Berita Banda Aceh
Wakil DPD RI dan Anggota Bahas Perkembangan Geopolitik Asia Selatan di Aceh
Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) yang dipimpin Wakil Ketua I, Letjen TNI Mar (Purn) Dr Nono Sampono, S.Pi., M.Si. menggelar focus..
Penulis: Subur Dani | Editor: Jalimin
Laporan Subur Dani | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) yang dipimpin Wakil Ketua I, Letjen TNI Mar (Purn) Dr Nono Sampono SPi MSi menggelar focus group discussion (FGD) bersama Pemerintah Aceh membahas perkembangan geopolitik Asia Selatan serta pengaruhnya terhadap jalur logistik ASEAN dan Indonesia bagian barat Rabu (25/11/2020).
Acara yang berlangsung di Aula Serbaguna, Setda Aceh itu dipandu Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, dari unsur Pemerintah Aceh pada diskusi itu hadir Sekda Aceh, Taqwallah yang mewakili Gubernur Aceh.
Selain itu juga hadir unsur Forkopimda, MPU, MAA, Staf Ahli Gubernur, sejumlah kepala biro dan kepala dinas di lingkungan Setda Aceh, serta kalangan mahasiswa.
Sementara dari Jakarta hadir Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi, Anggota DPD RI Fadhil Rahmi, Pimpinan Komite IV DPD RI, Novita Anakotta, Staf Ahli Bidang Sospol Kapolri, Asdep Pengelolaan Ruang Laut dan Pesisir, hingga Kepala Zona Keamanan Laut Maritim Barat.
Nono Sampono dalam penjelasannya mengatakan, kegiatan yang digagas oleh DPD RI itu dilakukan sebagai upaya antisipasi atas berbagai kemungkinan di tengah perkembangan geopolitik Asia Selatan saat ini.
Baca juga: Waspada! Cuaca Ekstrem Masih Melanda, Catat Titik Rawan Longsor dan Pohon Tumbang di Subulussalam
Baca juga: Ditsamapta Polda Aceh Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan SAR untuk Anggota
Baca juga: ISMI Silaturahmi dengan Kakanwil Kementrian Agama Aceh, Bahas Peningkatan Ekonomi Umat
Kegiatan serupa, kata Nono, juga sebelumnya telah digelar di Indonesia bagian timur.
"Indonesia harus mewaspadai perkembangan lingkungan strategi di kawasan yang berpengaruh terhadap pergeseran Geo Politik, Geo Ekonomi dan Geo Strategi," ujar Nono.
Sementara Sekda Aceh saat membacakan sambutan Gubernur mengatakan, diskusi itu sangat menarik bagi Aceh lantaran posisi Aceh terletak paling dekat dengan kawasan Asia Selatan.
Karena itu, kata Sekda, wajar jika setiap perkembangan di wilayah Asia Selatan pantas dikaitkan dengan posisi Aceh.
"Mudah-mudahan diskusi ini dapat merumuskan langkah preventif sebagai warning bagi Pemerintah Aceh dalam menjalankan kebijakan di tingkat lokal demi menjaga kedaulatan bangsa kita," kata Sekda.
Menurut Sekda Taqwallah, fakta sejarah kejayaan maritim yang menempatkan Aceh sebagai poros maritim Asia Tenggara sudah ada sejak abad ke-16, yaitu saat dimulainya kejayaan maritim Indonesia.
Fakta tersebut, lanjut Sekda, dapat dilihat hingga saat ini dimana posisi Aceh dinyatakan sebagai gerbang Barat Poros Maritim Nusantara, sekaligus sebagai wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan dua kawasan yang sedang tumbuh dalam percaturan geopolitik dunia, yaitu wilayah ASEAN dan kawasan Asia Selatan.
Sekda juga menyebutkan, hubungan langsung Aceh dengan ASEAN serta Asia Selatan juga sudah terjalin sejak lama. Bahkan saat ini Aceh sedang merintis hubungan bisnis dengan wilayah terluar India yang hanya berjarak sekitar enam jam dengan kapal motor dari wilayah terluar Aceh.
Dengan letak geografis yang strategis itu, kata Sekda, tak heran jika Aceh berpotensi merasakan dampak langsung dari dinamika politik yang berkembang di Asia Selatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fgd-dpd-ri-di-aula-serbaguna-kantor-gubernur-aceh-di-banda-aceh-rabu-25112020.jpg)