Jumat, 8 Mei 2026

Hubungan Aceh dan Turki

Nova Ceritakan Relasi Aceh-Turki di Masa Lalu, Diharapkan Jadi Penguat Kerja Sama Masa Kini

Nova menceritakan bagaimana hubungan erat antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turkin Usmani sejak era Sultan Ali Mughayat Syah.

Tayang:
Penulis: Subur Dani | Editor: Taufik Hidayat
Dok Humas Pemerintah Aceh
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengisi Webinar Revitalisasi Hubungan Indonesia-Turki, dari Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Kamis (10/12/2020) 

Laporan Subur Dani | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Hubungan erat antara Aceh dan Turki di masa lampau dapat menjadi modal di masa kini untuk mendorong hubungan kerjasama yang lebih kuat dan saling menguntungkan antara Republik Indonesia dan Turki.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat mengisi webinar Revitalisasi Hubungan Indonesia-Turki dalam rangka peringatan 70 Tahun hubungan diplomatik, dari Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Kamis, 10/12/2020.

Webinar tersebut digelar oleh Direktorat Jenderal Amerika Eropa Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan Pemerintah Aceh dan Universitas Syiah Kuala.

"Potensi yang kita miliki terutama potensi yang ada di Provinsi Aceh dapat menjadi peluang dalam rangka penguatan hubungan perdagangan, investasi, pendidikan, pariwisata serta sosial budaya dengan Pemerintah Turki,"kata Nova.

Dalam kesempatan tersebut, Nova juga menceritakan bagaimana hubungan erat antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turkin Usmani sejak era Sultan Ali Mughayat Syah.

"Kalau kita mengkaji secara historis, bahwa jauh sebelum pembentukan hubungan diplomatik antara Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Turki pada tahun 1950, kedua bangsa ini telah menjalin hubungan politik dan perdagangan,"ujar Nova.

Baca juga: Pengadilan Israel Bebaskan Tentara Penembak Mati Pemuda Palestina

Baca juga: Kim Kardashian Minta Trump Hentikan Eksekusi Seorang Narapidana, Ganti Hukuman Seumur Hidup

Baca juga: Penyandang Disabilitas SLB YTC Kutablang Lukis Wajah Tamu yang Datang

Nova menjelaskan, dalam rangka memperluas kekuasaan dan meningkatkan perekonomiannya serta mengusir penjajah Portugis yang ada di Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan rempah-rempah Internasional, maka pada tahun 1.547 M Kesultanan Aceh Darussalam meminta bantuan kepada Kesultanan Turki Utsmani di era Sultan Suleiman I.

"Pada masa tersebut, utusan dari Aceh mendatangi Istanbul untuk meminta bantuan militer berupa armada laut serta meriam untuk menghadapi Portugis. Permohonan ini dikabulkan oleh Sultan Suleiman I yang merasa bertanggungjawab melindungi kapal-kapal muslim dari serangan Portugis,"urai Nova.

Perjalanan heroik pertama dari utusan Kerajaan Aceh Darussalam itu, kata Nova, dicatat dalam kisah yang sangat menarik yaitu Kisah Meriam Lada Secupak.

Cerita tersebut, merupakan sebagian dari penggalan sejarah yang disampaikan Nova. Ia berharap sejarah tersebut dapat menjadi pendorong dalam memperkuat hubungan kerjasama antara Turki dengan Indonesia, khususnya dengan Aceh.

Sementara itu, Dirjen Amerika Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Ngurah Swajaya, mengatakan, Revitalisasi hubungan Indonesia-Turki perlu dilaksanakan untuk meninjau kembali kerjasama bilateral dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada dengan optimal.

Upaya revitaslisasi itu dimaksud untuk meningkatkan dan memperkuat hubungan kedua negara.

Ngurah menilai, penting sekali melibatkan Aceh dalam membahas revitalisasi hubungan Indonesia-Turki. Menurutnya, Aceh memiliki beberapa aspek pertumbangan yang dapat memperkuat hubungan tersebut.

"Pertama, Aceh memiliki hubungan sejarah yang baik dengan Turki, ini sangatlah berharga,"kata Ngurah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved