Jurnalisme Warga
Mengenal Tasak Telu Aceh Tenggara
DALAM kehidupan sehari- hari, secara rutin kita melihat ibu ataupun kakak perempuan yang sering menyibukkan diri di dapur (memasak)
DALAM kehidupan sehari- hari, secara rutin kita melihat ibu ataupun kakak perempuan yang sering menyibukkan diri di dapur (memasak). Meskipun tidak semua, umumnya pekerjaan memasak selalu identik dengan kaum wanita, mulai dari menanak nasi, memasak sayuran, gulai, dan sebagainya. Semua itu akan disajikan untuk disantap bersama keluarga pada saat jam makan tiba. Namun, di Aceh Tenggara (Agara) ada masakan yang khusus dimasak oleh kaum laki-laki, masakan itu dikenal dengan istilah tasak telu (masak tiga).
Penyebutan tasak telu itu sesuai namanya, yang berarti memasak hanya menggunakan tiga bumbu utama, yaitu serai, bawang merah, dan cabai rawit. Selanjutnya, ketiga bumbu tersebut paling mantap bila dibandingkan dengan daging bebek. Tasak telu biasanya dilakukan oleh kaum adam karena bumbunya yang sederhana (hanya tiga bumbu saja).
Meskipun begitu, rasanya sangat istimewa, persis seperti filosofi laki-laki yang identik dengan kesederhanaan. Demikian juga dengan bumbu dari tasak telu yang mudah diperoleh, baik di pasar bahkan di pekarangan rumah.
Meskipun sederhana, tasak telu kerap disajikan diberbagai momen kegiatan pemuda khususnya saat momen berwisata, ndaling khutung, ngawil, jage pekhik, dan masih banyak lagi aktvitas kebersamaan lainnya. Tidak mesti acara yang besar, hanya kumpulan tiga orang atau lima belagakh (pemuda), sudah cukup membuat tasak telu eksis meramaikan suasana.
Seolah, bila tasak telu tidak ada, maka ada potongan puzzle yang hilang sehingga acara menjadi kurang meriah. Pengalaman yang saya alami, momen tasak telu selalu terjadi ketika ada agenda berkumpul. Saat saya pulang kampung misalnya, tak pernah saya lewatkan untuk merencanakan berkumpul bersama dengan alumni MAN 1 Aceh Tenggara, khususnya yang seangkatan dengan saya.
Adapun tempat populer yang kerap disepakati adalah Lawe Ger-ger ataupun di Pantai Goyang, bahkan ada alumnus dengan senang hati mengajak di kebun duriannya sendiri sambil ndaling khutung (menunggu durian jatuh). Begitu juga di Banda Aceh, gelaran masak telu yang paling intens kami lakukan saat menyukseskan berbagai kegiatan di Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT) Banda Aceh seperti agenda mauled Nabi Muhammad, menyambut mahasiswa baru, dan rutinitas syukuran lainnya.
Kebersamaan menyantap daging bebek memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan andai dilakukan seorang diri. Mungkin ini yang disebut berkah dan kekuatan silaturrahmi atau yang lebih populer disebut sebagai the power of silaturrahmi. Tasak telu ternyata memiliki sejarah yang turun temurun diwariskan.
Kabarnya, ada dua kisah berbeda. Pertama, tasak telu terjadi saat tiga belagakh (pemuda) mengambil bebek warga secara diam-diam karena kelaparan. Setelah diambil, mereka tidak tahu harus dimasak dengan bumbu apa bebek tersebut. Akhirnya mereka hanya merebus bebek sambil memasukkan serai, bawang merah, dan cabai rawit dari kebun warga.
Kisah yang kedua, beberapa pemuda pergi ke kebun sambil membawa satu bebek, berhubung ia juga tidak tahu bumbunya, sesampai di kebun, mereka berinisiatif mengambil bahan yang ada di kebun yaitu serai, cabe rawit dan bawang merah.
Dua cerita inilah yang melatari penamaan tasak telu di kalangan belagakh Kutacane. Terlepas kedua cerita tersebut benar atau tidak, yang pastitasak telu sampai saat ini masih eksis dan tak pernah kehilangan pesonanya.
Memasak tasak telu Biasanya, tasak telu dilakukan memakai dandang yang berukuran sedang atau besar, tergantung banyaknya daging bebek yang dimasak. Inti memasak dari tasak telu ini adalah rasa kuah dari bumbu tiga tersebut, maka dari itu, Tasak Telu ini selalu memakai dandang karena kuahnya yang menjadi incaran untuk di nikmati bersama daging bebek yang lezat.
Apabila memasak dua bebek, biasanya serainya berkisar satu setengah batang, bawang merahnya setengah kilo serta cabai rawitnya seperempat kilo tergantung selera pedas yang diminati. Saat hendak memasaknya, pertama-tama isi dandang dengan air sebanyak setengah dandang. Kemudian, masukkan daging bebek,
bawang merah yang sudah di iris, beserta serai yang sudah di pecahkan. Setelah mau masak (sekitar satu jam lebih tergantung besarnya api) dimasukkan cabai rawit. Jangan lupa di berigaram dan jeruk nipis agar rasa dan daging bebeknya menjadi empuk dan gurih.
Variasi yang kedua, masukkan daging bebek terlebih dahulu dengan air secukupnya, kemudian tunggu sampai kaldu daging bebek tersebut benar-benar keluar. Setelah itu barulah dimasukkan bumbu yang terdiri dari bawang merah, serai, serta tambahan air sesuai selera. Terakhir, masukkan cabai rawitnya agar rasa pedasnya lebih menggigit di lidah. Perlu di ketahui, semakin banyak air yang kita masukkan maka jumlah bumbu tiganya pun perlu ditambah, agar cita rasanya tetap terjaga dan tidak hambar.
Ciri khas dari tasak telu ini berada di kuahnya selaku perpanduan tiga bumbu tradisional. Tubuh yang adinya merasa lemas seolah menjadi segar. Tidak hanya itu, tasak telu juga cocok dimakan untuk orang yang mengalami sakit demam, flu atau tubuh yang tak bertenaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhadi-khalidi-mag-dosen-fakultas-syariah.jpg)