Minggu, 12 April 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2004

Kisah Jurnalis Serambi Indonesia Dikejar Gelombang Hitam Bergemuruh (2)

Dari kejauhan sekitar satu kilometer jaraknya, saya masih bisa melihat satu per satu atap rumah beterbangan ke udara seperti kapas ditiup angin, hancu

Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Foto dokumentasi fatih kumar
Penampakan Masjid Darul Makmur Gampong Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh 10 hari pascabencana tsunami 26 Desember 2004. Di atas kubah masjid itulah (tanda lingkaran) puluhan warga menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menerjang. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Setelah menyaksikan pemandangan aneh itu, orang-orang berlari panik karena air laut naik-- saya akhirnya memilih menutup ruko. Sekonyong-konyong kemudian saya teringat ibu, bapak, abang, adik, kakak ipar dan anggota keluarga lainnya yang masih berada di rumah.

Tak pikir panjang lagi, saya pulang dengan mengayuh sepeda sekuat tenaga. Sepanjang jalan warga berlarian keluar dari rumah mereka, jalan-jalan lorong juga sudah dipadati kendaraan.

Saya hentikan laju sepeda karena tak mungkin berhasil melawan arus dengan warga yang berlarian keluar dari rumah. Tepat di depan warung kopi Sabirin, tempat pertama kali merasakan guncangan gempa, saya campakkan sepeda di pinggir jalan.

Suasana kian terasa panik. Teriakan-teriakan warga “Air laut naik...air laut naik...Lari..lari..” kembali terdengar. Belum lagi sampai di rumah, saya bertemu dengan ibu di jalan, dipapah adik saya Riska Ramadhani.

Sedangkan yang lainnya abang, kakak ipar dan bapak menggendong cucunya yang masih kecil terus berlari. Ibu yang saat itu dalam keadaan kurang sehat, hampir terjatuh, hingga membuatnya tak bisa berjalan. Kami berdua menuntun ibu sekuat tenaga.

Pertama kali berani menginjakkan kaki ke halaman masjid ini Pukul 18:48 Wib, 23 hari setelah tsunami 26 Desember 2004. Sebenarnya hari pertama sekitar pukul sebelas sudah kesini juga, tapi saat itu semua adalah ‘nightmare’ yang entah kapan sanggup untuk diceritakan. Gelombang raksasa itu melenyapkan semuanya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertaubat setelah peristiwa paling kelam sepanjang abad Ke-20 itu. Hanya beberapa yang tersisa, yang lain lebih memilih kembali ke Pemiliknya. Allah tahu yang kita tidak tahu. Masjid Baiturrahim berada di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Yang pernah ke Sabang pasti sempat melintasinya.
Pertama kali berani menginjakkan kaki ke halaman masjid ini Pukul 18:48 Wib, 23 hari setelah tsunami 26 Desember 2004. Sebenarnya hari pertama sekitar pukul sebelas sudah kesini juga, tapi saat itu semua adalah ‘nightmare’ yang entah kapan sanggup untuk diceritakan. Gelombang raksasa itu melenyapkan semuanya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertaubat setelah peristiwa paling kelam sepanjang abad Ke-20 itu. Hanya beberapa yang tersisa, yang lain lebih memilih kembali ke Pemiliknya. Allah tahu yang kita tidak tahu. Masjid Baiturrahim berada di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Yang pernah ke Sabang pasti sempat melintasinya. (SERAMBINEWS/M ANSHAR)

Di saat bertemu ibu inilah, saya melihat pemandangan mengerikan. Dari arah belakang rumah, gelombang air laut yang berasal dari laut Syiah Kuala mulai menuju ke arah kami. Wujudnya seperti awan hitam bergerak ke depan diselimuti langit yang mendung.

Dari kejauhan sekitar satu kilometer jaraknya, saya masih bisa melihat satu per satu atap rumah beterbangan ke udara seperti kapas ditiup angin, hancur lebur dilumat gelombang raksasa itu.

Sejauh mata memandang, saya bisa memastikan, semua rumah yang disapu gelombang itu berada di Desa Diwai Makam, sebuah dusun yang dikeliling tambak di Kecamatan Kuta Alam, dan hanya berjarak sekitar satu kilometer dari laut Syiah Kuala. Semuanya tidak tersisa.

Pohon bakau, dan kelapa yang semula bisa terlihat dari tempat saya berdiri, kini sudah tidak tampak lagi. Daratan sudah berganti dengan gelombang air laut hitam pekat yang makin lama semakin mendekat ke arah kami dan warga yang tengah berlarian.

Baca juga: Kisah Jurnalis Serambi Indonesia, Ketika Pagi yang Hening Bumi Bergoyang Hebat (1)

Setelah melumat habis rumah warga di Diwai Makam, gelombang raksasa itu kemudian melewati hamparan tambak, sehingga saya dapat melihat dengan jelas pergerakannya. Di tengah jalan, ibu saya Adawiyah, merasa sudah kelelahan.

Ibu minta berhenti. Ia meminta kami agar terus berlari, dan tidak perlu memikirkannya. Karena ibu khawatir kalau kami  masih memapahnya akan memperlambat usaha kami untuk menyelamatkan diri.

Sementara air laut yang mengejar kami semakin dekat disusul suara gemuruh yang semakin keras terdengar. Saya tak tega membiarkan ibu sendiri. Sekuat tenaga yang ada, kami memapah ibu.

Saya spontan teringat, ibu akan kami bawa ke masjid saja. Karena bangunan yang paling aman dan terdekat saat itu adalah masjid. Saya pikir jarak antara kami dengan masjid hanya terpaut sekitar 50 meter lagi.

Saya harus memapah ibu sampai ke masjid. Suara gemuruh gelombang yang tertiup angin semakin dekat terdengar di telinga. Akhirnya saya, ibu, dan adik berhasil mencapai Masjid Darul Makmur, Lambaro Skep.

Disapu gelombang hitam

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved