Senin, 20 April 2026

Poligami Sesama Jenis di Thailand, 3 Pria Ini Menikah dalam Satu Ikatan

Keberanian ketiga pria tersebut mengikat tali ikatan resmi mendapat pujian para netizen di Thailand.

Penulis: Faisal Zamzami | Editor: Faisal Zamzami
FACEBOOK via ASIA ONE
Tiga pria di Thailand memutuskan untuk menikah dalam satu ikatan pada 8 Desember di Chanthaburi, Thailand.(FACEBOOK via ASIA ONE) 

"RUU Kemitraan Sipil adalah langkah penting bagi masyarakat Thailand dalam mempromosikan hak yang sama dan mendukung hak pasangan sesama jenis untuk membangun keluarga dan hidup sebagai mitra," katanya dalam unggahan Facebook.

RUU tersebut mendefinisikan mitra sipil sebagai pasangan yang lahir dengan jenis kelamin yang sama.

Untuk mendaftar, pasangan harus berusia minimal 17 tahun dan setidaknya salah satu dari pasangan tersebut berkewarganegaraan Thailand.

Mereka yang berusia di bawah 17 harus mendapat izin dari orang tua atau wali sah mereka.

Namun, RUU ini bukan berarti menyetujui pernikahan sesama jenis.

Dan amandemen hukum yang diusulkan tidak memberi pasangan sesama jenis semua hak dan manfaat yang diberikan kepada pasangan menikah.

Komunitas LGBTQ di Thailand mengatakan RUU itu tidak cukup jauh karena kemitraan sipil bukan pernikahan.

"RUU Kemitraan Sipil bukan tonggak untuk kesetaraan gender di Thailand, melainkan hambatan untuk mencapai hak pernikahan untuk semua," kata Tattep Ruangprapaikitseree, aktivis LGBTQ dan Sekretaris Jenderal organisasi pemuda progresif, Free Youth.

Tanwarin Sukkhapisit, pembuat film dan transgender pertama di parlemen di bawah Move Forward Party (MFP), menyebut RUU tersebut tidak termasuk memberikan hak untuk tunjangan pasangan, seperti pembebasan pajak, tunjangan jaminan sosial, dan hak medis.

"Mengapa tidak menyebut semua orang, baik pasangan tradisional maupun nontradisional, sebagai mitra yang sudah menikah, mengapa istilah khusus harus diberikan kepada LGBT sebagai 'mitra sipil'," kata Tanwarin.
 

MFP berkampanye untuk mengubah UU Perkawinan di Thailand dengan mengubah istilah 'suami dan istri' menjadi 'pasangan menikah' agar menjadi lebih inklusif dari semua identitas gender.

"Ini adalah bentuk lain diskriminasi yang menyamar," kata Tanwarin. "Kami tidak ingin sesuatu yang istimewa, kami hanya ingin diperlakukan seperti orang lain."

Draf RUU masih harus melalui dengar pendapat publik dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Thailand akan merapatkan dan memilihnya.

Jika lolos RUU akan dibawa ke Senat untuk pemungutan suara lain, proses yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.(Serambinews.com/Kompas.com)

Baca juga: 5 Fakta Wanita Hina Pancasila Ditangkap Polisi, Pernah Injak Merah Putih hingga Diduga Gangguan Jiwa

Baca juga: Militer China Makin Kuat, Ini Deretan Kekuatan Tempur baru Tahun 2021 

Baca juga: Ayo Dukung Finalis Putra-Putri Kebudayaan Nusantara asal Aceh Jadi Juara Favorit Medsos

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved