Jumat, 8 Mei 2026

Kupi Beungoh

1,3 Juta Laptop untuk Pendidikan VS Multi Years (Bagian I), Beda Cerita Mirna dan Seuhak

Publik tidak tahu, atau belum diberitahu tentang apa saja yang telah dilakukan sejalan dengan instruksi “daring” yang diberlakukan.

Tayang:
Editor: Amirullah
KOLASE SERAMBINEWS.COM
Ahmad Human Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Human Hamid*)

Di tengah tengah serangan Covid-19 yang terus menaik, hari ini kita sudah terbiasa mendengar sirine mobil ambulans yang meraung-raung tidak seperti biasa.

Kita juga sudah terbiasa mendengar berita kematian yang diumumkan oleh petugas masjid gampong setelah shalat subuh.

Di beberapa group WA, di mana kita menjadi anggota, setiap hari ada dua tiga berita musibah kematian yang menimpa keluarga atau pun kenalan.

Tidak kurang, kita juga mendengar ada keluarga atau sahabat yang sedang isolasi mandiri, atau sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

9 Fakta Timnas Indonesia Kalah dari Bosnia Herzegovina, dari Gol Bunuh Diri Hingga Ganti 10 Pemain

Cocok untuk Liburan Akhir Pekan, Ini 5 Wisata Pulau di Aceh yang Pantut Anda Coba

Kita menjadi terbiasa mendengar ada kedai kopi yang kurang laku, buruh angkut yang tidak ada pekerjaan, pesanan kue dan roti yang turun drastis, dan banyak supir angkutan umum yang nganggur.

Kita menjadi terbiasa dengan itu, sama halnya dengan terbiasa memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengikuti protokol lainya yang berhubungan dengan Covid-19.

Secara tidak sadar semua itu telah menjadi bagian dari keseharian kita, dan kita mulai menerimanya sebagai sesuatu yang normal.

Paling beberapa orang berpikir dalam waktu yang tidak lama lagi akan ada vaksin, dan kita akan kembali hidup seperti masa pra Covid-19.

Secara tidak sadar kita tidak melihat, atau tak mampu melihat, ataupun memang tak terlihat, tentang sebuah kematian perlahan yang sedang berjalan terhadap sebuah “gugus demografi” masa depan Aceh, anak-anak kita, para murid dan siswa.

Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Istri Muda, Siasat Suami Samarkan Pembunuhan jadi Bunuh Diri

Mereka sedang menjalani hidup, namun hakekatnya adalah menuju kematian, karena kehidupan masa depan adalah kehidupan kognitif, bukan kehidupan otot, kecuali untuk bina raga.

Kematian yang sedang terjadi itu adalah kematian pendidikan yang sedang dialami oleh sekitar 1.2 juta murid dan siswa di seluruh Aceh.

Ada guru, ada siswa, ada sekolah, tetapi Covid-19 telah membuat pendidikan tidak ada, dan itu telah berjalan sekitar 6 bulan.

Memang ada perintah daring, ada perintah tidak boleh berhenti belajar nonkelas, dan ada pula pengadaan berbagai alat peraga yang nilainya ratusan miliar yang tidak diberitahu relevansinya apa dengan proses belajar daring.

Kita juga tahu ada berbagai anggaran yang pada awalnya direncanakan untuk kegiatan tanpa ada Covid-19, tetapi kita tidak tahu apakah uang itu masih juga relevan untuk digunakan dalam keadaan seperti ini?

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved