Tiga Nelayan Jadi Saksi Sriwijaya Air Jatuh, Air Laut Naik 15 Meter sehingga Mengira Ada Tsunami

Ia mengatakan kondisi cuaca sekitar Kepulauan Seribu saat itu sangat gelap dan hujan, sehingga ia tidak mencari tahu lebih lanjut suara dentuman.

IST
KRI Teluk Gilimanuk-531 melakukan pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1/2021). Beberapa serpihan pesawat berhasil ditemukan oleh penyelam TNI AL. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak jatuh di gugusan Kepulauan Seribu, Utara Jakarta, pada Sabtu (9/1/2021) siang.

Sejumlah warga di sekitar pulau Laki dan pulau Lancang, Kepulauan Seribu, ternyata sempat menjadi saksi bagaimana pesat jenis Boeing 737-500 itu jatuh menghujam laut di perairan Kepulauan Seribu.

Para saksi itu di antaranya adalah tiga orang nelayan yang sedang mencari ikan di sekitar pulau Laki dan pulau Lancang. Kesaksian ketiga nelayan itu disampaikan kepada Polres Kepulauan Seribu sesaat usai kejadian naas tersebut.

Meski ketiga nelayan itu tidak melihat langsung bentuk pesawat tersebut jatuh, namun mereka menyaksikan bagaimana air laut naik hingga sekitar 15 meter sesat setelah pesawat itu jatuh.

Baca juga: Suara Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air Menghujam Laut, dan Menggetarkan Rumah di Pulau Lancang

Baca juga: Kisah Saksi Mata saat Sriwijaya Air 182 Jatuh ke Laut, Ombak Naik: Kami Lagi di Tengah Laut

Baca juga: Ungkapan Duka dan Doa Ustadz Adi Hidayat untuk Korban Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182

"Kemarin ada tiga nelayan memberikan informasi awal pada saat jatuhnya pesawat ini karena mereka tidak melihat langsung pesawat jatuh itu tidak," kata Kapolres Kepulauan Seribu AKBP Eko Wahyu di Kapal KN SAR Wisnu, Kepulauan Seribu, Senin (11/1).

Dijelaskan Eko, ketiga nelayan itu bercerita kondisi perairan saat itu tengah dilanda hujan lebat sekitar pukul 15.00-15.30 WIB. Seketika aktivitas mereka terhenti karena mendengar suara dentuman keras. Ketiga nelayan itu mengaku mendengar jelas dentuman karena jarak mereka hanya sekitar 100 meter dari lokasi pesawat tersebut jatuh. Yang semakin meyakinkan, adanya air naik beserta serpihan logam ke atas setinggi 15 meter.

"Nelayan itu mendengar suara dentuman keras sekali, terus air naik ke atas sampai 15 meter. Situasi saat itu hujan deras, dia perkirakan antara 100 sampai 150 meter jaraknya dengan lokasi. Di hujan deras sebenarnya untuk penglihatan jarak pandang itu nggak bisa terlalu keliatan," kata Eko.

Awalnya, ketiga nelayan itu tidak curiga dentuman keras itu merupakan pesawat Sriwijaya Air SJY-182 rute Jakarta-Pontianak yang terjatuh. Ketiga nelayan itu justru khawatir adanya tsunami.

"Dikira apa ini, bencana tsunami dan sebagainya ternyata setelah air itu naik ada serpihan-serpihan itu diduga ada jatuh kapal, mereka melaporkan Kapospol, kemudian lapor ke Kapolsek, akhirnya kan kita tindak lanjuti laporan ke atas," jelasnya.

Baca juga: Teal Group Sebut Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air Bukan Karena Cacat Desain

Baca juga: Kebaikan Captain Afwan Pilot Sriwijaya Air Viral, di Mata Rekan Kerja: Baik dan Gemar Ajak Sholat

Baca juga: Teal Group Sebut Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air Bukan Karena Cacat Desain

Baca juga: Kesaksian Penyelam, Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Hancur Berkeping-keping di Bawah Laut

Dari laporan itu, tim langsung mengecek kejadian awal mula dugaan pesawat jatuh itu. Dan, ditemukan kabel-kabel. "Kecamatan Polsek Kepulauan Seribu Selatan turun langsung dengan alat seadanya dengan para nelayan ya yang ditemukan kabel-kabel itu, serpihan kabel-kabel ada empat bagian itu sore itu," ujarnya.

Usai kejadian, kata Eko, tidak ada satu pun nelayan yang berani mendekat ke lokasi kejadian. Ia juga tak mengetahui apakah ada penumpang yang masih hidup sesaat usai kejadian.

"Mereka nggak berani mendekat beralasan dikira musibah tsunami atau apa, mereka masih bertanya-tanya apa ini, makanya mereka langsung cepet kembali, langsung lapor," ujarnya.

Selain tiga nelayan yang sedang mencari ikan, kesaksian mengenai jatuhnya pesawat Sriwijaya Air juga disampaikan oleh Amirtang, seorang nelayan di Pulau Lancang. Pada saat kejadian, Amirtang sedang berada di rumahnya di Pulau Lancang. Ia mengaku mendengar suara dentuman keras sekitar pukul 15.00 WIB, ketika pesawat Sriwijaya Air SJ-182 diduga jatuh yang diperkirakan di perairan tersebut.

"Dengar suara dentuman keras sekitar jam 3 kurang, dentuman aja gitu," kata Amirtang.

Ia mengatakan kondisi cuaca sekitar Kepulauan Seribu saat itu sangat gelap dan hujan, sehingga ia tidak mencari tahu lebih lanjut perihal suara dentuman tersebut. "Di luar gelap sekali waktu itu, dan cuaca hujan, cuman dengan suara dentuman keras," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved