Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

Minim Air, Kasran Sulap Sawah Jadi Ladang Bawang Tanpa Pupuk, Intip Ilmu Hingga Tak Lagi Tanam Padi

Lahan yang dijadikannya tempat budidaya bawang merah itu adalah sawah yang sudah digunakan puluhan tahun lalu oleh orang tuanya di Sukarakyat, Rantau

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Kasran (tengah) didampingi dua anggota DPRK Aceh Tamiang, Sugiono Sukandar dan Muhammad Irwan usai memanen bawang merah, Kamis (5/11/2020). Metode penanaman ini disebut semi intensif karena tidak menggunakan pupuk. 

Lahan yang dijadikannya tempat budidaya bawang merah itu adalah sawah yang sudah digunakan puluhan tahun lalu oleh orang tuanya di Sukarakyat, Rantau, Aceh Tamiang.

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Kasran (56), petani yang berhasil mengembangkan budidaya bawang merah tanpa pakai pupuk di Aceh Tamiang mengaku awalnya hanya melakukan eksperimen.

Lahan yang dijadikannya tempat budidaya bawang merah itu adalah sawah yang sudah digunakan puluhan tahun lalu oleh orang tuanya di Sukarakyat, Rantau, Aceh Tamiang.

Namun seiring waktu berlalu, produktivitas padi di persawahannya terus menurun sehingga membuatnya selalu merugi. Penyebab utama gagalnya produksi padi ini karena belum adanya saluran air.

“Karena tidak ada saluran air, padi mati. Yang ada rugi,” kata Kasran yang mengandalkan air hujan untuk menghidupi padinya, Kamis (5/11/2020).

Belakangan ayah empat anak ini mulai tertarik dengan keberhasilan beberapa temannya yang mengembangkan budidaya bawang.

Baca juga: Unggah Video Ibu Hamil Kesulitan Melahirkan, Pemuda ini Ditangkap Polisi, Apa yang Salah?

Baca juga: Zaskia Sungkar Ngidam Ini Selama Hamil, Irwansyah Mengaku Berat Badan Naik 5 Kilogram

Baca juga: Dilantik sebagai Gubernur Aceh, Nova Sampaikan Terima Kasih kepada Irwandi Yusuf

Namun karena sungkan, Kasran tidak berani secara terang-terangan minta diajarkan tahapan cara menanam bawang merah.

“Istilahnya ini ilmu mengintip. Saya main saja ke ladang bawang teman-teman. Saya perhatikan, terus saya praktikkan di ladang sendiri,” ungkapnya.

Sebagai langkah awal, Kasran hanya berani bereksperimen di lahan 1,5 rante. Bermodalkan Rp 3 juta, dia berhasil mengembangkan tanaman ini dengan keuntungan memuaskan.

Keberhasilan ini membuat Kasran memantapkan dirinya beralih dari petani padi menjadi petani bawang merah.

Untuk membuktikan keseriusannya, dia telah memperluas ladang bawangnya 3,5 rante lagi.

Kasran menyebut dia menggunakan metode tanam sistem semi intensif. Istilah ini dikarenakan pada proses penanaman tidak menggunakan pupuk dan tanpa mulsa.

“Sekali ada pakai pupuk NPK, itu pun cuma setengah goni,” katanya.

Selebihnya, pria yang dipercaya sebagai Imam Dusun Damaimulia ini lebih mengandalkan tekstur tanah yang dinilainya memiliki unsur hara yang pas untuk tanaman bawang.

“Setiap hari cuma saya siram saja, Alhamdulillah ada hasil,” ungkapnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved