Minggu, 10 Mei 2026

Peluncuran Buku

Penyair Baca Puisi, Fachry Ali Terharu saat Peluncuran Buku "Seperti Belanda"

Sosiolog dan pengamat politik Indonesia, Fachry Ali merasa haru dan menitikkan air mata saat menyaksikan pembacaan puisi yang menurutnya sangat penetr

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Para penyair pada peluncuran buku puisi Seperti Belanda. 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Forum Jurnalis Aceh Jakarta (For-JAK) meluncurkan buku berjudul "Seperti Belanda: Dari Konflik Aceh ke MoU Helsinki", Sabtu (24/10/2020) malam secara virtual.

Peluncuran dirayakan dengan diskusi bersama narasumber Fachry Ali, Kurnia Effendi, Ni Wayan Idayati, dan Putra Gara, dan Salman Yoga, kurator.

Sejumlah penyair juga tampil membacakan puisi merayakan peluncuran tersebut.

Sosiolog dan pengamat politik Indonesia, Fachry Ali merasa haru dan menitikkan air mata saat menyaksikan pembacaan puisi yang menurutnya sangat penetraftif dan sangat menyentuh dirinya.

"Saya menikmati puisi yang dibacakan, sangat menyentuh. Puisi-puisi itu menunjukkan penguasaan yang sangat baik dari pengarangnya, mengenai Aceh," kata Fachry sambil menahan haru.

Baca juga: Barcelona Kalah, Lionel Messi Belum Cetak Gol di El Clasico sejak Ronaldo Tinggalkan Real Madrid

Baca juga: Kasus Anak Terjerat Hukum Masih Terjadi di Aceh Singkil, Peran Keluarga Masih Kurang

Sebelumnya, di awal diskusi, Fachry Ali mengatakan bahwa ruang ekspresi yang berkembang di Aceh secara sosiologis menggambarkan situasi kesejarahan yang mengungkapkan dua jalur arus sejarah; politik dan ideologi.

Jalur politik dilihat dari benturan antara kekuatan di Aceh dengan di luar Aceh. Adapun puisi yang lahir akibat benturan politik dan ideologi ini menentukan cita rasa ungkapan khas Serambi Makkah seperti hikayat Prang Sabil.

"Hikayat Prang Sabil yang kita tahu adalah respons intelektual keagamaan terhadap situasi peperangan Aceh, di mana Aceh pada waktu itu 1880-an hampir tidak punya kans untuk menang melawan Belanda yang dimulai 1873. Bahkan elit-elit penguasa Aceh sudah lebih memperlihatkan kecenderungan menyerah yang tampil mengambil kepemimpinan itu adalah ulama," kata Fachry yang juga tokoh Aceh di Jakarta ini.

"Dan ulama tidak punya modal lain kecuali agama. Hikayat Prang Sabil adalah respons keagamaan yang bersifat intelektual untuk memberikan jawaban terhadap realitas peperangan Aceh."

Penyair Kurnia Effendi, melukiskan Aceh sebagai daerah sangat religius dan terbuka.

"Aceh bagai sebuah negeri yang terpisah dari Nusantara, sebagaimana Papua yang bertubuh raksasa itu. Nama Aceh bagi saya ketika SD atau SMP memang terdengar religius dan memiliki pahlawan yang gagah berani meskipun di antara mereka adalah perempuan: Tjut Njak Dhien dan Tjut Meutia. Belanda tak pernah menang di sana," kata Kurnia Effendi dalam diskusi tersebut.

Kurnia turut prihatin dengan konflik disusul tsunami yang menerjang Aceh pada akhir 2004, sebelum berseminya damai. Masalah Aceh selama ini cenderung dilihat dari sisi politik saja.

"Aceh yang digempur berbagai cobaan dan ujian sehingga lukanya tak pernah sembuh itu, lebih banyak dipandang dengan dan dari kacamata politik. Ada kepentingan-kepentingan yang seolah di luar jangkauan tangan sastra," ujar penulis buku 'Bercinta di Bawah Bulan' itu.

Kurnia menilai bahwa Aceh kaya akan sastra dan puisi. "Puisi di Aceh, menggurat dalam serupa luka yang membenam. Tidak tersembuhkan atau dengan kata lain, baik tersirat maupun tersurat, puisi tentang Aceh tentu tak akan habis dibaca zaman."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved