Internasional
2.000 Militan Timur Tengah Ikut Bantu Azerbaijan Rebut Kembali Nagorno-Karabakh dari Armenia
Sekitar 2.000 militan dari Timur Tengah ikut membantu Azerbaijan merebut kembali wilayah separatis Nagorno-Karabakh yang didukung Armenia.
SERAMBINEWS.COM, YEREVAN - Sekitar 2.000 militan dari Timur Tengah ikut membantu Azerbaijan merebut kembali wilayah separatis Nagorno-Karabakh yang didukung Armenia.
Itu menjadi permusuhan terburuk dalam konflik Armenia dan Azerbaijan dalam seperempat abad lebih.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Selasa (3/11/2020) menyatakan hal itu, seusai pihak-pihak yang bertikai saling menuduh atas serangan baru di wilayah tersebut.
"Kami pasti khawatir tentang konflik Nagorno-Karabakh dan keterlibatan militan dari Timur Tengah," kata Lavrov dalam wawancara dengan harian bisnis Rusia Kommersant, lansir AFP, Selasa (3/11/2020).
Baca juga: VIDEO - Momen Mengerikan Saat BOM CLUSTER Armenia Hantam Kota Barda di Azerbaijan
"Kami telah berulang kali meminta asing untuk menggunakan potensi mereka untuk menghentikan transfer militan, yang jumlahnya di zona konflik mendekati 2.000 orang," katanya.
Lavrov menambahkan Presiden Rusia Vladimir Putin mengangkat masalah ini dalam pembicaraan telepon minggu lalu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Nagorno-Karabakh terletak di Azerbaijan tetapi telah berada di bawah kendali pasukan etnis Armenia yang didukung oleh Armenia sejak perang di sana berakhir pada tahun 1994.
Ledakan permusuhan terbaru dimulai 27 September 2020 dan telah menyebabkan ratusan, mungkin ribuan orang tewas.
Azerbaijan mengandalkan dukungan kuat dari sekutunya Turki, yang telah melatih militer Azerbaijan dan menyediakan drone serang dan sistem roket jarak jauh.
Pejabat Armenia menuduh Turki terlibat langsung dalam konflik tersebut dan mengirim tentara bayaran dari Suriah untuk berperang di pihak Azerbaijan.
Turki membantah mengerahkan kombatan ke wilayah tersebut, tetapi pemantau perang Suriah dan aktivis oposisi yang berbasis di Suriah telah mengkonfirmasi.
Turki telah mengirim ratusan pejuang oposisi Suriah untuk bertempur di Nagorno-Karabakh.
Baca juga: Nagorno-Karabakh Terus Bergejolak, Serangan Silih Berganti dari Pasukan Azerbaijan dan Armenia
Pertempuran sengit yang melibatkan artileri berat, roket, dan drone telah berkecamuk meskipun internasional berulang kali berusaha untuk mengakhiri permusuhan.
Gencatan senjata yang ditengahi AS pecah minggu lalu, seperti dua gencatan senjata sebelumnya yang dinegosiasikan oleh Rusia, dan janji terbaru oleh Armenia dan Azerbaijan gagal total.
Pihak yang bertikai telah berulang kali menyalahkan satu sama lain atas pelanggaran.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev telah menegaskan memiliki hak untuk merebut kembali wilayahnya secara paksa setelah tiga dekade mediasi internasional yang sia-sia.