Berita Luar Negeri

Sudah 6 Bulan Warga China tak Positif Covid-19, Ternyata Begini Cara Cegah Virus Corona

Christopher Dye, profesor zoologi di Oxford Martin School, Universitas Oxford, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan yang dilakukan China.

Penulis: Syamsul Azman | Editor: Muhammad Hadi
AFP
Corona Belum Usai, Ribuan Warga Wuhan Pesta Tanpa Masker di kolam renang kota itu 

SERAMBINEWS.COM - China sebagai negara pertama yang dilaporkan kasus terjangkit Covid-19 di wilayah Wuhan.  

Saat ini memperlihatkan telah berhasil mengendalikan wabah dan kehidupan berangsur normal.

Melansir dari Newsweek, Sabtu (19/9/2020), 19 September menandai enam bulan China tidak memiliki pasien positif Covid-19, yang sebelumnya telah menginfeksi jutaan manusia di kawasan tersebut. 

Pada 19 Maret 2020 lalu, Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan bahwa 34 kasus, dilaporkan semuanya berasal dari luar negeri.

Amerika Serikat Blokir Tiktok, WeChat dan Huawei, China Langsung Membalas

Seperti Fast & Furious Rekaman CCTV Aksi Drift Truk Box Masuk Ke Halaman Pertokoan

Hal demikian menunjukkan China telah berhasil mengendalikan virus yang pertama kali dikenal di kota Wuhan, Hubei, akhir tahun 2019 silam.

Setelah 1.451 kasus virus tercatat pada 22 Februari, China belum melaporkan lebih dari 1.000 kasus setelah hari itu.

Angkat kasus positif hanya dua digit seperti pada 17 September lalu, dilaporkan hanya 41 orang didiagnosis terjangkit.

Sebaliknya dengan India, kasus kedua tertinggi setelah Amerika Serikat, yakni memiliki 97.894 kasus pada hari yang sama yakni 17 September.

TKI Asal Aceh Selatan Meninggal Ditikam, Ternyata Baru Seminggu Menikah Kembali Ke Malaysia

Jalan Al Imitiyaaz di Gampong Peunyerat Banda Aceh Berlubang-lubang Besar Hingga Air Menggenang

Pesawat Citilink Bawa Penumpang Positif Corona, Dilarang Terbang dari Jakarta ke Pontianak 10 Hari

Bagaimana China bisa mengalahkan Covid-19 ketika negara lain kesulitan membungkam virus ?

Setelah mendapat serangan awal virus corona, China mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghentikan penyebaran virus.

Termasuk melarang 760 juta orang meninggalkan rumah mereka, membangun rumah sakit dalam beberapa hari dan melakukan pengujian luas dan pelacakan kontak.

Pada tanggal 23 Januari, China menetapkan ancaman kesehatan publiknya ke tingkat tertinggi yang memerintahkan semua kota untuk menutup sekolah.

Heboh Ruang Penyimpanan Berkas Pasien Rumah Sakit Tiba-tiba Terbakar, Pasien Sempat Dikeluarkan

Mengisolasi pasien yang dicurigai dan dikonfirmasi, menyebarkan informasi tentang penyakit dan memberikan pemeriksaan kesehatan kepada para migran.

Penutupan tempat-tempat yang mengundang kerumunan juga dilakukan China, pertemuan umum dilarang di 220 kota dan segala transportasi dibatasi.

Dunia menyaksikan laporan muncul dari Wuhan dengan populasi 11 juta rumah sakit dibanjiri dengan pasien Covid-19 dan jalan-jalan mirip dengan kota hantu.

Setelah melewati masa-masa sulit, China mulai kembali bangkit, bulan lalu, foto pesta warga Wuhan mendapat sorotan.

TNI Kembali Gugur di Papua, Tertembak Dalam Kontak Senjata dengan KKB 

Orang-orang bersantai di air, merasakan dunia yang jauh dari apa yang dihadapi negara-negara lain, termasuk AS, India, dan Brasil, ketika berusaha mengendalikan wabah.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada bulan April, tindakan keras yang diambil oleh China dalam 50 hari pertama pandemi Covid -19 kemungkinan dapat mencegah 700.000 kasus.

Petingi KPU Diserang Covid-19, Kini Giliran Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi Positif Corona

Suami Tikam Istri Saat Mandi, Sempat Tuduh Selingkuh Hingga Pasang Alat Perekam di Kamar 

Christopher Dye, profesor zoologi di Oxford Martin School, Universitas Oxford, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan yang dilakukan China nampaknya berhasil. 

"Tindakan pengendalian China tampaknya berhasil, dengan memutus rantai penularan, mencegah kontak antara orang-orang yang menular dan rentan," katanya dalam sebuah pernyataan. 

Direktur Institut China di Universitas SOAS London Inggris, mengatakan China memberlakukan penguncian yang paling ketat, sehingga berhasil mencegah wabah. 

"China berhasil menahan virus dengan memberlakukan penguncian yang paling ketat dan menjaga agar penguncian terus berjalan sampai mengurangi transmisi lokal menjadi hampir nol.

"Itu diberlakukan secara lokal yang efektif. Penguncian ketika kasus baru muncul dan hampir menutup diri dari pengunjung asing untuk waktu yang sangat lama, wabah saat ini terkendali," katanya.

Heboh Video Cara Aceh Lindungi Khatib dan Imam di Masjid, Ini Faktanya

KEJAM! Suami Dorong Istri ke Jurang demi Dapat Uang Asuransi: Tak Disangka Istrinya Justru Selamat

Shenglan Tang, profesor kedokteran dan kesehatan global di Duke University di North Carolina, mengatakan kehidupan orang-orang telah berangsur-angsur kembali normal di banyak tempat, meskipun memakai masker masih sangat dianjurkan di tempat umum.

"Dibandingkan dengan negara lain, seperti AS dan Inggris, China telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mengendalikan pandemi sejak akhir Januari," kata Tang.

"Faktor keberhasilan penting lainnya bagi China adalah bahwa orang China memiliki kepercayaan yang kuat pada pemerintah dan bersedia bekerja sama dengan apa yang direkomendasikan oleh pemerintah dan para ahli," tambahnya. 

TNI Kembali Gugur di Papua, Tertembak Dalam Kontak Senjata dengan KKB 

Tsang mengatakan China sebagian dapat menerapkan tindakan karena sistem otoriternya.

Sulit bagi sistem demokrasi seperti di Eropa atau Amerika yang berhasil menahan virus, katanya.

"Negara demokrasi lain, terutama Taiwan dan Selandia Baru mengadopsi pendekatan alternatif yang juga berhasil," kata Tsang .

"Penguncian dilakukan dengan ketat di China. Jadi, ya, itu sangat efektif tetapi sulit diterapkan oleh orang-orang di negara demokrasi," ungkapnya. (Serambinews.com/Syamsul Azman)

TKI Asal Aceh Selatan Meninggal Ditikam, Ternyata Baru Seminggu Menikah Kembali Ke Malaysia

VIRAL VIDEO 3 ABG Diduga Mesum di Kandang Ayam, Digerebek Warga saat Buka Baju, Alasan Buat Tugas

Dilema Petani Kelapa Sawit di Musim Trek, Produksi Menurun Saat Harga Tinggi

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved