Berita Lhokseumawe
Politeknik Negeri Lhokseumawe Siapkan Kurikulum Berbasis Industri, Ini Tujuannya
Kurikulum itu untuk Program Sarjana Terapan (Diploma IV) Teknologi Rekayasa Pembangkit Energi (TRPE).
Penulis: Jafaruddin | Editor: Mursal Ismail
“Kurikulum berbasis industri penekanannya lebih kepada problem solving di industri serta mendorong dosen untuk terlibat langsung di dunia industri salah satunya adalah program magang dosen,” kata Rizal.
Harapannya dengan perubahan kurikulum ini dapat mendongkrak Program Studi TRPE untuk mendapatkan akreditasi atau sertifikat internasional yang diakui oleh pemerintah.
Dalam kegiatan itu, semua narasumber yang hadir sepakat memberikan saran dan masukan, agar PNL ke depan lebih meningkatkan pola kemitraan dengan iduka, sehingga kurikulum berbasis industri benar-benar dapat terlaksana dan lulusan PNL dapat dengan mudah terserap di dunia usaha dan dunia industri.
Perwakilan dari PJB UBJOM PLTMG Arun, Armiya, menyebutkan pentingnya sertifikat Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di dalam dunia industri.
Karena tingginya risiko kecelakaan kerja bidang kelistrikan mendorong seluruh perusahaan agar menerapkan kebijakan pemerintah demi tercapainya Zero Accident di tempat kerja.
“Diharapkan dengan adanya sertifikat K3, setiap pekerja dapat mengawasi jalannya pekerjaan sesuai dengan peraturan perundangan K3 di tempat kerja.
Kami berharap agar setiap mahasiswa TRPE yang lulus harus dibekali dengan Sertifikat Kompetensi dan juga Sertifikat K3,” ujar Amriya.
Sementara itu Kepala Pusdiklat PIM Dedy Haryadi Hasan menyampaikan PNL merupakan salah satu mitra strategis PIM dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan iduka melalui program magang 150 mahasiswa PNL setiap tahun di PIM.
“Selain program magang biasa, PIM dan PNL juga sudah melaksanakan Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) selama 6 bulan dan mahasiswa juga diberikan Sertifikat Kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Pupuk Indonesia apabila uji kompetensi memenuhi,” ujar Dedy.
Zulfikar dari PT HEPSEC menyarankan supaya etos kerja dan etika profesi dari mahasiswa dan lulusan perlu ditingkatkan, begitu juga dengan peningkatan kemampuan komunikasi melalui elektronik, kemampuan bahasa inggris, ilmu bahan/komponen listrik, pemahaman standarisasi listrik IEEE.
Selain itu juga dibutuhkan kemampuan desain drawing menggunakan AutoCAD, detail pemahaman tentang pembangkit seperti boiler dan water treatment plant, pemahaman lengkap tentang satuan dan konversi satuan antar system, budgeting serta pneumatic system.
Sementara itu, Sayed Mahfud dan Tim dari PHE NSB & NSO menyarankan kepada peserta yang hadir untuk betul-betul mempersiapkan mahasiswa TRPE yang benar-benar memahami tentang penggunaan PCL dan DCS serta memiliki nilai lebih dalam bekerja baik melalui Program Magang atau ketika sudah menjadi karyawan.
Manager Pembangkit PLN UP3 Lhokseumawe Zulkhairina menyampaikan, untuk meningkatkan skill dan kemampuan mahasiswa, sebaiknya proses pembelajaran di TRPE antara teori dan praktek harus dalam semester yang sama.
“Kami siap mensupport segala sesuatu yang berkaitan untuk penerapan kurikulum TRPE berbasis industri,” ujar alumni Teknik Mesin PNL 2002 ini.
Narasumber terakhir dari PT CAA Munandar lebih menekankan pentingnya mahasiswa TRPE untuk memahami electrical monitoring system, K3 dan kemauan untuk belajar saat bekerja. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kurikulum-berbasis-industri-di-politeknik-lhokseumawe.jpg)