Selasa, 5 Mei 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2004

Kisah Jurnalis Serambi Indonesia, Ketika Pagi yang Hening Bumi Bergoyang Hebat (1)

Ada anak yang digendong ibunya, bocah yang mencari orang tua, menangis dan tak tahu arah. Ada pula wanita lanjut usia yang tergopoh-gopoh berjalan men

Tayang:
Penulis: Ansari Hasyim | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Foto dokumentasi fatih kumar
Penampakan Masjid Darul Makmur Gampong Lambaro Skep, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh 10 hari pascabencana tsunami 26 Desember 2004. Di atas kubah masjid itulah (tanda lingkaran) puluhan warga menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menerjang. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Minggu 26 Desember 2004. Pagi itu saya duduk di satu warung kopi kampung sambil membaca surat kabar yang baru saja diantar loper.

Aktivitas warga desa berjalan seperti biasanya. Sementara dari balik awan cahaya matahari bersinar cerah.

Suasana alam begitu tenang. Nyiur melambai di antara ranting pepohonan.

Saat sedang membuka halaman koran, tiba-tiba saya merasakan kursi dan meja terasa bergerak. Semakin lama-semakin kuat.

Saya lihat jarum jam di dinding warung menunjukkan pukul 07.58 WIB. Beberapa detik kemudian, tanah berguncang hebat. 

Tampak ranting-ranting pohon bergoyang, seperti menari-nari di antara celah dedaunan. Saya pindahkan pandangan ke tiang listrik. Ternyata juga sama. Kabel listrik di pinggir jalan pun bergoyang hebat.

Semakin lama semakin kuat. Ternyata sedang terjadi gempa bumi! Saya putuskan keluar dari warung kopi, karena takut gardu listrik di depan warung akan tumbang.

Potret PLTD Apung yang berdiri megah di pelabuhan Ulee Lheu sebelum bencana tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004. Saat bencana itu terjadi, pembangkit listrik tersebut hanyut sampai ke Punge. Sedangkan pelabuhan Ulee Lheu proak-poranda. (Dokumen Harian Serambi Indonesia)
Potret PLTD Apung yang berdiri megah di pelabuhan Ulee Lheu sebelum bencana tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004. Saat bencana itu terjadi, pembangkit listrik tersebut hanyut sampai ke Punge. Sedangkan pelabuhan Ulee Lheu proak-poranda. (Dokumen Harian Serambi Indonesia) (DOKUMEN HARIAN SERAMBI INDONESIA)

Saya menyeberang ke lapangan sepak bola Bukit Sembilan, tak jauh dari warung kopi. Saat itu gempa masih terasa kua sekalit. Terasa tak bisa berjalan, sempoyongan dan saya terjatuh.

Dengan setengah merangkak, saya berusaha terus berjalan. Hingga akhirnya berpegangan di tiang gawang. Di sini saya merasa sedikit bisa berdiri meskipun harus membungkuk.

Inikah hari kiamat?

Sementara bumi masih terus berguncang hebat. Teringat pada sebuah cerita dalam Alquran, salah satu tanda kiamat adalah datangnya gempa besar.

Baca juga: Kisah Jurnalis Serambi Indonesia Dikejar Gelombang Hitam Bergemuruh (2)

Baca juga: Kisah Jurnalis Serambi Indonesia, Menyaksikan Daratan jadi Lautan dan Cerita Aneh Si Pus (3-Habis)

Hati kecil saya bertanya, apakah ini awal datangnya hari kiamat yang tertulis dalam Alquran? Perasaan resah dan gelisah membayangi pikiran. Hanya asma Allah yang terucap di mulut di tenga bumi beguncang hebat.

Saya pasrah dengan apa pun yang Allah kehendaki hari itu. Guncangan bumi yang terasa begitu dahsyat membuat pusing. Akhirnya saya memilih duduk, karena tak sanggup lagi berdiri sampai gempa reda dengan sendirinya.

Saya lihat di sekeliling juga banyak warga lain berada di lapangan bola Bukit Sembilan saat gempa terjadi. Kami saling berpandangan tanpa berkata-kata. Semuanya terdiam.

Saya teringat keadaan ibu, bapak, adik dan keluarga lain di rumah. Bergegas mengambil keputusan untuk pulang. Sepanjang jalan saya melihat banyak warga berdiri di depan rumah mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved