Breaking News:

Opini

Daring Datang, Usaha Sampingan Lancar

Sejak virus corona mewabah sampai ke Indonesia, kuliah secara daring atau kuliah melalui jaringan internet mulai diberlakukan kepada semua lembaga ker

Daring Datang, Usaha Sampingan Lancar
IST
DIVA NADIA, Mahasiswi Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Pidie Jaya

DIVA NADIA, Mahasiswi Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Pidie Jaya

Sejak virus corona mewabah sampai ke Indonesia, kuliah secara daring atau kuliah melalui jaringan internet mulai diberlakukan kepada semua lembaga kerja, terutama lembaga pendidikan. Sebagai salah seorang mahasiswi, awalnya saya merasa kurang nyaman untuk mengikuti kuliah daring. Saat pertama kali mengikutinya, saya merasa seperti tidak sedang kuliah saja. Saya merasa seperti itu, karena suasana belajar daring sangat jauh berbeda dengan kuliah biasanya.

Biasanya kuliah langsung terlaksana tanpa harus menggunakan media elektronik dan jaringan internet. Sedangkan sekarang ini, kuliahnya harus melalui koneksi jaringan internet yang kuat dan media elektronik dengan ketahanan yang mapan. 

Pandemi Covid-19 yang terus mewabah hingga kuliah daring terus berlanjut, membuat saya jatuh bangun dalam menyesuikan diri. Di awal masa daring misalnya, saya sempat bingung untuk memilih tetap di Banda Aceh atau pulang kampung dan melakukan kuliah daring dari rumah. Meskipun saya menyadari bahwa jaringat internet di kampung saya tidak sekuat di daerah perkotaan. Begitu juga dengan sumber referensi perkuliahan, akan sangat terbatas karena bahan yang dicari terkadang tak tersedia di perpustakaan. Namun, atas dasar pertimbangan kondisi ekonomi keluarga, khususnya di masa Covid ini, akhirnya saya memilih untuk pulang kampung.

Selama masa pandemi, usaha keluarga saya tidak berjalan sebagaimana biasanya, sehingga biaya untuk memenuhi kebutuhan kuliah pun menjadi terbatas. Keadaan ekonomi orang tua yang terbatas inilah yang akhirnya memantapkan saya untuk pulang dan membantu usaha mereka. Di balik pro-kontra kuliah daring yang dianggap memiliki banyak kekurangan, ternyata juga membuka peluang kepada saya untuk melakukan berbagai usaha yang bisa meningkatan ekonomi keluarga tanpa meninggalkan perkuliahan. Saya bisa membantu orang tua untuk belanja bahan kue, membantu proses pengolahan, dan bisa turut terlibat dalam mendistribusikan kue ke berbagai pusat penjualan.

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai merasa nyaman dengan sistem kuliah daring. Meskipun terkadang masih setia juga ditemani oleh koneksi jaringan yang lelet dan kurangnya bahan bacaan. Namun, keadaan ini bukan lagi masalah bagi saya, karena masih ada di antara dosen yang mau mengerti dan memaklumi setiap kendala atau keadaan yang dialami mahasiswanya selama mengikuti kuliah daring. Meski demikian, saya berusaha untuk tidak tergantung pada berbagai keringanan yang diberikan dosen. Apalagi mencari-cari alasan (modus) tidak mengikuti proses perkuliahan daring tanpa usaha lebih lanjut. Saya khawatir, ketergantungan terhadap alasan-alasan itu akan membuat saya lemah dan bermalas-malasan di kemudian hari.

Oleh sebab itu, dengan segala keterbatasan yang ada, saya tetap berusaha semaksimal kemampuan untuk mendapatkan koneksi internet yang kuat dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Terkadang, di saat tidak memiliki biaya untuk membeli paket internet, saya menyempatkan diri untuk pergi ke warung-warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi. Terkadang, di hari yang memiliki banyak jadwal kuliah, saya harus menghabiskan waktu seharian di warung kopi (warkop). Saat malam harinya, tak jarang saya juga harus kembali ke warkop, terutama di saat ada tugas kuliah yang jadwal pengumpulannya sudah sangat dekat. 

Apabila jadwal sedang sepi, di sanalah saya berkesempatan membantu orang tua. Meskipun perihal menolong orang tua menjadi pilihan kedua, setidaknya saya masih memiliki kesempatan itu dibanding saat saya ngekos di Banda Aceh. Sesekali saya juga mengikuti kuliah daring di kebun ayah. Momen tersebut saya gunakan untuk membantu merawat tanaman buah, khususnya apabila kelas telah usai atau dosen berhalangan hadir. Bila waktu siang tiba, maka saya membantu ibu memasak dan menyiapkan produksi kue untuk kebutuhan pelanggan di lima warkop. Adapun jenis kue yang sudah biasa kami sediakan adalah timpan, roti selai, tapai, dan boh rom-rom atau klepon.

                                   Keripik melinjo

Berhubung perekonomian yang tengah memburuk akibat pandemi, membuat saya harus berpikir ekstra untuk memenuhi kebutuhan diri. Minimal, sebagai seorang pelajar saya bisa meringankan beban orang tua dengan membeli segala kebutuhan kuliah daring seperti kuota internet atau biaya minum di warkop. Saya sadar, penghasilan saya tentu tidaklah banyak, tetapi saya tidak tega jika harus memberatkan orang tua di saat kondisi finansial tengah memburuk.

Maka dari itu, saya pun melakukan usaha sampingan, yaitu dengan mengolah biji melinjo menjadi keripik. Saya tertarik untuk memulai usaha keripik melinjo ini dikarenakan adanya peluang pemasaran yang sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, setelah saya lakukan pemantauan akhir-akhir ini harga per kilogram keripik melinjo kering bisa mencapai Rp60.000 sampai Rp 80.000. Biasanya, khusus zonasi Pidie Jaya, harga keripik melinjo berkisar antara Rp60.000 sampai Rp70.000, sedangkan untuk wilayah Banda Aceh bisa berkisar antara Rp70.000 sampai Rp80.000 per kg.

Peluang harga jual yang seperti ini juga didukung oleh bahan baku biji melinjo dengan harga sekitar Rp8.000 sampai Rp12.000 per bambu. Ditambahlah lagi dengan tersedianya tempat atau pengolahan keripik melinjo kering dengan ongkos jasa sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 per bambu. Untuk mendapatkan 1 kg keripik melinjo kering diperlukan biji melinjo sekitar 1,5 bambu dengan harga sekitar Rp18.000 dan harga jasa maksimal sekitar 30.000. Sehingga total modal maksimal yang harus disediakan dalam 1 kg keripik melinjo kering adalah sekitar Rp48.000. Sedangkan keuntungan yang didapat jika berhasil terjual maksimal per kilogramnya dengan harga Rp80.000, maka bisa mencapai Rp30.000 setelah dipotong ongkos kirim ke Banda Aceh sekitar Rp2.000.

Ternyata, jika kita mau memulai suatu usaha, maka peluang suksesnya perlahan-lahan pasti akan didapat. Benar saja, saya mendapat dukungan dari kakak yang berada di Banda Aceh. Kakak saya bersedia memasarkan keripik melinjo kering tersebut di kawasan Banda Aceh. Bahkan sekarang sudah ada satu restoran di Banda Aceh yang bersedia membeli dan berlangganan keripik melinjo kering dari kami. Harapannya, semoga saja penjualan keripik melinjo kering yang kami usahakan ini bisa terus meningkat, semakin berkualitas, banyak peminat, dan terus berkembang.

Penjualan keripik melinjo kering hanyalah salah satu peluang usaha yang bisa saya lakukan saat ini. Saya yakin, di luar sana pasti masih banyak peluang usaha lainnya yang menjanjikan. Saya akan terus membaca dan memantau setiap peluang usaha yang ada, sehingga tidak ada alasan lagi bagi saya untuk mengeluh dengan berbagai macam kebutuhan kuliah daring dan hambatan Covid terhadap keadaan ekonomi keluarga. Semoga.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved