Breaking News:

Jurnalisme Warga

Destinasi Taman Siswa dan Kopelma Darussalam

MENCERMATI situasi dan kondisi pendidikan saat ini izinkan saya mereportasekan khazanah gerakan Taman Siswa dan Kota Pelajar

Destinasi Taman Siswa dan Kopelma Darussalam
IST
ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

OLEH ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

MENCERMATI situasi dan kondisi pendidikan saat ini izinkan saya mereportasekan khazanah gerakan Taman Siswa dan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam.  Dua objek yang saya sebutkan ini adalah geografis pendidikan yang sarat dengan nilai sejarah nasional dan ciri khas dinamika pendidikan nasional. Sehingga, kedua objek tersebut layak direkomendasikan untuk dikunjungi, baik secara fisik atau pun melalui literatur.

Berdasarkan pengalaman saya, ketika mengunjungi dua lokasi objek “wisata” tersebut, pengunjung bakal merasakan sensasi pendidikan tradisional di era transisi pendidikan bangsa (1920-1959), beserta lika-likunya yang juga memiliki pertautan dengan kondisi pendidikan masa kini. Fokusnya, saat menelusuri gerakan Taman Siswa kita mendapatkan kesadaran begitu hebatnya dampak dari spirit kultural keindonesiaan dalam merumuskan pendidikan yang mulia untuk bangsa Indonesia.

Selanjutnya, saat kita  mengunjungi Kopelma Darussalam secara literatur, maka kita akan temukan program pendidikan yang memuliakan Aceh dan bangsa Indonesia dari sektor pendidikan. Sungguh banyak hal menarik lainnya yang akan dirasakan pengunjung (penelusur) dari dua objek wisata yang saya maksud pada judul reportase ini.

Seiring dengan ancaman pandemi Covid-19 sekarang yang secara statistik belum melandai, tawaran destinasi secara penulusuran literatur sangatlah strategis. Dengan pola destinasi seperti ini tidak mengharuskan para pengunjung untuk datang langsung ke lokasi wisata secara fisik, tetapi cukup duduk manis dan bersantai di rumah sambil membaca eksistensi dua objek wisata tersebut.

Selain tidak mengeluarkan biaya tinggi, pola destinasi seperti yang saya lakukan ini juga menggiring kita untuk satu langkah tidak berpotensi menjadi penyambung rantai penularan covid-19. Artinya, kita dapat berhemat, menjaga kesehatan, dan mendapat kesadaran historis tentang pendidikan yang baik untuk membentuk mentalitas atau kepribadian kita dalam memahami perkembangan bangsa Indonesia.

Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan, gerakan Taman Siswa (Sekolah Taman Siswa) dibentuk di Yogyakarta pada tahun 1922. Gerakan ini dipimpin oleh seorang bangsawan Jawa bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian berubah nama dengan sebutan Ki Hadjar Dewantara. Beliau kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Saat berusia 34 tahun, Ki Hadjar Dewantara tampil sebagai pemimpin yang bijaksana dalam melawan kolonialisme, menyatakan menolak budaya Barat yang di dalamnya teradapat nilai materialistik, serakah, dan gemar korupsi.

Proses awal pembentukan Sekolah Taman Siswa erat kaitannya dengan gerakan Selasa Kliwon (klub Jawa religius), Budi Utomo, hingga Partai Nasional Indonesia (PNI). Meski memiliki kaitan dengan tiga gerakan tersebut, Taman Siswa mampu tampil sendiri tanpa terpenjara oleh tiga gerakan yang ikut membentuknya dari belakang. Atas kemampuan tampil sendiri itulah Taman Siswa terkenal dengan gerakan yang fokus membenahi pendidikan yang waktu itu bersifat mempertahankan pendidikan tradisional, tapi moderat.

Selanjutnya, spirit gerakan Sekolah Taman Siswa kental dengan kultur Jawa, sehingga mampu mengubah mentalitas seorang bangsawan Jawa untuk berubah menjadi kesatria demi menjaga rakyat dan marwah bangsa. Filosofi gerakan kultural inilah yang kemudian menjadi motif  Soewardi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Informasi lebih mendalam terkait hal ini dapat pembaca lengkapkan dengan memahami wayang dengan karakter Semar yang melambangkan dewa saat menjelma menjadi manusia yang dikagumi.

Inti yang dapat diambil saat menelusuri gerakan Taman Siswa dapat dipahami bahwa gerakan tersebut kuat karena memiliki landasan kultural yang kuat (kultur Jawa) yang kemudian mampu berkontestasi dengan berbagai ideologi politik di masa itu (komunisme, islamisme, dan liberalisme).  Hasil kontestasi tersebut dalam tahapan selanjutnya Taman Siswa mengalami perkembangan pesat tanpa mudah diintervensi oleh politik rezim dan tetap fokus menjadi lembaga yang ingin membenahi pendidikan di Indonesia dengan spirit kejawen dan keindonesiaannya. Dalam konteks ini penulis menyebutnya sebagai ciri khas gerakan Taman Siswa dalam memperkuat pendidikan nasionalismenya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved