Selasa, 2 Juni 2026

Internasional

Lebanon Lockdown Selama 11 Hari, Rumah Sakit Penuh Sesak Pasien Virus Corona

Pemerintah Lebanon kembali memberlakukan lockdown atau penguncian 11 hari, mulai Kamis (14/1/2021).

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Reuters
Orang-orang berbelanja di supermarket menjelang penguncian yang diperketat dan jam malam untuk mengekang penyebaran Covid-19 di Beirut, Lebanon, Rabu (13/1/2021) 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Pemerintah Lebanon kembali memberlakukan lockdown atau penguncian 11 hari, mulai Kamis (14/1/2021).

Hal itu sseiring makin meningkatnya lonjakan kasus virus Corona dalam beberapa hari terakhir ini.

Bajkan, ratusan tempat tidur rumah sakit perawatan intensif yang didedikasikan untuk pasien COVID-19 penuh.

Dilansir ArabNews, Kamis (14/1/20210), para dokter mulai memeriksa pasien di dalam ambulans.

Bahkan, mereka yang membutuhkan oksigen untuk menyediakan dengan biaya sendiri, dan tinggal di rumah.

Baca juga: Lebanon Mengadu ke PBB, Minta Tindak Israel Langgar Wilayah Udaranya

Menurut statistik Kementerian Kesehatan Lebanon, ada 618 kasus kritis dan 80.386 kasus aktif hingga Rabu (13/1/2021) pagi.

Sedangan jumlah kasus harian yang tercatat belum turun di bawah 4.300 selama berhari-hari.

Infeksi ini terjadi seminggu setelah interaksi sosial selama perayaan Tahun Baru.

Keadaan darurat kesehatan, penguncian total dan jam malam diberlakukan dari 14-25 Januari 2021.

Sebuah periode yang dapat diperpanjang, untuk menghadapi gelombang COVID-19 paling berbahaya.

Lebanon telah merekam kasus pertama sejak akhir Februari 2020 lalu.

Angkatan Bersenjata Lebanon, bersama dengan aparat keamanan akan memastikan penerapan jam malam di seluruh Lebanon.

Dengan mencatat, ini adalah pertama kalinya tentara diminta untuk mengambil bagian dalam langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus.

Di bawah keadaan darurat, “pasukan keamanan dan otoritas kehakiman memiliki hak untuk secara tegas menegakkan hukum.

Termasuk menghukum rumah sakit yang menolak menangani kasus-kasus mendesak, termasuk Cirus corona.

Juga menghukum mereka yang tidak mematuhi langkah-langkah pencegahan.

Baca juga: Jet Tempur dan Drone Israel Terbang Rendah di Beirut, Warga Lebanon Mulai Gelisah

Kemudian mengenaka denda bagi mereka yang melanggar tindakan ini dan berkontribusi pada penyebaran virus.

"Dewan Pertahanan Tertinggi melarang orang turun ke jalan, dengan beberapa pengecualian untuk tenaga medis, staf perawat, diplomat, pelancong, dan karyawan institusi yang memerlukan administrasi minimum," kata pejabat Lebanon.

Namun, katanya, toko makanan dan grosir hanya akan beroperasi melalui layanan pengiriman.

Perbatasan darat dan laut Lebanon juga ditutup mulai Kamis (14/1/2021).

Bandara akan beroperasi pada kapasitas operasional terendahnya.

Hanya penumpang transit dengan tiket yang menunjukkan tanggal yang diizinkan masukke Lebanon melalui perbatasan darat.

Menteri Kesehatan Hamad Hassan mengumumkan pada Rabu (13/1/20210), dia dikarantina sambil menunggu tes yang diperlukan.

Setelah tiga staf kantornya dinyatakan positif Covid-19, bergabung dengan 18.715 orang lainnya yang telah dipaksa untuk karantina selama 2 hari terakhir.

Ini terjadi pada saat semua mata tertuju pada pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah tersebut setelah dikritik karena kebingungan di minggu-minggu sebelumnya.

Negara itu juga gagal membentuk pemerintahan yang mampu memimpin penyelamatan Lebanon dari berbagai krisis di luar virus Corona.

Statistik Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 45.445 kasus positif Covid-19 tercatat dalam 12 hari pertama Januari 2020, sementara 53.559 kasus tercatat sepanjang Desember 2020.

Firas Al-Abyad, Direktur Rumah Sakit Universitas Pemerintah Hariri, mengatakan sejumlah besar orang telah terjangkit virus Corona.

Baca juga: Patung Perunggu Jenderal Iran di Lebanon Memicu Kontroversi

"Sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit, yang berada pada kapasitas maksimum mereka," katanya.

"Yang membuat kami takut, telah mencapai titik yang tidak ingin kami capai," tambahnya.

Dia memperkirakan jumlah orang yang membutuhkan perawatan intensif akan berlipat ganda minggu depan.

"Yang berarti kita sedang menuju bencana besar," ujarnya.

Dr. Abdul Rahman Al-Bizri, kepala Komite Ilmiah Kementerian Kesehatan untuk Memerangi Pandemi Virus Corona, mengatakan:

“Saya berharap penguncian total yang ketat akan membatasi penyebaran virus."

"Namun, saya takut untuk kembali ke keadaan semula."

"Membuka negara tanpa tindakan apapun setelah penguncian selesai harus dicegah."

Al-Bizri adalah orang yang ditugaskan untuk berkomunikasi dengan Pfizer, atas nama Kementerian Kesehatan, untuk mendapatkan vaksin virus Corona.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved