Vaksin Covid 19
Indonesia Segera Distribusikan Vaksin Covid-19, WHO: Keamanannya Masih Diragukan
Rencana ini menimbulkan kontroversi mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan ada kandidat vaksin yang terbukti efektif.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menyampaikan rekomendasi kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan pemerintah.
IDI mengingatkan agar BPOM betul-betul memperhatikan sisi keamanan, efektivitas, dan imunogenitas kandidat vaksin tersebut.
“Kami yakin BPOM akan menjaga kemandirian dan profesionalismenya,” tutur Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban melalui siaran pers, Kamis.
IDI juga meminta pemerintah tidak tergesa-gesa dan memastikan vaksin yang akan disuntikkan kepada tenaga medis memenuhi syarat mutlak.
Syarat mutlak tersebut mencakup efektivitas, imunogenitas, serta keamanannya yang dibuktikan dengan hasil uji klinis fase ketiga yang telah dipublikasikan.
Menurut Zubairi, belum ada hasil uji klinis tahap ketiga yang telah dipublikasikan sebagai dasar pelaksanaan vaksinasi.
Uji klinis vaksin Sinovac di Brazil misalnya, baru selesai disuntikkan kepada 9 ribu relawan.
Hasil uji klinis di Brazil baru akan disampaikan setelah vaksinasi dilakukan kepada 15 ribu relawan.
“Kita bisa melihat bahwa unsur kehati-hatian juga dilakukan Negara lain dengan tetap menunggu data lebih banyak lagi dari hasil uji klinis fase 3,” ujar Zubairi.
“Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa program vaksinasi adalah sesuatu program penting namun tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa,” lanjut dia.
Baca juga: Arab Saudi Awasi Lima Perusahaan Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19
Baca juga: Prancis Perpanjang Jam Malam, Hadapi Gelombang Kedua Covid-19
Baca juga: Harga Kopi Gayo Anjlok, AEKI Aceh Ajak Sama-sama Akhiri Covid-19, Caranya Patuhi Protokol Kesehatan
Di Indonesia sendiri, uji klinis tahap ketiga dari vaksin Sinovac masih dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan hasilnya baru bisa disimpulkan secara komprehensif pada Maret 2020.
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan penyuntikan vaksin berdasarkan EUA sebelum uji klinis rampung berarti memaparkan manusia pada risiko yang signifikan.
Dia meminta pemerintah memastikan bahwa vaksin dapat membantu mencegah penyakit dengan data yang jelas, setidaknya untuk keamanan jangka pendek.
Pasalnya, tingkat uji klinis vaksin untuk penyakit infeksi hanya memiliki tingkat keberhasilan 33,4 persen.
“Artinya sebagian besar vaksin yang masuk ke tahap uji klinis akan gagal. Tidak ada pengecualian untuk vaksin Covid-19,” ujar Dicky.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/vaksin-virus-corona-as.jpg)