Selasa, 21 April 2026

Berita Luar Negeri

Menyedihkan Nasib Pasien Covid-19 di Korea Utara, Bukan Dibawa ke Rumah Sakit

Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un klaim tidak ada kasus Covid-19 di negaranya. Namun, laporan aktivitas berkata lain

Editor: Muhammad Hadi
worldwatchmonitor
Dua tentara Korea Utara berjaga di perbatasan dengan Cina, Yalu River. 

SERAMBINEWS.COM - Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un klaim tidak ada kasus Covid-19 di negaranya. Namun, laporan aktivitas berkata lain.

Bahkan, aktivis tersebut menyebut Korea Utara menerapkan kebijakan sadis untuk orang yang terinfeksi virus corona.

Pasien Covid-19 di Korea Utara dikabarkan ditempatkan pada sebuah 'kamp karantina' dan dibiarkan kelaparan sampai mati, menurut klaim seorang aktivis.

Laporan-laporan selanjutnya, yang dilansir dari Daily Mail mengatakan bahwa orang-orang dengan gejala virus corona tersebut 'diangkut dari rumah mereka tanpa makanan'.

Baca juga: Rp 22,87 Miliar Dana Nasabah Hilang, Begini Tanggapan Pihak Bank 

Bahwa pihak otoritas telah meningkatkan jumlah korban Covid-19 yang dibakar.

Seorang aktivis Kristen, Tim Peters yang menjalankan solidaritas amal berbasis di Seoul, Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara mengklaim 'kamp karantina' dibangun di kota-kota dekat perbatasan dengan China. 

Namun, korban yang dibakar di kamp itu seringkali tidak mendapat perawatan medis dengan baik termasuk menderita kelaparan.

Kepada South China Morning Post, aktivis itu mengatakan bahwa pemerintah Korea Utara sama sekali tidak menyediakan makanan mau pun obat-obatan kepada mereka yang 'dikebumikan' di sana.

Baca juga: Viral Kisah Kocak Kucing Sudah Tiga hari Hilang, Begitu Pulang Malah Bawa Catatan Utang

Singkatnya, Peters melaporkan bahwa kematian para korban Covid-19 di kamp karantina itu tak hanya karena wabah namun juga karena kelaparan.

LSM Peters mengirim pasokan medis dan lainnya sampai ke Korea Utara, dia menggambarkan situasi Covid di negara itu sangatlah serius.

Adanya laporan abai terhadap korban Covid itu dianggap cocok dengan informasi yang diterima dari mereka yang selamat dari kamp-kamp penjara Korea Utara.

Di mana para narapidana hanya 'diberi makan dalam jumlah yang sangat minimum'.

Baca juga: Ini Cara Membedakan Virus Corona dengan Flu

Seorang pendeta bernama David Lee yang bekerja sama dengan pembelot Korea Utara di Seoul mengatakan bahwa virus corona disebut sebagai 'penyakit hantu'.

Sehingga dianggap tidak ada alat uji tepat untuk bisa melacak dan menghentikan penyebaran virus.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved