Rabu, 3 Juni 2026

Kupi Beungoh

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (I)

Dawkins, profesor Zoologi yang kemudian berkembang dan fokus kepada sosiobiologi dan evolusi psikologi pada dasarnya mengeritik agama Katholik.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA, Guru Besar Unsyiah Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Human Hamid*)

Benarkah makhluk yang bernama virus hanya terbatas pada sosok organisme yang hanya bisa terlihat dengan mikroskop elektron?

Benarkah ada virus non biologi yang daya rusak dan bahayanya hampir sama dan bahkan mungkin lebih berbahaya dari virus biologi seperti Covid-19?

Jika istilah virus biologi diperkenalkan olle staf pengajar sekolah pertanian di Wageningen, Belanda, Martinus Beijerinck pada tahun 1898, maka virus mental diperkenalkan oleh Richard Dawkins pada tahun 1993.

Dawkins, profesor Zoologi yang kemudian berkembang dan fokus kepada sosiobiologi dan evolusi psikologi pada dasarnya mengeritik agama Katholik.

Ia kritis dengan nilai-nilai katholik dan model penyebarannya yang dianolagikan dengan virus non-biologi yang buruk dan merusak pikiran dan mental manusia.

Luhut Binsar Pandjaitan Temui Menlu China, Bahas Soal Investasi hingga Vaksin Virus Corona

Tiga Virus: Biologi dan Nonbiologi

Pakar virus mental yang paling terkenal adalah Ricard Brodie (2009) salah seorang programer kepercayaan Bill Gate yang kemudian keluar dari Microsoft, dan menjadi konsultan dan penulis buku.

Dalam bukunya yang paling terkenal Virus of the Mind (2009)- Virus Akal Budi-penerbit KPG, ia menguraikan perkembangan makhluk kecil yang berbasis biologi maupun yang nonbiologi dalam tiga bentuk yang kesemuanya merasuk ke dalam fisik dan jiwa manusia.

Brodie mendeskripsikan evolusi biologi yang kemudian melakhirkan makhluk kecil yang bernama virus yang mempunyai sifat yang tidak lazim, sehingga berkemampuan masuk ke dalam berbagai unit reproduksi mahluk lain, yang kemudian digunakan sebagai wahana penggandaan diri.

Inilah yang sebenarnya yang terjadi dengan berbagai virus penyakit manusia dan hewan, dan tumbuhan, termasuk di dalamnya virus Covid-19.

Sampai hari ini, paling kurang telah ditemukan 219 species (Woolhouse 2011) yang mampu menginfeksi manusia.

Sementara itu jumlah semua virus yang ada di alam, dan bersarang pada hewan dan tanaman tidak terhitung banyaknya dan diperkirakan berjumlah sama dengan bintang di alam semesta.

Dalam evolusi sosial dan teknologi yang berjalan selama ribuan tahun, namun berkembang cepat pada abad ke 20, muncul fenomena virus yang hidup pada jaringan digital kumputer, utamanya data dan program.

Kebalikan dari virus biologi yang ditemukan, virus komputer adalah sebuah entitas nonbiologis yang diciptakan dan diprogramkan.

Kasus “internet worm” yang melibatkan seorang mahasiswa Uiversitas Cornel, Robert Morris Jr (1988) yang tak sengaja membuat ledakan pertama dunia komputer dengan virus.

Kesalahan Morris adalah membuat program yang dapat memperbanyak diri sendiri yang kemudian disambungkan dengan jaringan komputer nasional pemerintah AS.

Seluruh AS heboh, sifat swa penggandaan program Morris merusak secara dahsyat seluruh jaringan komputer pemerintah, sementara Morris sendiri tak berdaya lagi mengontrol apa yang telah dia ciptakan.

Padahal ia hanya membuat kesalahan kecil, dan kesalahan kecil itulah yang menyebabkan lahirnya sang virus perusak dan membuat dia harus berhadapan dengan pengadilan atas tuduhan kriminal.

Virus Komputer hari ini terus menerus merajalela dan sampai hari ini tidak kurang dari 250.000 virus jahat -program malicious, setiap hari diciptakan.

Daya rusaknya macam-macam, dari yang paling kecil merusak kinerja komputer, sampai dengan menjebol rahasia negara, merampok uang secara digital, dan bahkan mempengaruhi pikiran pemilih dalam pemilihan Presiden.

Kasus yang paling terkenal adalah “malware Rusia” yang membuat Trump menang pada pilpres AS 2016.

Segenggam Kopi, Setetes Minyak Sereh, Sejumput Padi, Sumber Dana Perjuangan ALA

Virus Mental: Baik vs Buruk

Kelanjutan evolusi sosial manusia yang lain adalah hadir, atau ditemukannya sebuah virus nonbiologi yang disebut dengan virus mental yang hidup dalam sebuah ekosistem budaya, pikiran, dan gagasan.

Ini adalah virus yang menggerakkan perobahan, menentang perobahan, memanipulasi keadaan, menebar racun kehidupan, menciptakan kemajuan, dan membuat kebodohan sekaligus menggerakkan pembodohan.

Kenapa? Karena ia berasal dari gagasan, pikiran, dan hidup dalam ekosistem besar, budaya.

Bayangkan saja virus baik “entreperenurship" masyarakat Pidie yang telah melahirkan berbagai gugus kapitalis lokal, nasional, dan internasional yang terus berkembang dan menggandakan diri sendiri sampai hari ini.

Virus ini kemudian mejadikan mental banyak anak muda Pidie tentang pilihan hidup untuk percaya diri, kerja keras, hemat, dan tak berhenti berpikir untuk kaya.

Ini adalah virus mental lokal yang telah berevolusi sampai hari ini, awalnya mungkin pikiran, atau gagasan, lalu berbiak dalam ekosistem budaya.

Warga Gampong Aree Pidie Bangun Masjid Kedua di Gle Ceurih

Di lain pihak, bayangkan saja virus “proposal” yang telah berbiak sampai dengan hari ini yang telah menyeret banyak pihak di Aceh, terutama setelah proses damai dan kasus tsunami d Aceh.

Mulanya virus ini bertebaran di antara orang-orang baik yang mencoba menempuh logika kebenaran dalam berbuat sesuatu, namun dalam perkembangannya kemudian logika itu dibalikkan dan bermutasi dengan berbagai cara menjadi virus “pembenaran”.

Awalnya virus itu merebak dikalangan kelompok kecil yang rusak, namun kemudian menyebar dan menular, dan bahkan akhirnya orang yang seharusnya suci juga terjebak dan tertularkan dengan virus “proposal” ini.

Ini adalah sebuah contoh bagaimana virus mental yang pada awalnya baik, lalu berevolusi dan bermutasi menjadi virus yang merusak yang kemudian melumat banyak anggaran pembangunan propinsi dan kabupaten kota.

Walaupun ketiga virus tadi dalam pengamatan biasa sering dikaitkan sebagai parasit, dan penyusup yang berbuat sekehendaknya.

Namun unsur lain yang paling berbahaya adalah sifat mengandakan diri pada objek apapun yang tarpapar dengan mereka.

Ini artinya virus biologi, digital, dan mental mempunyai daya tembus, daya salin, daya sebar, daya ganda, dan daya perintah yang dahsyat.

Lihat saja deskripsi Covid-19 yang mampu menggunakan kelemahan apapun yang dimiliki individu, mulai dari immunitas, gaya hidup, sampai dengan kelemahan berbagai penyakit degeneratif lainnya.

Saudara nonbiologinya, virus mental, pada saat ini sangat cepat berkembang dengan revolusi komunikasi digital yang dapat merasuk seseorang, atau sekelompok orang untik merobah pola pikir, perilaku, dan bahkan akhirnya menjadi penyebar dan bahkan mejadi super spreader, virus mental yang sangat berbahaya.

Koalisi Virus Mental dan Covid-19

Secara akal sehat, cara yang paling gampang mengevaluasi kemanjuran pengendalian Covid-19 di berbagai tempat di dunia adalah dengan melihat keadaan secara keseluruhan.

Dalam konteks pandemi, keberhasilan dan kegagalan pengendalian selalu berurusan dengan sebuah pertanyaan besar, kenapa dan bagaimana?

Kenapa Cina, Vietnam, New Zealand, dan Korea Selatan, jauh lebih berhasil mengendalikan Covid-19 dibandingkan dengan AS, Inggris, Brazil, dan Peru, atau Mexico.

Kasus Virus Corona India Melampaui 7 Juta Orang, Para Ahli Keluarkan Peringatkan

Di lain pihak, di Indonesia, misalnya mengapa indikator pengendalian pandemi selalu menempatkan DKI, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Tengah berada pada gugus propinsi terbaik dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain.

Kenapa Aceh yang penduduknya hanya sekitar 5 juta, tidak mempunyai aktivitas ekonomi industri, tidak mempunyai pariwisata yang signifikan, bukan hub konektivitas udara, laut, dan darat,namun mempunyai indikator pengendalian pandemi yang buruk dan bahkan sangat buruk?

Tidak hanya itu bagaimana mungkin pula indikator pandemi Aceh menjadi jelek dengan keputusan refocusing APBA until Covid-19 menjadi 2.5 trilliun, dibandingkan dengan Sumatera Barat yang nomos 2 teratas nasional, padahal mempunyai dana refocusing APBD sedikit lebih dari 1 triliun rupiah.

Tidak hanya di provinsi, pada tingkat kabupaten pun sebenarnya nampak sangat banyak yang tidak beres.

Sesungguhnya bukankah angka propinsi juga merupakan resultante dari pekerjaan para bupati dan wali kota se Aceh?

Bukankah angka penularan, angka kematian, angka korban pekerja kesehatan, dan berbagai indikator lain di kabupaten kota se Aceh kemudian menjelma menjadi angka total provinsi keseluruhan?

Observasi keberhasian dan kegagalan pandemi menunjukkan banyak faktor yang berengaruh, namun satu hal yang tidak bisa diremehkan adalah sikap mental pemimpin dan rakyatnya.

Sikap itu kadang menyatu erat, kadang kurang, dan pada akhirnya berdampak pada sukses atau gagalnya pengendalian pandemi.(Bersambung)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved