Rabu, 3 Juni 2026

Vaksin Covid 19

Indonesia Segera Distribusikan Vaksin Covid-19, WHO: Keamanannya Masih Diragukan

Rencana ini menimbulkan kontroversi mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan ada kandidat vaksin yang terbukti efektif.

Tayang:
Editor: Taufik Hidayat
AP/Hans Pennink
Seorang perawat mempersiapkan suntikan sebagai studi vaksin COVID-19, yang dikembangkan oleh National Institutes of Health dan Moderna Inc di Binghamton, New York, AS pada 27 Juli 2020. 

Perwakilan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai otoritas yang berwenang tengah berada di China untuk mengecek proses produksi, keamanan, hingga kehalalan vaksin di Sinovac, Sinopharm, dan Cansino.

BPOM juga mengajak LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan kehalalan dari kandidat vaksin tersebut.

Apabila hasilnya dinilai baik dan aman, maka BPOM akan menerbitkan EUA dan vaksinasi bisa dilaksanakan sesuai rencana pemerintah berdasarkan keputusan ini.

Petisi penolakan untuk disuntik dengan “vaksin setengah jadi” ini juga muncul dari sejumlah tenaga medis dan peneliti melalui situs Change.org.

Seorang dokter bernama Yohanes Wibowo bersama epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, dan sejumlah orang lainnya menginisiasi penolakan ini sepanjang tidak ada data yang menunjang.

Mereka menuntut pemerintah transparan terhadap data hasil riset vaksin-vaksin tersebut, pasalnya sampai saat ini belum ada publikasi dari riset terkait.

“Vaksin ‘setengah jadi’ ini berpotensi menimbulkan masalah baru jika timbul efek yang tidak diinginkan.

Apalagi tenaga medis menjadi salah satu prioritas pemberian vaksin.

Padahal sektor kesehatan sudah terpukul hebat saat pandemi ini,” tulis mereka.

Selain itu, mereka juga menilai penerbitan EUA di negara lain tidak bisa menjadi legitimasi bagi BPOM untuk menerbitkan skema serupa di Indonesia tanpa data yang rinci.

Keraguan serupa juga muncul dalam laporan survei LaporCovid-19 yang bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, dan Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB).

Dari jumlah responden sebanyak 2.109 dari 34 provinsi di Indonesia, sebagian besar menyatakan keragu-raguan terhadap vaksin yang dikembangkan di Indonesia.

Sebanyak 69 persen responden menyatakan ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima vaksin Sinovac.

Sebanyak 56 persen responden ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima vaksin Merah Putih.

Selain itu, 70 persen ragu-ragu hingga tidak bersedia menerima obat yang sedang dikembangkan oleh Unair.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved