Temukan Makam Teungku Chik Mahmud Syah di Cot Girek Lhoksukon
Dia memberikan keterangan bahwa dari Lhoksukon ke Keude Bate 12 (KM-12), Kecamatan Cot Gireek, rutenya melalui Aleue Seunambu - masuk ke komplek PTP.
Penulis: Zubir | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Zubir I Langsa
SERAMBINEWS.COM, LANGSA - Setelah menelusuri Makam Meurah Gajah di Pedalaman Aceh Tamiang berapa waktu lalu, Tim Peneliti Universitas Samudra di Langsa, kembali menemukan makam kuno serupa di Cot Gireek, Lhoksukon, Aceh Utara.
Tim peneliti sejarah, Dr Usman Ibrahim MPd, Dr Bachtiar Akob MPd, dan Dr Imam Hadi Sutrino MSi, yang mengirim laporannya kepada Serambinews.com, Minggu (13/9/2020) menyampaikan, ditemukan situs ini berdasarkan informasi warga Cot Gireek, bernama Saiful, penjual gorengan di Gampong Ulee Gampong.
Dia memberikan keterangan bahwa dari Lhoksukon ke Keude Bate 12 (KM-12), Kecamatan Cot Gireek, rutenya melalui Aleue Seunambu - masuk ke komplek PTP.Nusantara-I Gireek-Simpang IV-R. Jaya sampai ke Dusun Geudubang (lokasi makam keramat).
Bapak Lukman selaku penjaga makam dan warga Dusun Geudubang menyebut namanya “Teungku Chik Tuteu Raya”, makamnya di areal perkebunan kelapa sawit.
Menurut Kajian A Hasjmy, ulama besar tersebut dikenal namanya ”Meurah Khair” (salah seorang dari keluarga sulthan Mahmud Syah Johan Berdaulat negeri Peureulak) bersama rombongannya pada tahun 434 H/1098 M.
Hijrah ke Tanah Datar (daerah Cot Gireek sekarang) dan membuka negeri baru di sana (sekarang namanya Dusun Geudubang, salah satu dari Kecamatan Cot Gireek).
Meurah Khair melakukan permulaan yang merintis negeri Islam di daerah Samudra/Pase.
Meurah Khair, bahwasanya rakyat umum menyebutkan sebagai “Meurah Giri” dan nama kecilnya adalah Maharaja Mahmud Syah.
• Dijamin Hemat, Ini 4 Tips Mudah Agar Mobil Lebih Irit Bahan Bakar
• Kemenag Pidie Jaya Awasi Proses Belajar di 71 Madrasah Secara Ketat
• TKA Cina di PLTU Nagan Capai 155 Orang, Semuanya Sudah Kantongi Izin Kerja
Baginda inilah yang dipandang raja pertama di kerajaan Samudra/ Pasai, yang memerintah pada tahun 434-470 H/ 1098-1134 M (Junus Djamil, 1968: 10).
Ia terkenal salah seorang Ulama Besar keluaran dari satuan anggota Dakwah Islamiyah Syiah Hudan Perguruan Zawiyah Cot Kala yang pernah jaya di zaman Kerajaan Islam Peureulak, di abad ke-13 Masehi atau sudah lebih kurang 800 tahun yang silam.
Dr Usman Ibrahim MPd, menjelaskan, pada awal mulanya sewaktu mencari jejak lokasi pusara Meurah Khair itu, masih samar-samar alias belum diketahui makamnya.
Tim peneliti waktu itu sambil berjalan dengan mobil, bertanya pada setiap warga di sepanjang jalan menuju ke Cot Gireek.
Jawaban mereka tidak tahu, lokasi makam tersebut. Tetapi yang ditemukan pada permulaannya adalah pusara pusara Teungku Chik Muhammad Jacob di Blang Peuria, Geudung Samudra.
Ketika pulang dari Sigli ke Langsa, Jumat, tanggal 29 Agustus 2020, tim peneliti dari Universitas Samudra menginap di Lhoksukon satu malam, besoknya jam 07.30 WIB mereka berangkat ke Cot Gireek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/peneliti-9494.jpg)