Breaking News:

Opini

SM Amin: Pahlawan Nasional  

Pernah bekerja sebagai Senior Lecturer di Universiti Malaysia PahangSudah menjadi tradisi di setiap peringatan Hari Pahlawan 10 November

SM Amin: Pahlawan Nasional   
IST
Dr. Dandi Bachtiar, Pencinta Sejarah, pernah bekerja sebagai Senior Lecturer di Universiti Malaysia Pahang

Oleh Dr. Dandi Bachtiar, Pencinta Sejarah, pernah bekerja sebagai Senior Lecturer di Universiti Malaysia Pahang

Pernah bekerja sebagai Senior Lecturer di Universiti Malaysia Pahang Sudah menjadi tradisi di setiap peringatan Hari Pahlawan 10 November pemerintah menetapkan penganugerahan kepada sejumlah tokoh yang telah berjasa kepada negara dengan berbagai penghargaan. Seperti penganugerahan Bintang Mahaputra, Bintang Satya Lencana, dan lain-lain. Penghargaan yang paling tinggi adalah penetapan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.

Di tahun 2020 kali ini salah satu tokoh yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional adalah Sutan Muhammad Amin Nasution alias SM Amin. Tokoh yang agak terlupakan di blantika kesejarahan nasional. Namun, SM Amin adalah tokoh yang sangat erat sepak terjang perjuangannya dengan Aceh.

Lahir di Lhok Nga, Aceh Besar, tepatnya di Krueng Raba pada 22 Februari 1904, beliau adalah putra Tapanuli yang membesar sebagai putra Aceh. Namun, sejak muda beliau telah hidup berpindah-pindah dan menempuh pendidikan di banyak tempat. Pendidikan dasar ELS di Sabang, kemudian MULO dan STOVIA di Batavia serta AMS di Jogjakarta. Pendidikan tinggi di bidang hukum ditempuhnya di Batavia.

Sebagai seorang pemuda yang berjiwa heroik dan memiliki semangat kebangsaan yang menyala-nyala, beliau hadir pada Kongres Sumpah Pemuda II 28 Oktober 1928 di Batavia atau Jakarta sekarang. Beliau seorang pemuda yang sangat aktif dalam organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Organisasi tempat berhimpun cendekiawan dan penggagas nasionalisme Indonesia dari Sumatera.

Jiwa kebangsaannya tumbuh subur di masa tersebut dan diaktualisasikannya dengan bergabung pada berbagai organisasi seperti Jong Islamienten Bond dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Juga sudah aktif menulis di surat kabar Jong Sumatera dan Indonesia Raya untuk mengasah kepekaannya dalam dunia pergerakan kemerdekaan di kalangan pemuda ketika itu.

Setamat pendidikan tinggi di bidang hukum beliau menyabet gelar Mr dan berhak menyandang nama Mr SM Amin. Karier cemerlang sebagai pegawai kolonial Belanda menanti di depan mata. Namun, beliau menampiknya. Jiwa nasionalisnya lebih kental, sehingga beliau memutuskan pulang ke Aceh dan berbakti sebagai pengacara rakyat alias pokrol bambu membela rakyat yang terjerat masalah hukum di Kutaraja. Beliau dikenal sebagai pengacara yang jujur, bertanggung-jawab, berani membela kebenaran, arif, dan bijaksana.

Di zaman Jepang, beliau menjadi direktur Sekolah Menengah di Kutaraja. Dan berperan dalam menggembleng kader kader muda Aceh dan menanamkan jiwa cinta tanah air dan nilai-nilai kebangsaan.

Ketika zaman awal kemerdekaan, beliau turut mengambil peran penting. Bersama-sama tokoh Aceh lainnya seperti Teuku Nyak Arif, Tengku Daud Beureu-eh, Sjammaun Gaharu, dan lain-lain, beliau menjadi salah satu tokoh sentral yang memainkan peranan di Pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri itu.

Berbagai jabatan prestisius disandang ketika masa-masa genting perjuangan kemerdekaan RI di Aceh. Masa awal kemerdekaan 1945 beliau memegang jabatan Kepala Kehakiman RI Daerah Aceh. Berbagai peran yang beliau mainkan dalam politik ketika itu menjadi sumbangsih besar beliau kepada terbangunnya Pemerintahan RI yang berwibawa.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved