Breaking News:

Jurnalisme Warga

Budaya Literasi ala Warung Kopi

Di Aceh, nongkrong di warung kopi (warkop) telah menjadi budaya masyarakat. Warkop telah menjadi pusaran dari segala geliat kegiatan masyarakat

Budaya Literasi ala Warung Kopi
IST
HENDRA KASMI, Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Kembali ke masalah warkop tadi. Seperti yang kita ketahui bahwa warkop menjadi tempat yang paling nyaman untuk mengakses semua informasi melalui media digital tersebut. Informasi tersebut menjadi bahan diskusi bersama teman atau kolega sambil bersantai. Orang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di warkop untuk mengakses berbagai informasi dan bahan bacaan sambil berdikusi. Orang bisa membaca dan memperluas cakrawala sambil menunggu koleganya. Membaca dapat memperkaya pemahaman dan wawasan kita.

Ruang inspirasi

Literasi di warkop ini juga bisa diwujudkan untuk menuangkan ide dan gagasan dalam menghasilkan tulisan. Jenuhnya berada di rumah dan di kantor tentu perlu ruang kreativitas baru dalam menuangkan ide tulisan. Banyak penulis yang menghabiskan waktunya di warkop untuk menulis karya kreatif seperti artikel, cerita pendek, dan sebagainya karena warkop bisa menjadi ruang inspirasi yang sangat bagus, apalagi ditemani secangkir kopi. Menulis yang baik tentu saja tidak bisa dilepaskan dari proses membaca. Tempat nongkrong ini telah menjadi tempat yang tepat untuk mengakses berbagai bahan bacaan melalui android. Membaca dapat memperkaya pemahaman tentang topik yang ingin kita tulis selain dapat memperkaya kosakata. Banyak penulis yang sukses juga karena membaca karya-karya hebat penulis sebelumnya untuk menjadi bahan rujukan atau  referensi dalam menulis. Masih banyak lagi manfaat warkop dalam berliterasi misalnya, dengan berdikusi tentang perkembangan literasi dan  karya-karya terbaru.

Namun, di era pandemi ini generasi minenial banyak yang nongkrong di warkkop dengan melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. Sunggu miris.  Mereka kerap menghabiskan waktu di warkop hanya untuk bermain game online dan berbagi chip. Apalagi di masa pendemi ini, banyak sekali siswa yang tidak sekolah dan menghabiskan waktu di warkop dan bahkan ada yang begadang sampai malam. Waktu mereka terbuang sia-sia. Alangkah bagusnya jika mereka bisa memanfaatkan warkop dengan melakukan hal-hal yang positif seperti membaca. Mengajak mereka untuk membaca pengetahuan dan informasi yang bermanfaat ketimbang bermain game online. Pemilik warkop harus memfasilitasi misalnya, dengan menyediakan ruang baca pustaka mini di pojok warung. Setidaknya dengan sarana pustaka mini di warkop ini bisa lambat laun bisa membangkitkan budaya literasi bagi remaja.

Selain itu, remaja bisa membaca pengetahuan membuat permainan kreatif sehingga kelak mereka bisa menjadi produsen (perancang game) bukan hanya sekadar konsumen. Sarana ini selain bisa menumbuhkan budaya membaca bagi remaja selain bisa menumbuhkan inspirasi menulis tentang hal-hal sederhana misalnya, pengalaman sehari-hari tentang Covid-19 dan mengirimkan ke media massa atau media sosial sehingga bisa menjadi sarana informasi dan pengetahuan bagi orang lain.

Tentu saja pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dalam menyosialisasikan program literasi bagi warga. Literasi tidak hanya berhubungan dengan ranah pendidikan sekolah, perguruan tinggi, dan perkantoran, tetapi juga melingkupi semua ranah tempat dan lingkungan, termasuk juga di warkop. Mudah-mudahan dengan kepeduliaan dari berbagai pihak dapat meningkatkan semangat berliterasi di Aceh yang belakangan ini memang semakin bergairah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved