Santri Era Revolusi Industri 4.0

Setelah pengajian Alquran yang dilangsungkan setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah, sebagian santriwati di tempat domisili saya, yaitu Dayah

Editor: bakri
IST
NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat, Mahasiswi Semester VII Institut Agama Al-Aziziyah Samalanga, dan alumnus Pelatihan Jurnalistik dan Magang Santri 2020 Dinas Pendidikan Dayah Aceh, melaporkan dari Samalanga, Bireuen 

OLEH NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat, Mahasiswi Semester VII Institut Agama Al-Aziziyah Samalanga, dan alumnus Pelatihan Jurnalistik dan Magang Santri 2020 Dinas Pendidikan Dayah Aceh, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

Selasa pagi (20/10), setelah pengajian Alquran yang dilangsungkan setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah, sebagian santriwati di tempat domisili saya, yaitu Dayah Putri Muslimat (Samalanga, Kabupaten Bireuen) memasuki aula untuk melaksanakan shalat Duha.

Sementara waktu, aula tersebut dialihfungsikan sebagai tempat shalat berjamaah karena masjid sedang direnovasi. Saya berkesempatan berdiskusi dengan teman-teman tentang Hari Santri Nasional bertepatan pada Kamis (22/10/2020). Berawal dari pembicaraan sederhana tersebut, saya berkeinginan mereportasekan sedikit perihal santri. 

Kata “santri” sudah akrab di telinga kita. Santri adalah panggilan untuk orang yang belajar ilmu agama yang menetap di berbagai dayah, baik tradisional maupun modern dengan tujuan memantapkan dan mengamalkan ilimu agama dan mengedepankan akhlak dalam kehidupan sosial. Hadratussyekh KH Hasani Nawawi mendefinisikan santri sebagai orang-orang yang berpegang teguh kepada Alquran, dan mengikuti sunah rasul, serta teguh pendirian. Ini adalah arti bersandar pada sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya.

Untuk menjadi santri butuh perjuangan. Di saat menjalani kehidupan sebagai santri tentunya tidak terlepas dari berbagai macam ujian. Untuk menjadi santri pun mempunyai syarat-syarat tersendiri. Perjalanan menjadi santri adalah perjalanan hijrah yang paling berpengaruh dalam kehidupan. Berdasarkan beberapa artikel yang sempat saya baca, di Indonesia sendiri ada berbagai macam santri. Ada santri tradisional yang menetap di pesantren berkamar sederhana dan masak sendiri. Ada istilah santri modern, santri kalong yang hanya belajar di malam hari, sedangkan pagi sampai sore mereka menghabiskan waktu untuk bekerja. Ada juga santri pasaran yang hanya mengikuti pengajian saat Ramadhan.

Selama ini, ketika menyinggung kata santri, asumsi yang sudah tertanam dalam pemikiran sebagian masyarakat kurang menyenangkan. Padahal, sejak dulu para santri punya eksistensi tersendiri dalam masyarakat. Bahkan dilihat dari kacamata sejarah, santri terbukti ikut berjuang mencapai kemerdekaan, menjaga perdamaian, dan keseimbangan negara. Hal itu selaras dengan pernyataan Presiden Jokowi di Masjid Istiqlal pada 22 Oktober 2015 saat penetapan Hari Santri Nasional (HSN).

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.”

Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional bermula dari resolusi jihad yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang menekankan kewajiban membela negara. 

Saat ini dunia yelah memasuki era Rrevolusi Industri 4.0. Pada dasarnya era 4.0 sudah dimulai sejak tahun 2011 silam yang dicetus oleh Jerman melalui proyek strategis teknologi canggih yang memprioritaskan komputerisasi pada seluruh pabrik yang ada di negara tersebut.

   Sederhananya revolusi industri 4.0 dipahami sebagai dipahami sebagai perkembangan teknologi pabrik yang mengarah pada otomasi dan pertukaran data terkini secara mudah dan cepat, internet untuk segalanya, komputasi awan dan komputasi kognitif.

Era 4.0 sudah mengubah cara hidup dan pola pikir kita. Secara tidak langsung, kita dituntut untuk menguasai berbagai macam teknologi. Demikian pula bagi santri. Di sini santri harus bisa mengondisikan diri dengan era ini dan membendung arus globalisasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu celah yang dapat digunakan untuk mengubah asumsi masyarakat terhadap santri.

Dalam pandangan sebagian orang, santri adalah pemuda yang berpakaian lusuh dan tidak terbuka dengan dunia luar. Kini, sudah saatnya pernyataan tersebut dihilangkan dari pemikiran masyarakat. Karena, meskipun hanya bersarung dan berpeci sekarang banyak santri sudah memberi kajian di berbagai majelis taklim hingga ke luar negeri. Di era milenial sekarang sudah terlihat bahwa santri memiliki potensi untuk ikut andil di ranah mana pun bahkan go international. Di era milenial sekarang santri bukanlah santri yang hanya bisa membaca Quran dan kitab kuning saja. Namun, santri juga dituntut agar bisa berbahasa Arab, Inggris, dan bahasa asing lainnya, memiliki banyak pengalaman,wawasan, berbaur dengan berbagai kalangan, dan juga mengikuti berbagai kemajuan teknologi sebagai modal untuk ikut berkompetisi dengan yang lainnya.

Kini santri menjadi generasi yang moderat dan toleran di dunia maya. Mereka aktif dalam mentransfer dan menyosialisasikan ilmu agama dengan memanfaatkan berbagai macam sosial media. Bukan hanya menjadi penonton bahkan korban dari kemajuan teknologi itu sendiri.

Mengikuti alur perubahan zaman, santri juga dididik dengan ketat dan dibentuk menjadi individu yang multitalenta. Tidak hanya diajarkan kitab klasik, santri juga diberi pembekalan dan pendidikan formal hingga ke jenjang universitas agar tangguh dalam menghadapi problema-problema dalam lingkungan masyarakat.

Di tempat kami belajr, tanpa melupakan fokus utama kajian kitab kuning pihak kedayahan sudah memberikan kami pendidikan formal dari tingkat SMP dan SMA di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Hanafiah. Kami juga diberikan izin untuk melanjutkan program strata 1 di Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga yang berlokasi tidak jauh dari kompleks dayah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved