Pojok Humam Hamid
MSAKA21: Aceh, Gayo, Alas - Akar Bahasa dan “Kain Palekat Satu Kodi”
Hubungan antara masyarakat Aceh, Gayo, dan Alas kerap dipahami dalam kerangka geografis semata. Satu di pesisir, dua di pedalaman.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
BAYANGKAN sehelai kain palekat yang datang dari Madras, yang dulu sangat disukai masyarakat Aceh, dibungkus satu kodi dalam warna-warna lembut yang tampak serupa.
Bukan perbedaan corak halus yang menarik perhatian, tetapi keseragaman jumlahnya. Satu kodi--dua puluh helai--terikat dalam satu bundel yang utuh.
Begitulah hubungan antara Aceh pesisir, Gayo, dan Alas.
Ketiganya tampak berbeda dalam logat, adat, dan pakaian luar, tetapi diikat oleh sesuatu yang lebih dalam.
Ada akar sejarah, bahasa, dan kebudayaan yang menjadikan mereka satu “kodi” masyarakat yang hidup dari tanah yang sama dan saling bernafas dalam irama masa lalu yang bertumpuk.
Hubungan antara masyarakat Aceh, Gayo, dan Alas kerap dipahami dalam kerangka geografis semata.
Satu di pesisir, dua di pedalaman.
Namun, studi linguistik yang dilakukan oleh Juni Ahyar (2020) pengajar Universitas Malikusaleh, menyingkap kedalaman lain dari hubungan itu.
Ia menggunakan analisa leksikostatistik yakni metode dalam linguistik untuk mengukur kekerabatan bahasa dengan membandingkan daftar kata dasar yang sama makna di dua atau lebih bahasa.
Semakin banyak kata yang mirip bentuk dan artinya, semakin dekat hubungan kekerabatannya.
Teknik ini sering dipakai untuk menelusuri sejarah dan asal-usul bahasa.
Dengan pendekatan leksikostatistik terhadap 300 kata dasar--kata-kata yang paling resisten terhadap perubahan karena mencakup bagian tubuh, elemen alam, relasi keluarga, angka, dan aktivitas dasar--Ahyar menunjukkan bahwa ketiganya lebih dari sekadar bertetangga.
Mereka adalah rumpun yang lahir dari lapisan migrasi dan bahasa yang bertaut, terjalin sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam.
Dari hasil perbandingan tersebut, ditemukan bahwa bahasa Gayo dan Aceh memiliki kemiripan sekitar 57 persen, Aceh dan Alas 53 % , dan Gayo dan Alas 62 % .
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-ahmad-humam-hamid-terbaru-2023.jpg)