Jurnalisme Warga
Berliterasi di Masa Pandemi
Masyarakat tak bisa lagi melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari sehingga banyak yang memilih beraktivitas dari rumah

OLEH INTAN MAKHFIRAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Ketua Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
HINGGA saat ini masa pandemi tak kunjung berakhir, bahkan kian meresahkan. Masyarakat tak bisa lagi melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari sehingga banyak yang memilih beraktivitas dari rumah. Belajar dari rumah, bekerja pun dari rumah (work from home). Covid-19 berdampak pada semua bidang, tidak terkecuali aktivitas literasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi merupakan kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Pemerolehan berbagai informasi pengetahuan tentu saja melalui aktivitas baca tulis. Ini menandakan bahwa literasi tidak dapat dilepaskan dengan kemampuan berbahasa. Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan pengertian litersi, yakni kemampuan individu menggunakan potensi yang dimilikinya dan tidak sebatas kemampuan baca tulis saja.
Budaya berliterasi harus dibiasakan oleh masyarakat karena berliterasi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi dan menggali pengetahuan bagi tiap individu. Literasi jangan dipikir hanya untuk menguntungkan negara, tetapi literasi juga merupakan kebutuhan warga. Ada begitu banyak orang yang akhirnya sukses melalui literasi. Hal ini dapat dilihat dari karya-karya literasi dari penulis atau pengarang hebat, fiksi maupun nonfiksi.
Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap literasi masih sangat kurang. Hasil studi yang dipublikasikan bernama “The World’s Most Literate Nations”, menunjuk Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana.
Salah satu faktor pendorong kurangnya minat masyarakat adalah rasa malas. Kebanyakan orang menilai bahwa membaca teks yang panjang adalah hal yang sangat menjenuhkan dan memikirkan ide untuk menulis juga memenatkan kepala, sehingga memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Tak hanya itu, kebanyakan individu lebih senang membaca buku atau tulisan yang banyak gambarnya. Hal seperti ini perlu dievaluasi, kita harus memperbaiki lagi pemikiran kita mengenai konsep membaca.
Pada masa pandemi, aktivitas literasi ikut berpengaruh. Pandemi juga mengubah aktivitas literasi dari kegiatan langsung atau tatap muka ke bentuk daring. Sebelum pandemi ada banyak pelatihan literasi yang dibuka secara umum. Pelatihan tersebut yang semula diadakan secara terbuka kini berganti melalui daring. Sebelum pandemi corona melanda, berbagai pelatihan literasi juga sudah dilakukan secara daring, tapi ketika pandemi, aktivitas literasi ini pun semakin sering dilakukan secara daring.
Berbagai penyelenggaraan event literasi ditiadakan atau digantikan secara daring. Pelaksanaan berbagai lomba literasi juga dibatasi karena minimnya anggaran. Covid-19 yang melanda telah membuat anggaran suatu lembaga atau pemerintahan menjadi terbatas. Apalagi pemerintah, banyak angggaran yang harus dialihkan ke penanganan Covid-19.
Selain itu, acara seperti bedah film atau bedah buku juga harus dilakukan via daring. Acara yang mengundang penulisnya langsung ini pun tak dapat dilakukan secara langsung. Jika biasanya kita dapat bertemu langsung dan menyaksikan orang hebat itu berbicara, kini kegiatan itu harus kita pendam dalam-dalam dan menggantinya dengan kegiatan videocall. Tentunya berbeda, tanggapan para pendengar akan sedikit kurang karena prosesnya dilakukan melalui layar kaca handphone/laptop.
Walau demikian, pandemi ini tidak hanya berdampak negatif, tapi juga berdampak positif. Namun, ada hal positifnya pula, di mana pada masa pandemi yang membuat kita bosan di rumah akan tertarik melakukan kegiatan daring guna mengasah bakat dan mengisi waktu kosong. Karena hal itu, kegiatan ini juga sedikit demi sedikit dapat membangun budaya literasi dan menjadi wahana mengasah bakat masyarakat khususnya di Aceh. Rasa bosan yang melanda juga mungkin menjadi faktor pemicu bagi orang yang hobi membaca dan menulis.
Kejenuhan di rumah telah membuat orang banyak mengakses tulisan melalui media digital untuk menambah pengetahuan atau sekadar hiburan. Bagi penulis berada di rumah merupakan kesempatan yang sangat baik dalam menuangkan ide, gagasan, dan pikiran. Hal ini juga suatu cara bagi penulis untuk mengusir kejenuhan. Mungkin dimulai dengan menulis hal-hal sederhana tentu dengan diawali dengan membaca tulisan orang lain. Kemampuan menulis memang tidak bisa dipisahkan dari ketekunan membaca. Bahkan ada adagium yang menyatakan: penulis yang hebat adalah pembaca yang lahap (membaca apa saja).
Tulisan yang kita buat akan membawa manfaat bagi orang lain. Bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Tentu juga menjadi suatu hal yang menginspirasi selain menjadi landasan bagi orang lain dalam bertindak dan berpikir. Intinya, tidak ada karya tulis yang sia-sia. Kemampuan menulis pastinya tidak hanya didapatkan begitu saja. Kemampuan yang mereka dapatkan telah banyak diasah dan telah melalui proses yang panjang. Nah, berada di rumah merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang hobi menulis untuk berproses dalam menuangkan ide.
Semangat literasi dalam menulis juga didukung oleh wadah atau publikasi seperti media massa cetak, media online, blog, media sosial, dan sebagainya. Apalagi media massa koran menyediakan rubrik untuk tulisan masyarakat yang dianggap layak, kemudian ikut dipublikasi. Hal ini sangat membantu untuk menarik minat penulis dalam berkarya. Akan lebih semangat lagi ketika media massa menyediakan honorarium bagi penulis yang karyanya dimuat.
Tak hanya media cetak, media online juga menyediakan wadah untuk mengembangkan minat dan skill masyarakat dalam hal menulis dan membaca. Seperti blog, di mana kita bisa menulis apa pun yang kita ingikan dan mempostingnya. Kita juga dapat membaca berbagai artikel yang ditulis orang-orang di blognya. Media massa telah menyediakan fasilitas menulis bagi mereka yang senang menulis artikel maupun karya lainnya. Bahkan di era saat ini, untuk memublikasikan tulisan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena kita kini tak harus membeli koran atau majalah. Kemudahan digital yang telah ditawarkan saat ini seharusnya dapat kita manfaatkan sebaik mungkin.
Bila ada hal positif yang bisa dilakukan, mengapa tidak dilakukan? Berliterasi di masa pandemi merupakan suatu hal yang positif. Selain akan mendapatkan informasi yang baik, kita juga dapat menghasilkan karya dan mendapat nama. Sehingga, saat masa pandemi berakhir kualitas individual kita menjadi lebih baik bukannya menurun. Rasa malas untuk berlitersi juga bisa kita singkirkan sedikit demi sedikit mulai saat ini. Buatlah lingkungan sekitar menjadi lingkungan dengan kegemaran literasi yang tinggi, dengan memberikan contoh dari diri sendiri, lalu meneruskannya dengan mengajak keluarga dan berlanjut ke kerabat, sahabat, dan masyarakat sekitar.
Lingkungan sangat berperan untuk membentuk kesadaran. Hal ini dapat dibantu oleh faktor internal yang didapat dari dalam diri sendiri. Selain itu, juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat sedikit demi sedikit mengembangkan budaya literasi, baik di masa pandemi maupun nanti, seusai pandemi.